Sebuah Resensi Oleh: Inui Nurhikmah*
KALTIMPOST.ID - Berdasarkan judul, bisa saja Anda mengira bahwa buku ini adalah manual bagi pencari kerja. Namun, ternyata, isinya melulu fiksi.
Alkisah, Tomi kehilangan istrinya, Ovi. Tomi merasa harus menemukan pasangannya itu, karena dia memiliki ketergantungan finansial. Tomi pengangguran, dan Ovi-lah yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka berdua, mulai dari sewa rumah, makan-minum, pakaian, hingga membeli anjing idaman Tomi.
Belum terasa fiksinya?
Ovi hilang diculik bajak laut yang muncul dari dasar kolam renang. Tomi pernah memelihara seekor anjing bernama Ion yang bisa bicara, merokok, dan menemaninya menonton TV. Begitulah seterusnya, fantasi liar seorang Dadang Ari Murtono membersamai Anda di sepanjang cerita.
Inti novela ini sebenarnya singkat saja: usaha Tomi mencari Ovi, dilanjutkan mencari pekerjaan. Namun, di sepanjang waktu mencari istri dan pekerjaan itulah muncul banyak tokoh dan peristiwa, termasuk kilas balik awal Tomi berkenalan dengan Ovi.
Cerita dibuat berdasarkan lini masa, dimulai 5 Juni dan berakhir 26 Juni. Setelah Ovi menghilang, Tomi melacak ke kolam renang tempat sang istri terakhir berada. Tidak berhasil. Dia pun meminta bantuan Jo, temannya. Jo gagal membantu mencarikan Ovi, tapi menawarkan bantuan mencari kerja. Menurut Jo, setiap orang harus bekerja sesuai passion-nya. Lalu, pekerjaan apa yang cocok bagi Tomi yang memiliki passion duduk-dukuk?
Berpuluh karakter aneh muncul silih berganti di Buku Pegangan Mencari Kerja. Ada gumpalan daging yang keluar dari kubur pada malam hari, lalu menemui ayah ibunya. Ada anak yang selalu mengeluh, bahkan saat dilahirkan pun berkata “aduh”. Ada pria yang besar kepala setiap dipuji, sungguh-sungguh kepalanya membesar sekian milimeter. Ada perempuan blasteran ayam dan manusia, yang punya sayap dan bisa terbang.
Banyak peristiwa dan tokoh terasa absurd. Jika Anda membacanya dengan niat terlalu serius, mungkin akan merasa kesal. Namun, pandanglah buku ini sebagai karikatur dalam bentuk aksara: aneh, lucu, menghibur, sekaligus menohok. Kejadian dan karakternya ada di sekitar kita, tetapi dalam porsi yang dilebih-lebihkan.
Saya berpikir, kalau buku ini dijadikan animasi, pasti seru sekali!
Dadang adalah sastrawan yang telah menghasilkan banyak novel dan cerpen. Seperti karya lainnya yang memperoleh penghargaan, Buku Pegangan Mencari Kerja ini pun masuk dalam nomine Buku Sastra Pilihan Tempo 2024.
Ada yang unik dalam proses pembuatan buku ini, Dadang mengaku bekerja sama dengan artificial intelligence (AI). Satu bab teks diinput di AI, outputnya direspons Dadang; diambil, diubah, atau dibuang. Saya pribadi yang biasa membaca teks produk AI yang cenderung kering dan hambar, tidak mengenali ciri itu di novela ini.
Ketika menjadi narasumber pada acara Malam Diskusi Seni dan Sastra garapan Tirtonegoro Foundation, 22 Februari 2025 lalu, Dadang menyatakan buku ini adalah proyek pertama sekaligus terakhirnya bersama AI.
“Biasanya saya dapat menyelesaikan satu novel dalam dua bulan, bermitra dengan AI malah makan waktu satu tahun,” pungkas pria kelahiran Mojokerto yang sekarang berdomisili di Samarinda ini.
Saya rasa Anda perlu menyisihkan waktu untuk membaca Buku Pegangan Mencari Kerja, agar bisa merasakan apakah buku ini memang hibrida sastra dan teknologi yang patut dielukan atau dilupakan. (*)
*)Inui Nurhikmah, pernah bercita-cita jadi komikus dan komika, suka bermain harmonika tapi tidak becus dan peka. Waktu kecil punya penyewaan komik, dan lihatlah nasibnya kini, jadi pustakawan. surel: inui.nurhikmah@gmail.com Instagram: @inui.nurhikmah.