Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Cerpen Karya Wahdi Anwar: Rasi Bintang

Redaksi KP • Minggu, 31 Agustus 2025 | 06:50 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

KALTIMPOST.ID - Malam telah menggantung sunyi di langit. Bintang-bintang berkilau, membentuk pola yang seolah menggambar sesuatu, sebuah cerita lama yang dilukis angin dan waktu. Orang-orang menatap langit, mencari petunjuk tentang takdir mereka. Tapi tak ada yang tahu, rasi bintang yang satu ini bukan sekadar susunan cahaya; ia adalah kenangan dua hati yang pernah saling menyinari.

Namanya Rasi, perempuan yang mencintai malam dan segala sunyinya. Ia tumbuh bersama ayahnya yang seorang astronom, belajar membedakan antara Sirius dan Antares, antara ilusi dan kenyataan. Ia senang menamai bintang-bintang yang dilihatnya, meski tahu mereka telah lama mati sebelum cahayanya tiba ke bumi.

Sampai suatu malam, di sebuah perkemahan observasi bintang, ia bertemu Bintang, pria yang menyimpan kesedihan di matanya, seolah langit pernah runtuh tepat di dadanya.

“Aku suka malam,” kata Bintang saat mereka duduk berdua menghadap langit.

“Aku juga,” jawab Rasi.

“Tapi aku lebih suka saat malam jadi tempat sembunyi.”

“Kenapa?”

“Karena di siang hari, terlalu banyak hal yang harus kulihat dan terlalu sedikit yang ingin kulihat.”

Mereka tertawa, tapi ada kekosongan yang saling mereka pahami. Malam-malam selanjutnya, mereka terus berbicara, tentang nebula, tentang lubang hitam, tentang kemungkinan dua bintang yang saling tarik menarik tapi tak pernah bisa bersatu. Lalu, Rasi mulai sadar. Dia jatuh cinta. Bukan karena Bintang menyukai hal yang sama, tapi karena bersamanya malam terasa lebih utuh.

Namun seperti langit yang tak pernah bisa menyimpan satu warna saja, cinta mereka diuji oleh kenyataan. Bintang ternyata mengidap kelainan jantung sejak kecil, sebuah rahasia yang ia sembunyikan seperti bintang yang berpura-pura tak terbakar.

“Aku tak bisa memberi banyak waktu,” ucapnya pada suatu malam. “Tapi aku ingin setiap detik denganmu terasa seperti ribuan cahaya tahun.”

Rasi menangis malam itu, bukan karena takut kehilangan, tapi karena tahu bahwa waktu yang sebentar akan terasa seperti keabadian jika dijalani dengan cinta.

Hari-hari mereka menjadi nyala kecil di antara gelap. Mereka menamai satu bintang di langit sebagai lambang janji: Aquila, sang elang yang tak pernah lelah terbang. “Jika aku tak di sisimu nanti, lihat ke langit. Aku akan selalu jadi bagian dari rasi bintangmu,” kata Bintang.

Baca Juga: Catatan Buku Puisi Kau Sedingin Pelabuhan dari Dahri Dahlan; Asyik, Puitis, Penuh Kosakata Tak Biasa

Dan malam itu adalah terakhir kalinya Rasi menggenggam tangannya. Bintang pergi seperti sinar yang perlahan memudar, tidak dengan ledakan, tapi dengan keheningan.
Lima belas tahun kemudian, Rasi menjadi peneliti astrofisika. Ia sering menjadi pembicara di berbagai seminar, tapi satu topik yang selalu ia ulang yaitu tentang “Rasi Bintang”, sebuah teori puitis tentang bagaimana manusia tak benar-benar pergi, melainkan kembali ke langit dalam bentuk cahaya yang terus bergerak.

Orang mengira itu sekadar metafora ilmiah. Tapi hanya Rasi yang tahu, setiap malam ia menatap langit dan melihat satu bintang yang tak pernah berubah tempat, tetap di sana, tetap menyala.

Dia tahu: itu Bintang.

Dan setiap kali orang bertanya, “Apa yang kau cari di langit malam?”

Ia menjawab dengan tenang:
“Aku hanya mencari rasi bintang.”

Tapi di hatinya, ia tahu.
Ia sedang mencari lelaki yang selalu mendekap malamnya. (*)

 

Wahdi Anwar lahir di Tenggarong pada 16 Juni 1996. Sejak 2018, ia mendedikasikan diri sebagai pengajar matematika di Samarinda, dan sejak 2020 turut mendampingi para pelajar menapaki jalan menuju perguruan tinggi. Di balik dunia angka yang penuh logika, Wahdi menyimpan ruang luas bagi imajinasi menuangkannya dalam puisi, cerpen, novel, serta ilustrasi digital.

Editor : Duito Susanto