Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Gani dan Semut; Cerita Anak Karya May Wagiman

Redaksi KP • Minggu, 18 Mei 2025 | 07:34 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

KALTIMPOST.ID - “Buu–uu …, tolong! Ada semuu–tt!” Si gajah cilik berteriak.

“Gani, Gani!” Ibu membangunkan. “Bangun! Itu cuma mimpi.”

Gani mengucek-ngucek matanya. Ia segera berlari ke depan cermin, memastikan tidak ada semut-semut yang berlarian di badannya.

“Semut, `kan, kecil. Mereka bisa masuk ke dalam belalai dan juga telinga kita, Bu,” Gani berseru.

Ibu hanya bisa tertawa melihat ulah anaknya.

“Sudah, jangan terlalu khawatir. Ayo, cepat siap-siap ke sekolah.”

Hari itu Gani berangkat ke sekolah seperti biasa. Dalam perjalanan, sahabatnya, Oky si orang utan sudah duduk menunggu di pinggir sungai kecil.

Saat mereka berjalan bersama menuju sekolah Gani menceritakan mimpi buruknya kepada Oky yang mendengarkan dengan saksama. “Aku sering mimpi buruk juga, tapi biasanya cuma mimpi saja, kok.” Orang utan cilik itu menghibur sahabatnya.

Setelah bel pulang sekolah, guru mereka mengingatkan untuk berhati-hati di jalan karena angin bertiup semakin lama semakin kencang.

“Lihat! Cabang-cabang pohon itu seperti menari-nari,” kata Gani.

Saat melewati sungai kecil mereka melihat sekumpulan semut memegang erat helaian rumput sambil menundukkan kepala. Para semut akan menyeberang jalan setapak menuju sarang. Namun angin kencang menerpa tubuh kecil mereka dan membuat mereka hampir terbang. Bagaikan berakrobat, kaki-kaki kecil mereka terjulur ke atas.

“Tolong!” seru semut-semut itu.

Oky secepatnya menghampiri.

“Tolong, kami bisa terbawa angin.”

Oky lalu berseru, “Gani, cepat! Lindungi semut-semut ini dengan daun telingamu!”
Gani menelan ludah dengan gugup. Sekujur tubuhnya berkeringat dingin. Ia ingat mimpinya semalam.

“Aku takut dengan semut.” Gani berkata. Bola matanya bergerak cepat.

“Mereka bisa terbawa angin dan jatuh ke sungai,” seru si orang utan cilik.

Semut-semut itu semakin mempererat pegangan mereka.

Karena tidak ada waktu untuk berpikir lama, meskipun takut, Gani memberanikan diri mendekati kelompok semut dan menutupi mereka dengan hati-hati.

“Semua berkumpul di bawah!” seru Gani.
Kumpulan semut dan gajah cilik itu lalu berjalan perlahan menuju sarang. Sebelum Gani mengangkat dua daun telinganya, ia mendengar seekor semut hitam berkata.

“Terima kasih banyak untuk bantuanmu. Kita berteman, ya.”

“Iya. Sama-sama,” balas Gani. “Aku senang kalian aman sekarang.”

Gani dan Oky meneruskan perjalanan pulang. Angin masih bertiup kencang.

“Gani, meskipun takut, kamu tetap menolong. Berkat bantuanmu para semut bisa pulang dengan selamat,” seru Oky.

“Aku tidak takut lagi. Sekarang kita punya teman-teman baru. Terima kasih Oky sudah percaya padaku,” kata gajah cilik itu. (*)

Editor : Duito Susanto