Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Toko Sepatu Sajid

Duito Susanto • Minggu, 22 September 2024 | 08:09 WIB
Photo
Photo

Cerpen Karya: Fajar Djafri
 
Menjadi viral di media sosial, banyak yang bisa dilakukan. Membuat parodi menirukan ucapan seorang tokoh, konten makanan yang aneh dan konyol, ramai-ramai melakukan kegiatan sekolah, menjahili atau mengerjain rekan-ngeprank, ataukah memberikan kejutan rezeki kepada seseorang yang tidak dikenal. Semua tingkah dan ulah yang diunggah di media sosial akan mendapat respons dari netizen, dengan komentar-komentar berbeda.

Bagi Sajid, berbeda. Pemuda yang kurang aktif berinteraksi dengan media sosial, meskipun beberapa akun miliknya selalu tersambung jaringan on-line, dengan pengikut terbatas, posting-posting berita dan foto yang masuk dalam akunnya, tanpa komentar dan like. Sekiranya terdapat aturan media sosial, bahwa pemilik akun yang selama beberapa bulan jarang berkomentar akan ditutup, maka akun Sajid lah yang terhapus lebih dahulu.

“Aku lebih senang berjualan sepatu, ketimbang konten lucu-lucuan,” ucap Sajid saat seorang jurnalis koran ternama mendatangi lapaknya di lantai dasar pusat perbelanjaan di wilayah Muara Rapak. Rinno, begitu id-card yang tergantung di lehernya.

“Mas bisa unggah foto-foto sepatu di akunnya. Biar,seluruh dunia dapat melihat jualannya,” imbuh Rinno duduk di lapak Sajid sembari mencoba sepatu olahraga berwarna hitam.

“Wah, percuma, mas. Harga sepatu saya kalah bersaing harga dengan penjualan toko on-line. Saya sudah beli mahal, tapi kalo di jual murah, ya, malah buntung.”

“Sudah pernah dicoba?” Rinno meminta sepatu ukuran 40 dengan desain lain.

“Sudah! Tapi kata pembeli, lebih mahal dari toko on-line!” jawab si penjual dengan memberikan model terbaru. Rinno merasa cocok dengan model yang baru. Dia lalu menanyakan harganya.

“Betul juga. Harganya agak mahal,” Rinno terkejut. Sepasang sepatu olahraga yang didengar dibanderol Rp. 450.000, untuk kualitas lokal.

“Itu harga modal, Mas. Sudah seminggu belum ada yang laku,” ujar Sajid menghela napas. Wajah lelaki itu memelas. Sedih. Tetapi dia tidak ingin mengemis, dan memaksa Rinno membeli sepatu yang dirasa cocok di kakinya.

“Ya, kalo rezeki saya belum berpihak di hari ini, mungkin besok atau lusa,” hibur Sajid tidak berharap. Dia lalu memasukkan kembali sepatu dalam kotak, dengan Ikhlas. Senyumnya mengembang.

Iba, Rinno akhirnya mengeluarkan uang dari saku. Kemudian kotak sepatu hitam berpindah, masuk tas ransel. Sebelum berpisah Rinno berpesan, ”Bolehsaya main ke sini lagi?”

“Boleh. Mau beli sepatu model apa lagi? nanti saya carikan,” ucap Sajid senang.

“Saya mau yang beda model dan warna,” lirih Rinno sembari berlalu. Sajid menepuk jidat.

***

Februari 2024 di pekan terakhir,
iseng Rinno mengintip akun media sosial @Tokosepatu_sajid yang sudah diikuti sejak membeli sepatu olahraga hitam di pengujung Desember tahun lalu. Dan hari inipun, tidak ada yang berubah, kecuali ratusan posting dan berita serta publikasi, tanpa keterangan, dihapus atau berhenti mengikuti. Tanpa sekalipun mempublikasi toko dan sepatu dagangan.

“Kalo tidak laku, saya bisa rugi,” imbuh Sajid saat Rinno datang ke lapaknya dan menawarkan kerja sama.

“Ini upaya agar toko dan sepatumu laris. Setidaknya dikenal se-kota Balikpapan dan Kalimantan Timur,” sahut Rinno. Menurut jurnalis ini, ide tersebut belum ada yang berpikiran ke situ.

“Istilahnya inovasi. Berupaya tidak memberatkan, tetapi memberi manfaat bagi yang menonton tayangan ini,” sambung Rinno membujuk si pemilik toko.

“Apa kata orang yang melihat liputan ini! Sajid itu sudah kurang akalkah, atau sudah gila?”

“Mungkin, bagi yang belum tahu. Tetapi yang sudah paham, maka setuju dengan liputan ini. Ujung-ujungnya toko dan sepatu jualanmu dicari orang,” ingsut Rinno terus ‘merusak’ akal sehat Sajid.  

Jujur, tiada maksud merugikan. Semata-mata agar Sajid berinovasi dan bergerak. Sementara duduk menunggu pelanggan yang lalu lalang adalah pekerjaan yang menjenuhkan. Menghabiskan waktu dan usia.

Sajid masih berpikir dengan inovasi yang menurutnya di luar nalar.  Rinno menghela napas, “Saya hanya ingin bantu, tapi jika tidak berkenan, ya, tidak apa-apa.” Dia pun menyandang tas punggung dan hendak beranjak menjauh.

“Tunggu! Tiada ada hasil tanpa dibarengi usaha.”

Rinno menjentik tangan, isyarat membenarkan simpulan penjual sepatu ini. Sajid setuju.

“Saya akan liput dan masukkan di media, sekaligus promosi toko. Oke!” Keduanya saling berjabat tangan, bertanda inovasi segera dikerjakan
 
***
Jelang sore. Sajid telah menunggu di lapak milik. Infonya setelah liputan di Kelurahan Prapatan, Rinno akan menjalankan aksinya. Dibantu Alandra dan Dimas, permintaan yang diinginkan Rinno telah disiapkan.

Beberapa pasang sepatu dikeluarkan dari kotak. Lalu berjejer berpasang-pasangan.
Rinno tiba, dan langsung mengeksekusi. Misi pertama, Sajid diminta sebagai model bagi toko sepatunya. Melalui gawai di tangan, Rinno merekam aktivitas Sajid. Oleh Alandra dan Dimas berpura-pura pembeli yang mampir dan menawar sepatu.

Hasilnya,keduanya membeli dan membawa pulang sepatu. Liputan video diedit agar hasil terbaik, lalu diunggah di media sosial yang dipunyai Sajid dan Rinno. Juga berupa posting promosi produk.

Dua hari kemudian, misi kedua dilanjutkan. Sajid, Alandra dan Dimas kembali beraksi. Tidak lagi membeli sepatu, melainkan menjalankan misi ekstrem. Bertiga dilatih kepercayaan diri sesuai arahan sutradara.

“Aku malu, dikira orang kurang waras?”

Dimas diminta Rinno memakai sepatu merah di kanan dan putih di kiri.

“Wih, bagus tuh. Bisa jadi contoh saat karnaval peringatan HUT RI yang ke-80,” jawab Alandra menimpali. Dia kayaknya cocok dengan pilihan warna ini.

“Bagiku, tidak rapi. Mengundang perhatian orang,” lirih Sajid mengikat tali sepatu putih, lalu berpindah ke tali sepatu merah.

“Mengundang perhatian, tetapi tidak merugikan orang lain, kan?” runut Rinno meyakinkan.

“Merugikan mata orang-orang yang melihat,” ujar bertiga kompak.

Sebelum beraksi, Rinno meminta para model percaya diri dan tidak malu dan mengikuti instruksi. Mereka saling menertawakan saat berdiri dan berjalan memamerkan perbedaan warna sepatu. Rinno pun ikut tertawa. Misi ini dilanjutkan.

“Kalian harus percaya diri dan tidak malu, karena sepatu ini milik kita dan bukan dari hasil curian. Maka santailah,” imbuh Rinno mengambil gambar bertiga yang sedang berjalan di koridor mall lantai atas.

Seminggu berlalu, sesuatu yang tidak biasa selalu mengundang penasaran. Postingan akun toko sepatu Sajid menjadi perbincangan netizen. Video berjudul “berjalan berbeda di mal” diperagakan Sajid, Alandra, dan Dimas yang memakai alas kaki warna merah di kanan dan putih di kiri, mendapat respons terbanyak dari netizen. Cibiran dan cacian serta dukungan pun memenuhi akun @Toko sepatu_Sajid.

“Terburu-buru sampai lupa kalo salah pake?”

“Dunia sudah tidak waras!”

“Wah, inovasi buat agustusan nih.”

“Bagus juga, tapi harus percaya diri.”

“Sudah pada hilang rasa malu.”
***

Media Balikpapan, 3 Mei 2024.
 
Peringatan Hari Sepatu Dua warna
Oleh: Prinno
 
Salah satu hari paling unik dalam setahun, hari sepatu dua warna dirayakan pada 3 Mei. Hari ini diciptakan untuk mendorong kita merangkul keunikan dan memamerkan kepercayaan diri. Hari ini diciptakan oleh Dr Arlene Kaiser, seorang pembicara publik dan pendidik yang menganggap unik sebagai hal yang serius. Pada hari ini, Anda harus mengenakan sepatu berwarna berbeda di setiap kaki Anda untuk menunjukkan penerimaan terhadap perbedaan kita sebagai manusia.

Menjadi unik tidak membuat kita berbeda, dan sesuatu yang tidak boleh diejek, melainkan dirangkul. Tidak ada yang lebih unik daripada dengan sengaja mengenakan dua sepatu yang tidak serasi, dan melenggang dengan nyaman.

Adalah Rizky Juliansyah, atlet cabang olah raga angkat besi yang bertanding dan mengenakan sepatu jingga dan biru. Dia berhasil meraih medali emas pertama Indonesia pada Olimpiade Paris 2024. Jadi jangan takut berbeda, Karena perbedaan itu indah. Apakah kalian berani? Jangan takut untuk tampil beda!
 
“Jual sepatu olahraga beda warna, kah?” ujar remaja di depan Toko Sepatu Sajid. (dwi)
 

Fajar Djafri
Aparatur Sipil Negara pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Balikpapan.

Editor : Duito Susanto