Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Catatan Buku Puisi Kau Sedingin Pelabuhan dari Dahri Dahlan; Asyik, Puitis, Penuh Kosakata Tak Biasa

Redaksi KP • Minggu, 20 Juli 2025 | 07:58 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh: Sunaryo Broto*

KALTIMPOST.ID - Saya ketemu penulis buku ini, Dahri Dahlan, di acara Dialog Serumpun Borneo 2025 pada Juni lalu di Hotel Harris Samarinda. Waktu saya melihat di pojok pameran bukunya, Dahri yang memakai kaos dan rambut gondrongnya menyapa, lalu mengobrolah kita.

Lamat-lamat saya pernah dengar namanya pada WAG penulis JPK (Jaring Penulis Kaltim). Dia dosen di FIB Unmul dan istrinya alumni S2 Psikologi UGM. Lalu kita bicara ringan tentang puisi, sastra di Kaltim dan acara di Dialog Borneo nanti. Oh iya, dia juga jadi moderator pada satu sesi dan pembahas buku puisi Andria Septy pada sesi lain.


Saya ikuti acara yang membahas buku-buku puisi di Kaltim, termasuk buku puisi Andria Septy, Tata Laras Gema Rima, dan membandingkan puisi Chairil Anwar. Saya kenal Septy karena pernah satu tim dalam buku antologi puisi Entropi: Bontang tahun 2022 yang dikurasi oleh Joko Pinurbo dan koordinatornya Butet Kartarejasa.

Saya tertarik membeli buku kedua penulis ini untuk mengenal sebagian karya penulis Kaltim. Terlebih yang beda generasi dengan saya, seperti apa arah puisi generasi muda terkini dan bagaimana modelnya.

Buku Kau Sedingin Pelabuhan terbit pertama pada Oktober 2023. Penerbitnya Basa-Basi Yogya. Covernya menarik dengan gambar model digital botol di dasar laut dengan beberapa ikan kecil berenang. Bisa diduga penulisnya akrab dengan laut. Belakangan tahu, penulis asal Mandar, Sulbar. Bapaknya tukang membuat kapal. Masa kecilnya akrab dengan laut.

Tebal buku 92 halaman. Ada 71 puisi yang kebanyakan puisi pendek. Hanya 8 yang puisinya lebih dari satu halaman. Bahkan saking pendeknya ada yang tak ada narasinya, Melihat Istri Kelaparan. Hanya tahun pembuatan, 2023. Kesan selintas, puisi pendek, penuh metafora, tak terlalu jelas kesimpulannya, perlu meraba-raba alias multitafsir, temanya akrab dengan kehidupan keseharian, meja, kekasih, cermin, di tepi Mahakam, Kalimantan, di cafe, segelas teh, sepatu, biskuit, istri, ayah, ibu, teman, pohon, penyair, puisi dan sebagainya. Beberapa ada catatan kaki. Satu dua dengan keterangan pernah dimuat di sebuh harian atau penerbitan. Yang lain terjemahan bahasa. Pertanyaan kecil, apa perlu puisi diberi catatan kaki untuk menjelaskan maksudnya, kecuali keterangan pernah dimuat di mana he..he..

Puisi pertama berjudul Pandangan Pertama. Kita telah saling menyentuh/separuh nasib kita yang asing. Dan harapan-harapan yang belum matang. Puisi 4 baris yang menimbulkan tanya. Apa maksudnya? Multitafsir. Kata Mas Jokpin sewaktu di Bontang, puisi yang bagus itu tak ada kesimpulan. Multitafsir. Supaya pembaca ada ruang berpikir. Lalu beliau mengomentari puisi saya karena saya di dekatnya, sebaiknya dipotong 3-4 baris terakhir supaya tidak jelas dan menimbulkan tafsir lain.

Puisi kedua, Makan Malam Pertama. Masih memakai judul pertama he..he.. Puisi ke-3, Di Meja menarik. Tangan kita bersentuhan/di atas. Tidak sengaja tetapi/mendebarkan. Seperti naga yang/membuka mata.
Tangan bersentuhan itu mendebarkan ternyata. Tangan siapa saja? Mendebarkan itu seperti naga membuka mata. Seperti apa? Apa setelah itu naga membuka mulut dan mengeluarkan api? Bagaimana kalau naga itu tertawa? Atau kalau kita jauh he..he..? Naga itu binatang mitologis, tidak nyata tetapi bisa untuk pengandaian. Ini menariknya. Imaji penulis bisa lari ke mana-mana.

Ada beberapa penggalan kata yang menarik. Diafragma Melankolia II. …ludah yang kutelan seperti kura/kura tua. Ini malam apa siapa/peduli. Setelah lampu pada/mata tertutup. Begini rupanya/warna nasibku. Beberapa puisi -nantinya- suka memakai kata seperti. Kura-kura tua sebagai simbol sangat lambat? Lampu terakhir padam dan mata tertutup menandakan gelap warna nasib? Juga di akhir puisi Segelas Sereal… Makan/ minum sereal seperti tiba dalam tentram meditasi.

Puisi kesekian dalam rentang lama menulis, 2018-2023. Ketika Kamu Berhenti di Depan Akuarium. … menatap dalam-dalam ke dalam/ikan, ke dalam akuarium -penjara/kecil di dalam rumahmu, yang/kamu rawat dengan hati-hati. Penjara kecil di dalam rumahmu/yang memerangkap pertanyaan/pertanyaanmu. Artinya kamu meski gelisah diam saja, tak banyak bertanya, tidak kritis? Ini meledek? Atau menampilkan ironi? Asyik juga mengulik satu-satu he..he.. Puisi Resonansi juga menarik untuk menangkap maksudnya.

Rendezvous Menjauh. Hanya derik tertatih di leher/kemudi, kawan bisu menjelang/haluan. Kau sedingin pelabuhan. Inilah -mungkin puncak- multitafsirnya. Makanya dijadikan judul buku. Silakan diraba-raba maksudnya. Apa puisi begini seperti yang disebut puisi “gelap”nya Afrizal Malna?

Tak semua “gelap” atau multitafsir. Puisi Sepasang Converse Putih jelas dan enak dinikmati. … bahwa kamu harus selalu berdiri di tempat yang tepat. Puisi Dokumen Kampung Halaman juga jelas deskripsinya. Puisi Bagian Paling Menyenangkan Ketika Memotong Ayam Jelang Lebaran juga unik penggambarannya. Puisi Cita-Citaku bisa menggambarkan kenangan cita-cita masa kecil yang ternyata tidak atau belum dicapai. Ternyata cocoknya bidang lain. Yang penting bahagia.

Ada yang menarik dari penggalan-penggalan puisinya. Puisi Filsafat Pertanyaan ada yang menarik. … setiap pertemuan adalah pertanyaan/penting. Tetapi apa yang berharga/dari sebuah pertanyaan selain/waktu untuk menjawab. Puisi Di Atas Sepeda Motor. … apa yang sebenarnya kita cemaskan/pada nasib yang tak sendiri. Setuju. Iya nasib kan saling berhubungan dengan yang lain, mengapa kita cemaskan.
Ada yang sentilan tetapi halus. Harus mengandaikan dulu pada sepotong donat he..he.. Puisi Sepotong Donat. … selama ini kita membawa/kekosongan. Seperti walikota/gemar menjanjikan sesuatu yang/tidak ada. Dan kita memilihnya. Bagaimana kalau walikota diganti bupati, gubernur atau presiden he..he..

Rasanya puisi-puisi lainnya mirip-mirip itu. Dan itu menarik. Tidak salah. Tak ada yang salah. Perlu beberapa waktu untuk menangkap maksudnya. Mungkin tak semua pembaca bisa.

Pada empat puisi terakhir tentang dunia puisi dan penyair, Puisi Tanpa Bait Terakhir, Penyair, Puisi dan Untuk Apa Menulis Puisi? Mungkin tema ini kegiatan yang paling nyaman yang dilakukan penulis. Ketimbang, misalnya membuat perahu. Puisi paling singkat kedua, Penyair. Penyair adalah penyedia air. Bebas dan multitafsir. Mengingatkan puisi pendek paling terkenal dari Sitor Situmorang, Malam Lebaran. Bulan di atas kuburan.

Puisi berjudul Puisi. Kata-kata adalah anak/yang pulang dan lekas/dimandikan oleh penyair. Ia lalu mengabdi dalam/benak setiap pejalan kaki (2013-2023). Perlu sepuluh tahun untuk merenungkan ini. Mungkin puisi ini bisa mewakili buku ini meski penulis menyukai judul yang lain. Tugas penyair menangkap kata-kata dan memandikannya supaya wangi. Mencari diksi yang tepat. Menangkap momentum dan menggambarkan deskripsinya. Bisa dengan metafora, simbol atau sejelasnya. Tak ada yang salah. Yang penting terus berkarya. Memanfaatkan waktu yang ada.

Secara keseluruhan buku ini asyik. Puitis dengan pilihan kosakata yang tak biasa. Dengan beberapa metafora. Meski masih juga ada kesalahan typo, tetapi minimal. Penulis masih muda dan masih dapat menjanjikan karya selanjutnya.

Hanya sayang buku ini tak ada ilustrasinya sama sekali. Coba kalau diberi sketsa hitam putih untuk beberapa puisi yang menonjol. Sketsa juga bisa multitafsir. Siapa tahu bukunya lebih hidup dan bisa masuk nominasi atau juara Kusala Sastra Khatulistiwa award. Atau hari Puisi atau Kantor bahasa. Senang sekali bila bisa kerja sama membuat sketsanya. (*)

*)Sunaryo Broto, pensiunan dan pecinta buku, tinggal di Bontang.

Editor : Duito Susanto