KALTIMPOST.ID - “Beli kue, Om? Ada pisang goreng dan donat,” pelan suara seorang bocah. Dia berdiri di depan pagar, memakai kaus kuning dan rok hitam. Di tangannya tergantung keranjang plastik.
Aku menggeleng. Ia mengangguk sopan dan menjauh. “Eh, sebentar!” aku memanggil. “Aku mau.”
Bocah itu mendatangiku dan mengambil serbet penutup keranjangnya. “Satu biji seribu,” jelasnya. Aku memilih lima biji kue dan memberikan uang lima ribu rupiah.
***
“Beli kue, Om? Ada pisang goreng dan donat,” pelan suara seorang bocah.
“Kemarin ‘kan sudah,” jawabku, ketika melihat bocah berkaus kuning dan rok hitam yang menenteng keranjang plastik di depan pagar rumahku.
Bocah itu tersipu, lalu membalikkan badan dan menjauh. “Eh, sebentar!” aku memanggil. “Aku mau.”
Bocah itu mendatangiku dan membuka keranjangnya. “Satu biji seribu,” jelasnya.
“Yang kamu jual selalu pisang goreng dan donat?” tanyaku.
“Iya, Om.”
“Kenapa?”
“Mama saya bisanya bikin kue itu saja.”
“Oooh …”
***
“Beli kue, Om? Ada pisang goreng dan donat,” pelan suara seorang bocah.
“Boleh, ayo ke sini,” jawabku.
Bocah berkaus kuning dan rok hitam yang membawa keranjang plastik itu melintasi pintu pagar rumahku.
“Rumahmu di mana?” tanyaku.
“Di Gang Haji Ridwan.”
“Oh, enggak jauh dari sini, dong.”
Bocah itu mengangguk.
“Namamu siapa?” tanyaku.
“Bunga, Om.”
***
“Beli kue, Om? Ada pisang goreng dan donat,” pelan suara seorang bocah.
“Sini, masuk saja.”
Bocah berkaus kuning, rok hitam, dan menenteng keranjang plastik itu, mendekatiku.
“Anakku suka sama donatmu. Ini kubeli sepuluh biji.”
“Terima kasih, Om.” Bocah itu tersenyum gembira.
“Kamu sekolah?” tanyaku.
“Iya, Om.”
“Kelas berapa?”
“Kelas empat.”
***
“Beli kue, Om? Ada pisang goreng dan donat,” pelan suara seorang bocah.
“Ayo, sini duduk dulu. Aku mau pilih kue.”
Bocah berkaus kuning dan rok hitam itu duduk di ujung terasku. Keranjang plastik kuenya dipangku.
“Namamu Bunga ‘kan?”
“Iya.”
“Kamu setiap hari jualan kue?”
“Iya.”
“Terus kapan sekolahnya?”
“Siang, jam satu.”
“Ini Rp 20 ribu. Om ambil kuenya lima biji saja. Kembaliannya untuk uang saku kamu sekolah.”
“Beneran, Om? Terima kasih.” Bocah itu tersenyum gembira.
***
“Beli kue, Om? Ada pisang goreng dan donat,” suara seorang bocah.
“Boleh. Om mau beli donat sepuluh biji. Tapi kamu mau bantu bikin kejutan enggak buat anak Om?”
Bocah berkaus kuning dan rok hitam itu menatapku.
“Gini. Donat yang kamu jual ‘kan cuma toping tepung gula. Dia sudah bosan. Makanya donat yang ada itu, kita kasih mentega dan misis cokelat.”
Bocah itu masih menatapku, bingung dan ragu.
“Sebentar saja, yuk, masuk rumah Om. Nanti kamu juga boleh cicipi donat misis cokelat itu.”
***
“Beli kue, Om? Ada pisang goreng dan donat,” lirih suara seorang bocah. Dia berkaus kuning dan rok hitam. Di tangannya tergantung sebuah keranjang plastik. Wajahnya tertunduk.
“Boleh. Yuk, masuk sini.”
Bocah itu terdiam sejenak, lalu melangkah ragu ke arahku.
“Anakku sangat suka donat misis cokelat yang kita buat minggu lalu itu. Kamu juga suka, ‘kan?’
Bocah itu mengangguk.
“Nah, sekarang kita buat lagi dengan toping yang berbeda. Om sudah beli selai stroberi. Kamu boleh mengoleskannya, lalu ikut makan juga.”
***
“Lo, kok kamu diam saja? Biasanya nawari kue?”
Kulihat seorang bocah memakai kaus kuning dan rok hitam, berdiri di depan pagarku sambil menenteng keranjang plastik.
Bocah itu hanya menunduk, tidak menjawab apa-apa.
“Yuk, masuk sini,” panggilku.
Setelah ragu sejenak, dia melangkah mendekat.
“Kali ini kita bikin donat toping susu keju. Anak Om pasti suka. Kamu mau ‘kan membantu?”
Bocah itu diam saja.
Aku raih tangannya, dan menggandeng menaiki teras.
“Tapi seperti biasa, anak Om masih tidur jam segini. Jadi kita tidak boleh ribut, ya?”
***
“Selamat pagi. Pak Sujat?” tegas suara memanggilku.
Aku yang sedang menggosok ban sepeda motor, mendongak, dan melihat tiga orang berseragam cokelat berdiri di depan pagarku. Ada Pak RT juga menemani mereka.
Tanpa menunggu jawabanku, dua orang berseragam cokelat menghampiri.
“Ini surat perintah untuk membawa Bapak ke kantor kami.” Salah seorang dari mereka memperlihatkan selembar kertas penuh tulisan, yang tidak bisa kubaca dengan jelas.
“Tapi aku belum selesai membersihkan sepeda motor,” jawabku.
“Silakan sepeda motornya dimasukkan dalam rumah, kunci pintu rumah Bapak, dan ikut bersama kami.”
***
“Ya, ampuuun! Ini zaman memang sudah mau kiamat.”
“Apa sih, Ibu ini, ngomong kok enggak jelas.”
“Ini lo, berita di HP!”
“Kenapa?”
“Baca, Pak! Baca!”
“Bacakan saja, Bu. Mana mataku bisa lihat tulisan kecil kayak gitu.”
“Nih, judulnya ‘Gadis Sepuluh Tahun Dirudapaksa Pria Jomblo Sampai Tiga Kali’.”
“Astaga, judul kok gitu?”
“Lah, terus, mau gimana judulnya? Ah, sudah, kok jadi membahas judul. Tak lanjut baca, ya. ‘Seorang bocah, sebut saja Bunga, usia sepuluh tahun, dicabuli tetangganya, seorang pria usia 42 tahun. Bunga yang setiap hari menjual kue berkeliling kampung, dicabuli hingga tiga kali. Ibu Bunga awalnya tidak curiga, tetapi ketika mengetahui anaknya mengeluh sakit di selangkangan, segera melapor ke RT setempat. Saat diinterogasi polisi, pria terduga pelaku pencabulan mengakui, dia menganggap Bunga seperti anaknya, yang perlu diberi perhatian dan kasih sayang’.”
Anak, di manapun kamu, ketahuilah, bahaya sering ada di tempat yang paling biasa. (*)
*)Inui Nurhikmah, Abah dua anak. Instagram: @inui.nurhikmah
Editor : Duito Susanto