KALTIMPOST.ID - Hutan Kalimantan terkenal dengan hutan adatnya. Hutan adat adalah hutan yang dilestarikan oleh masyarakat adat. Hutan adat ibaratkan ibu yang memberikan asi kehidupan. Dan ia adalah tempat asal muasal manusia adat.
Kendati demikian, kepedulian nenek moyang yang sangat melestarikan kearifan hutan sejak dulu kala, tidak serta merta terwariskan sampai generasi berikutnya. Itulah yang terjadi dengan sebagian besar masyarakat adat kini. Iming-iming rupiah telah meninabobokkan hati nurani mereka. Hutan digunduli, dibakar sehingga tinggal akar-akar kering yang tak mampu lagi menahan air mata derita.
Sudah sekian minggu lamanya Desa Simbulan di Kalimantan tak turun hujan. Terik matahari yang menyengat kian menambah penderitaan masyarakat yang sudah sekian waktu resah oleh anak ketua adat. Tindakan anak ketua adat yang nyeleneh, tak menampakkan jati diri para pendahulunya. Tapi tak ada satu pun yang berani melawan maupun mengancamnya.
Roli, ia lah yang dimaksud. Manusia yang pernah tinggal di kota. Sebagai putra satu-satunya dari ketua adat. Roli dengan sesukanya mengganggu kehidupan pohon-pohon di Hutan.
“Biadab, sebaiknya Roli kita lenyapkan saja,” ujar Sutomo yang tak terbendung menahan amarah atas kelakukan Roli.
“Mana mungkin kita kuasa sedangkan keluarganyalah yang berkuasa di sini,” jawab Yuklankai.
“Tapi, harus ada yang menghentikan kegilaan ini,” balas Sutomo.
“Jika hukum manusia sudah tak lagi berlaku, maka hukum alam yang akan mengadilinya,” papar Yuklankai.
Itulah perbincangan yang akhir-akhir ini sering muncul di permukaan. Bagi Roli tak masalah hutan adat itu rusak, yang terpenting ia mendapatkan banyak cuan. Karena itu, ia selalu menebang pohon sesukanya. Dengan kapak besarnya, ia menebang dari satu pohon ke pohon lainnya. Sudah ratusan pohon besar yang ia tebang dan tak terhitung jumlahnya pohon kecil pun jua. Pohon-pohon itu selanjutnya ia bawa ke para penadah di kota.
Di hutan adat itu, hiduplah sebuah pohon besar yang bernama Pohon Tengkawang. Pohon Tengkawang dianggap satu-satunya pohon langka yang masih tersisa. Untuk itu, tak seorang pun berani menebangnya. Bahkan konon, siapapun yang menebang akan terjadi bencana dasyat. Untuk menghormati Pohon Tengkawang, tak jarang sesajen banyak ditemukan di antara akarnya. Rumornya saat malam Jum`at kliwon tiba. Pohon itu meraung-raung seperti orang yang sedang marah.
Roli yang sudah mendengar cerita lama itu. Ia anggap sebagai dongeng yang hanya pantas disampaikan saat anak-anak hendak tidur.
Di lain cerita Roli ternyata sudah berkongkalikong dengan Suratman, seorang pengusaha mebel, kenalannya saat masih di kota. Suratman berjanji memberikan harga yang jauh lebih tinggi dari biasanya. Karena itulah Roli langsung teringat kepada Pohon Tengkawang.
“Pohon Tengkawang, ya itulah targetku selanjutnya,” ungkapnya.
Segala macam upaya ia rencanakan sebelum kapaknya menebas Pohon Tengkawang. Hampir tiap saat ia intip Pohon Tengkawang setelah menebang pohon. Setelah perencanaan dipikir cukup matang, Roli menapakkan kakinya. Menyusuri rerumputan liar. Betapa bahagianya tatkala telah berada di hadapan Pohon Tengkawang. Tanpa berpikir panjang lagi. Ia mengayunkan kapaknya dan mengarahkannya. Namun berkali-kali gagal. Pohon Tengkawang tidak tumbang jua.
“Haha,… dasar manusia rakus. Sekuat apapun kapak mu kau tak akan bisa menebangku,” saut Pohon Tengkawang dalam bahasa sebangsanya.
Ia menatap Pohon Tengkawang dengan kesal dan melemparkan kapaknya.
“Baru kali ini aku gagal menebang pohon. Ah, apa iya karena pohon penjaga rimba. Cerita omong kosong,” ujar Roli dengan wajah memerah dan tangan yang mencengkram.
Diambillah kembali kapaknya, ia keluarkan segala kekuatan dan otot-otonya.
“Kali ini, kau akan tumbang, haaaaaaaaaaaaaaaaa………
Saat kapak itu menancapkan diri ke kulit Pohon Tengkawang. Seketika gagang kapaknya patah.
“Hah, kapakku, kurang ajar, dasar pohon siluman,” rutuk Roli.
Matahari yang menjadi saksi keberutalan Roli, kini tenggelam ke peraduannya. Roli pun kelelahan hingga tertidur di bawah Pohon Tengkawang. Di malam itu, hanya terdengar suara jangkrik yang berdenging. Pohon Tengkawang menatapi manusia rakus itu yang berbantal akarnya. Ingin rasanya andaikan Tuhan menciptakannya sebagai mahluk yang bisa berjalan dengan akar-akarnya. Akan ia injak mahluk itu sehingga tak lagi menggangu dirinya dan anak-anak pohon di kehidupan rimba.
Nyanyian burung beradu, sinar matahari menyelinap di dahan-dahan pohon tanda menunjukkan waktu sudah pagi. Roli masih tidur terlelap, terdengar suara yang membangunkan dirinya.
“Hei, perusak hutan, bangunlah,” suara tak dikenal membangunkan Roli.
Seketika Roli bangun dan ia melihat Pohon Tengkawang yang berbicara kepadanya. Roli terbelangak. Seumur-umur baru kali ini ia melihat pohon bisa berbicara. Ditepuklah pipi kanan dan kirinya, ia berpikir apa yang dihadapannya hanyalah sebuah mimpi.
“Kau, bisa..” kata Roli.
“Ya, ini wujud asliku. Aku Pohon Tengkawang, pohon tertua di hutan ini. Akulah penjaga rimba. Hei, kau manusia. Apakah kau tidak puas dengan semua yang telah diberikan oleh bangsaku,” ungkap Pohon Tengkawang.
“Ampun, aku akan taubat. Aku tidak akan menebangmu lagi dan pohon-pohon yang ada di hutan ini,” jawab Roli.
“Sekarang kau taubat namun suatu saat kau akan mengulanginya,” saut Pohon Tengkawang.
“Percayalah padaku Pohon Tengkawang. Bukankah kau tahu bahwa Tuhan pernah berfirman bahwa bangsaku adalah makhluk pilihan di muka bumi ini,” jawab Roli.
“Apa jaminanmu kalau engkau tidak akan mengusik alamku lagi,” balas Pohon Tengkawang.
“Akan ku berikan kapakku ini padamu, tapi dengan satu syarat.”
“Dasar Manusia, apa syarat itu, ha,” balas Pohon Tengkawang.
“Ku mohon engkau memberikan salah satu akarmu agar bisa ku gunakan untuk mengganti gagang kapakku yang telah patah.”
“Baiklah kalau itu permintaanmu akan aku penuhi dan ku pegang kata-katamu wahai anak Adam.”
Pohon Tengkawang pun menyetujui permintaan Roli. Seketika munculah akar Pohon Tengkawang dari dalam tanah. Roli dengan mudahnya memotong akar itu.
“Aku sengaja memberikan akar terbaikku agar kau tak lupa wahai manusia, bahwa betapapun kau telah berbuat jahat kepada bangsaku, kau masih mendapatkan belas kasihku,” ujar Pohon Tengkawang.
Setelah itu, Roli pun pulang dengan suka cita sambil memikul bagian tubuh Pohon Tengkawang itu. Sesampainya, ia mengukirnya menjadi sebuah gagang kapak yang indah. Ia mencoba ke pohon-pohon yang ada di sekitarnya dan hasilnya kapaknya menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
“Dasar Pohon Tengkawang bodoh, bisa-bisanya ia percaya. Apakah ia lupa kalau dulu kakek moyangku Adam pernah memakan buah pohon yang sudah jelas-jelas Tuhan melarangnya.”
Tanpa berpikir panjang lagi, Roli berencana kembali ke hutan menemui Pohon Tengkawang. Saat dalam perjalanan, ia tak ragu-ragu menebang pohon yang menggangu perjalanan. Ia terus berjalan, hingga sampai ke tempat Pohon Tengkawang. Melihat Roli kembali di hadapannya, Pohon Tengkawang tersenyum sinis padanya.
“Pendamlah kapak iblismu itu di bawah akarku,” saut Pohon Tengkawang.
“Haha…kau kira aku akan menepati kata-kataku sendiri,” jawab Roli.
“Lalu, untuk apa kau datang kemari kalau bukan untuk itu.”
“Haha… kau pasti bisa menebaknya” jawab Roli dengan angkuhnya.
“Bukankah engkau sudah berjanji tidak akan menebang pohon lagi?” sahut Pohon Tengkawang.
“Hei, dirimu hanyalah sebatang pohon, pohon tetaplah pohon yang akhirnya menjadi kayu. Jadi, untuk apa menepati janji padamu!” jawabnya dengan kepongahannya.
“Kau manusia,” ujar Pohon Tengkawang dengan amarah yang menyelimuti.
“Tuhan saja aku khianati apalagi hanya pohon sepertimu,” ujar Roli
Pohon Tengkawang pun kian tambah murka, ia menggoyang-goyangkan tubuhnya hingga berjatuhan ranting serta daun-daunnya. Sementara pohon yang lain hanya bisa menangis dan tak bisa berbuat apa-apa.
Namun, semua itu tak menyurutkan niat Roli, ia mengangkat dan mengarahkan kapaknya ke Pohon Tengkawang.
“Ah,…sakit,” teriak Pohon Tengkawang sambil menjerit kesakitan.
“Ah,….sakit,”
Berkali-kali Pohon Tengkawang menjerit kesakitan, burung-burung berhenti terbang, hewan-hewan di sekitar hutan itu mengintip dari kejauhan.
“Haha,..kali ini engkau akan bisa aku tebang,” jawab Roli dengan penuh percaya diri.
Dengan penuh amarah, kecewa, tangisan, dan luka, Pohon Tengkawang tenggelam dalam penyesalan. Ia sangat menyesal telah percaya pada manusia bahkan yang membuatnya kesal lagi adalah gagang kapak Roli adalah bagian yang pernah melekat di tubuhnya.
“Manusia, kau telan kata-kata yang kau ucapkan sendiri. Kau bukan mahluk yang terbaik sebagaimana Tuhan berfirman. Ingatlah manusia setiap benih perbuatan yang kau tanam. Engkau akan menuainya sendiri.”
Akhirnya dengan kapak itu Roli berhasil menebang Pohon Tengkawang dan tamatlah riwayat penjaga hutan Kalimantan itu.
Hari demi hari, Roli terus melakukan penebangan hingga tak tersisa satu pun pohon besar di hutan itu. Sementara sejak kematian ayahnya selaku ketua adat, masyarakat setempat sudah banyak yang berpindah.
“Haha…akhirnya aku kaya,” sorak Roli.
Roli pun kian tambah beringas. Para penebang pohon ia datangkan dari luar daerahnya lengkap beserta alat berat yang mereka bawa ke hutan. Bumi hutan adat perlahan mulai kehilangan penghuninya. Hampir saban hari mereka angkut hasil tebangannya dengan truk-truk yang berbaris rapi.
“Bos Roli, hasil penjualan hari ini.”
Dua tahun setelah kejadian itu hampir semua pohon di hutan adat habis tak tersisa. Hanya tinggal tumbuhan belukar dan sisa-sisa bangkai reranting. Roli yang juga anak kepala adat semakin angkuh memanfaatkan hutan adatnya. Kemudian setelah kejadian itu, hujan besar mengguyur Kalimantan hingga banjir bandang melanda pemukiman warga hutan adat dan Roli pun terbawa arus banjir yang sangat besar.
“Ah………….tidak.”
“Andaikan dulu aku tetap menjaga hutan ini.”
Inilah akibat yang kau perbuat sendiri wahai manusia serakah.
Suara alam semesta menggema mengiringi aliran banjir yang sudah menenggelamkan tempat tinggal masyarakat adat. Dan Roli pun tenggelam bersama istana yang ia bangun serta penyesalan yang ia perbuat sendiri. (*)
Mastuki, guru di sekolah swasta di Kutai Timur. Telah menerbitkan 4 buku dan 1 antologi bersama. Moto hidupnya “Pembelajar Sepanjang Hayat”. Buku terbaru yang ditulisnya “Canda Tawa Santri di Teras Pesantren” (Kumpulan cerita pendek: 2024). Bisa dikontak melalui mastukitjokroaminoto@gmail.com
Editor : Duito Susanto