Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Lantai Ujung Kolam, Cerita Pendek Oleh Wahdi Anwar

Redaksi KP • Minggu, 7 September 2025 | 08:52 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

KALTIMPOST.ID - Di sisi selatan kolam renang kota, terdapat sebidang lantai keramik abu yang sempurna pada rupanya, namun selalu basah pada hatinya. Di sanalah, pada setiap sore yang lelah oleh riuh langkah-langkah muda yang membelah permukaan kolam, ada seorang wanita yang kerap duduk diam. Wajahnya teduh, matanya menyelam lebih dalam dari dasar kolam mana pun. Ia adalah istri pelatih renang di sana. Orang-orang memanggilnya Leya.

Lantai itu mengenalnya lebih dulu sebelum para perenang datang satu per satu. Ia duduk di sana, membawa bekal nasi hangat dalam kotak bergambar burung merpati dan termos berisi teh manis kesukaan sang suami.

Ia tak bicara banyak. Hanya menunggu. Sore demi sore.

Suaminya, Arun, selalu sibuk. Peluitnya bersiul lebih nyaring daripada sapaan Leya. Lengannya terentang memberi instruksi, matanya menyisir permukaan air, tak sempat menjawab, apalagi mencari pandangan yang menanti di ujung kolam.

Di awal pernikahan, Leya menunggu dengan sabar, lalu dengan penuh rindu, kemudian dengan ragu. Dan akhirnya, wanita itu memilih diam.

Hari berganti, musim pun berganti satu per satu, hingga entah di musim keberapa, Leya tak lagi hadir.

Lantai itu tetap basah. Tapi kali ini, bukan oleh air kolam melainkan oleh bayangan yang tak kembali. Setiap sore, tak ada lagi termos teh, tak ada kotak makan, tak ada doa lirih yang dibisikkan ke setiap sudut kolam. Hanya pesan singkat di ponsel suaminya:

“Jangan lupa makan bekalnya, sayang. Pulanglah dengan hati-hati. Kutitip senyummu pada langit sore.”

Arun membaca, membalas singkat, lalu kembali meniup peluit.

Ia pikir cinta bisa menunggu. Namun lantai ujung kolam tahu; menunggu itu bukan perkara waktu, melainkan hati yang ditinggal lalu lupa dicari.

Dan meski Leya telah menyerah, lantai itu belum.

Ia menolak diduduki siapa pun.

Tak ada yang tahu mengapa, tapi setiap orang yang mencoba duduk di sana merasa tak nyaman. Dingin menusuk, atau kadang terpeleset meski tak basah. Seolah dunia mengerti, hanya Leya yang pantas berada di sana. Bahkan kolam itu tahu, lantai itu setia pada kenangannya.

Kadang, Arun menoleh ke ujung kolam. Ia melihat kekosongan. Tapi tak ada waktu untuk menghampiri. Hatinya tahu, namun egonya sibuk berenang sendiri.

Musim hujan datang. Angin menjadi lebih sering bicara. Kolam tetap dipenuhi air, seperti biasa dan manusia yang berjejal, tapi lantai di ujung sana tetap sendiri.

Sampai suatu sore, Arun menemukan termos usang di loker lamanya. Termos yang sama. Bergambar merpati. Masih menyimpan aroma teh dari senyum manis istrinya, meski hanya dalam ingatan. Di bawahnya, secarik kertas terlipat;

“Jika cinta dibiarkan berenang sendiri, maka akan karam sebelum sempat menepi. Tapi jika cinta dijaga, maka ia akan tetap mengapung meski ragamu tenggelam dalam kesibukan.”

Arun terdiam lama. Ia berjalan ke ujung kolam. Duduk perlahan di lantai yang selama ini ia abaikan. Dan untuk pertama kalinya, lantai itu tidak menolak. Lantai kembali hangat.

Ia bersandar. Tak ada Leya di sana. Tapi ia merasa ditemani oleh segala yang tak pernah sempat ia dengar, rasa, harap, dan sunyi yang telah terlalu lama ia abaikan.
Kolam tetap beriak. Tapi untuk pertama kalinya, peluit pelatih itu berhenti.

Ia pulang lebih awal tanpa sempat bertukar sapa pada senja. Ia menyusuri hujan deras itu. Mencari Leya. Tak untuk berkata maaf, tapi untuk kembali belajar mendengar.
Dan lantai ujung kolam, akhirnya, bisa tenang. Karena cinta yang dulu duduk di atasnya, kini telah kembali dicari dan ingin ditemukan. (*)

WAHDI ANWAR, lahir di Tenggarong 16 Juni 1996. Sejak 2018 mendedikasikan diri sebagai pengajar matematika di Samarinda. Dan sejak 2020 turut mendampingi para pelajar menapaki jalan menuju perguruan tinggi. Di balik dunia angka yang penuh logika, Wahdi menyimpan ruang luas bagi imajinasi, menuangkannya dalam puisi, cerpen, novel, hingga ilustrasi digital.

Editor : Duito Susanto