Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Parang Maya (1); Bayangan Tanpa Jejak

Duito Susanto • Minggu, 5 Januari 2025 | 07:15 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Cerita Karya: Rachmawati

Awal Luka
Senja itu berangsur menghilang, membawa malam dengan cepat. Langit di atas desa kecil di Kalimantan berubah menjadi kelabu, seolah menyerap setiap emosi yang sedang berkecamuk di hati Nindi. Gadis muda itu duduk di tepi ranjang kayu, membiarkan lengannya terkulai lemah di sisi tubuhnya. Di sudut ruangan yang hanya diterangi pelita kecil, ia memikirkan kejadian siang tadi, saat hatinya tercabik oleh ucapan seseorang yang selama ini ia percayai.


Andi. Nama itu menggetarkan hatinya, bukan karena cinta, tetapi karena amarah dan kekecewaan yang membara. Sejak kecil, mereka selalu bersama. Andi adalah temannya, sahabatnya, dan diam-diam cintanya. Nindi bahkan tak tahu kapan tepatnya ia mulai menyukai Andi—mungkin ketika ia membantunya membawa ember penuh air dari sumur, atau saat ia melindunginya dari anak-anak nakal di desa.
Tapi hari ini, semua rasa itu berubah menjadi kebencian.


Saat itu, di pasar desa yang ramai, Nindi membawa sekeranjang mangga dari kebun keluarganya. Ia menjajakan buah itu seperti biasa, berharap mendapatkan cukup uang untuk membantu ibunya membeli beras. Suara tawar-menawar pedagang dan pembeli mengisi udara, menciptakan harmoni khas kehidupan desa.


Namun, semua itu berubah ketika ia mendengar suara tawa yang begitu familiar.
“Andi, kenapa kau diam saja? Bukankah Nindi itu mudah sekali dipengaruhi?” suara seorang teman Andi terdengar nyaring.
“Benar, dia bahkan mau melakukan apa saja kalau kau minta. Nindi itu seperti boneka, kau tahu?” sahut teman lainnya.


Tawa pecah di antara mereka, tetapi suara Andi yang selanjutnya membuat dunia Nindi runtuh.


“Ya, dia memang seperti itu. Kalau aku mau memanfaatkan dia, aku bisa melakukannya kapan saja. Dia bahkan tidak akan sadar,” ucap Andi dengan santai.


Gelak tawa teman-temannya terdengar lebih keras, menggema di telinga Nindi. Ia berdiri tak jauh dari mereka, mendengar setiap kata yang diucapkan Andi. Tangannya gemetar memegang keranjang, dan hatinya terasa seperti dihancurkan ribuan duri.


Satu-satunya yang ia inginkan saat itu adalah lari. Meninggalkan semua suara tawa yang melukai hatinya.


Perasaan yang Berantakan
Di malam yang sunyi, setelah kejadian itu, Nindi duduk di sudut rumah panggungnya, membiarkan pikirannya terombang-ambing dalam rasa marah dan sakit hati. Udara dingin malam tidak mampu menenangkan amarah yang berkobar di dadanya. Ia memikirkan setiap kata yang Andi ucapkan, mencoba mencari alasan mengapa orang yang selama ini ia percayai tega menyakitinya seperti itu.


Apakah aku tidak berarti baginya? Apakah selama ini aku hanya bahan lelucon?
Nindi memeluk dirinya sendiri, membiarkan air mata mengalir bebas di pipinya. Di tengah rasa sakit itu, ia teringat kisah yang sering diceritakan oleh neneknya.


“Nindi, ada ilmu yang bisa membuat seseorang merasa apa yang kau rasakan. Ilmu itu disebut Parang Maya. Tapi ingat, ilmu itu tidak hanya menghancurkan orang lain, tetapi juga bisa menghancurkan dirimu,” kata neneknya saat ia masih kecil.


Saat itu, Nindi hanya menganggapnya sebagai cerita dongeng untuk menakut-nakuti anak kecil. Tetapi malam ini, cerita itu terasa seperti jawaban atas rasa sakitnya. Jika Andi bisa mempermalukan dan menghancurkan hatinya tanpa konsekuensi, maka ia harus membalasnya.


Mencari Jalan Keluar
Keputusan itu membawa Nindi ke rumah Pak Raga, dukun yang terkenal dengan kemampuan mistisnya. Pak Raga tinggal di tepi hutan, di sebuah rumah kecil yang terlihat seperti bagian dari kegelapan itu sendiri. Jalan menuju rumahnya dipenuhi semak belukar, dan suara-suara malam membuat langkah Nindi terasa semakin berat.


Ketika ia sampai di depan rumah itu, rasa takut mulai merayap di hatinya. Tapi ia mengingat kembali penghinaan Andi, dan keberanian itu kembali muncul. Ia mengetuk pintu kayu tua itu perlahan.
“Masuklah, Nindi,” suara serak terdengar dari dalam.


Jantung Nindi berdetak kencang. Bagaimana mungkin Pak Raga tahu siapa yang datang? Dengan ragu, ia mendorong pintu dan melangkah masuk.


Ruangan itu gelap dan dipenuhi aroma dupa yang menyengat. Di sudut ruangan, Pak Raga duduk bersila di atas tikar anyaman, mengenakan jubah hitam yang tampak seperti bayangan malam. Matanya tajam, seperti bisa membaca setiap pikiran yang ada di kepala Nindi.


“Kau datang untuk membalas dendam,” katanya tanpa basa-basi.
Nindi terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.


“Ceritakan padaku, apa yang membuatmu ingin menggunakan Parang Maya?”


Dengan suara bergetar, Nindi menjelaskan semuanya—tentang cinta yang ia simpan selama bertahun-tahun, tentang bagaimana Andi menghancurkan hatinya di depan banyak orang, dan tentang rasa sakit yang terus menghantuinya setiap malam.
Pak Raga mendengarkan dengan tenang. Setelah Nindi selesai bercerita, ia menghela napas panjang.


“Ilmu ini bukan untuk sembarang orang. Jika kau memilih jalan ini, kau harus siap menanggung segala akibatnya,” katanya.
“Saya siap,” jawab Nindi tegas.


Pak Raga mengambil segenggam abu hitam dari mangkuk kecil di dekatnya, lalu memberikannya kepada Nindi bersama selembar kain berisi mantra kuno.


“Gunakan ini di tengah malam. Bacalah mantra ini, dan bayanganmu akan menjadi pedang. Tapi ingat, sekali kau memulai, tidak ada jalan untuk kembali.”


Nindi menerima abu dan kain itu dengan tangan gemetar. Di hatinya, ada campuran rasa takut dan tekad yang membara.


Ritual Gelap
Malam itu, ketika desa telah terlelap dalam kegelapan, Nindi menyiapkan ritual seperti yang diajarkan oleh Pak Raga. Ia menyalakan lilin-lilin kecil di halaman belakang rumahnya, menciptakan lingkaran cahaya redup yang tampak seperti mata api. Di tengah lingkaran itu, ia meletakkan abu hitam di atas piring tanah liat.


Udara malam terasa dingin, tetapi keringat mengalir di pelipis Nindi. Ia mulai membaca mantra dari kain lusuh itu, setiap kata terasa berat dan aneh di lidahnya.


“Asap ini akan menjadi bayangan, bayangan ini akan menjadi pedang, pedang ini akan menusuk hatimu, Andi,” bisiknya dengan penuh dendam.


Angin tiba-tiba berembus kencang, memadamkan lilin-lilin di sekelilingnya. Dalam kegelapan itu, Nindi merasa ada sesuatu yang bergerak di sekitarnya, seperti bayangan yang hidup. Tetapi ketika ia membuka matanya, semuanya kembali sunyi. 

Apakah ini berhasil? pikir Nindi.
Namun, keesokan harinya, ketika Nindi pergi ke pasar, ia melihat Andi sedang berbicara dengan teman-temannya. Ia tampak sehat, bahkan lebih ceria dari biasanya.
Hati Nindi bergetar. “Apa yang salah?” bisiknya dalam hati.


Bayangan Tanpa Jejak
Pagi itu Nindi merasa seperti ada beban berat yang mengikat dirinya. Hari-harinya berjalan lambat, penuh dengan kegelisahan yang tak bisa dijelaskan. Setelah melakukan ritual malam itu, ia mengharapkan perubahan yang besar—keajaiban yang bisa menghancurkan Andi seperti yang dijanjikan Pak Raga. Namun, kenyataannya jauh dari itu. Andi, lelaki yang telah menghancurkan hatinya, tampak lebih ceria dari sebelumnya, lebih hidup, bahkan tidak menunjukkan sedikit pun tanda bahwa ia terganggu oleh apapun.


“Apakah aku gagal?” Nindi bertanya-tanya dalam hati. Ia berjalan menuju pasar dengan langkah yang lambat, tubuhnya terasa lelah seperti dihantam ribuan batu. Setiap kali bertemu dengan Andi, hatinya berdegup kencang, dan rasa kecewa itu kembali datang, menghantui.


Nindi berusaha menjaga jarak dari Andi, namun tak bisa menghindari tatapan mata lelaki itu. Andi terlihat tidak berubah—tetap dengan senyum manis dan cara bicara yang penuh keyakinan. Mereka sempat bertemu beberapa kali di pasar, dan setiap kali itu, Andi menyapanya dengan ramah, seolah tidak ada yang terjadi. Tak ada penyesalan, tak ada rasa bersalah di mata Andi, hanya tatapan biasa seperti dulu.


Hari demi hari berlalu tanpa perubahan signifikan. Rasa sakit yang dulu menguasai Nindi perlahan berubah menjadi rasa bingung dan frustrasi. “Mengapa ilmu itu tidak bekerja?” pikir Nindi. Ia kembali mengingat setiap detail dari ritual malam itu—kata-kata Pak Raga, abu hitam, mantra kuno. Semua terasa begitu nyata dan pasti, namun Andi tetap sama.


Sampai suatu sore, ketika Nindi sedang duduk di beranda rumah sambil menyisir rambutnya, ibunya datang dengan wajah khawatir.


“Nindi, kamu tidak seperti biasanya. Ada apa denganmu?” tanya ibunya dengan suara lembut.


Nindi menghela napas panjang, mencoba menghindari tatapan mata ibunya yang tajam. "Tidak ada, Bu. Hanya sedikit lelah."
Namun ibunya tidak begitu saja percaya. “Jika ada yang mengganggumu, ceritakanlah. Jangan dipendam sendiri, anakku.”


Nindi tahu ibunya peduli padanya, tetapi ia merasa malu untuk mengungkapkan apa yang sedang terjadi dalam hatinya. Setelah kejadian di pasar, perasaan malu bercampur dengan kemarahan begitu dalam. Namun, ia juga merasa bingung. Apa yang salah? Mengapa Parang Maya—yang seharusnya bisa mengancam Andi—tidak membuahkan hasil? (bersambung/dwi)

Editor : Duito Susanto