Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Nasib Kontraktor, Cerita Pendek Oleh Hyoga Tan Djong

Redaksi KP • Senin, 13 Oktober 2025 | 09:35 WIB
Photo
Photo

KALTIMPOST.ID - Disaksikan secangkir kopi pekat dan asap kretek yang mengepul, Muncai terkurung oleh pikiran banalnya. Dua pemberitahuan masuk di telepon genggamnya seperti petir menyambar di antara senja yang tak sedikitpun membawa angin dan hujan. Pesan dari rumah dan tempat kerjanya.

“Semoga bisa dipahami, Mas,” begitu pesan penutup setelah rangkaian panjang percakapan melalui WhatsApp dengan atasannya.

Kinerja Muncai setelah tiga tahun menjadi pekerja kontrak dinilai tak maksimal. Namanya masuk dalam daftar karyawan yang akan dievaluasi. Dan sangat mungkin mendapat surat cinta pemutusan hubungan. Perusahaan mengeluarkan kebijakan efisiensi skala besar setelah menghadapi kondisi bisnis yang mulai tak stabil.

Pada pokoknya, Muncai diberi tenggat enam bulan sebelum masa kontraknya habis, untuk menunjukkan performa yang lebih baik. Dia mendapat target baru; membantu meningkatkan omzet, di luar tugas utamanya selaku pengelola media komunikasi perusahaan. Muncai dinilai dekat dengan penguasa daerah itu, yang menurut atasannya, harus dimanfaatkan untuk mengeruk keuntungan.

Akhir dari perluasan tugas itu hanya dua; jika berhasil, Muncai akan mendapat perpanjangan kontrak. Sekadar perpanjangan, bukan pengangkatan menjadi karyawan tetap.

Muncai menyeruput kopinya, kembali membakar tembakau linting untuk yang kesekiankalinya. Keahliannya tak banyak. Ini adalah perusahaan ketiganya dalam lima tahun terakhir. Sebagian menilai apa yang dikerjakannya bisa digantikan dengan teknologi. Dan tentu saja lebih hemat biaya, kata mereka.

Muncai mulai menimbang untuk mencapai target yang diberikan atau merelakan begitu saja pekerjaan yang ditekuninya tersebut pergi. Dia berperang dengan pikirannya. Antara kebutuhan finansial dan idealismenya. Muncai bukan seseorang yang sudi mengotori pertemanan dengan sang penguasa hanya untuk mengeruk keuntungan semata.

Dia dan sang penguasa berkawan sejak lama. Saat sang penguasa merintis karier, Muncai masih mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Muncai membantunya dengan aneka rupa penelitian dan survei. Lembar-lembar kuisioner lahir dari percakapan mereka. Penguasa itu mendapat keuntungan untuk analisa langkah politiknya. Sementara Muncai mendapat pasokan data untuk memenuhi tugas akhir kuliahnya.

Dan begitulah, mereka terus berada dalam jangkauan satu sama lain. Keduanya terhubung oleh rasa saling percaya yang terbangun dari satu penelitian ke penelitian lainnya. Dari kedai kopi ke kafe teranyar di kota itu. Dari sharing hal-hal serius ke cerita panjang lebar soal sesuatu yang tak penting. Kesah mati.

Selama hubungan itu terjalin, Muncai tak pernah mengukurnya dengan duit. Dia selalu merasa perkara uang sangat mungkin merusak pertemanan. Sesekali sang penguasa menawarinya sesuatu, namun Muncai bergeming. “Kalau cuma segitu, aku bisa mencarinya sendiri,” sebaris kalimat hapalan yang selalu keluar dari bibirnya. Pun demikian dengan sang penguasa, yang tak pernah meminta lebih dari Muncai kecuali sumbangan pikiran.

“Apakah ini saatnya merusak pertemanan?” gumam Muncai dengan suara yang nyaris tak keluar dari rongga tenggorokannya. Pikiran itu timbul tenggelam. Semakin dipikirkan semakin tak menemui kompromiyang realistis. Dia meraih kotak tembakau, menatanya di dalam potongan kertas putih, menggulungnya sangat perlahan hingga membentuk sebatang rokok linting untuk kesekiankalinya.

Kopi pekatnya sudah tak panas lagi. Lidahnya pun tak lagi peka terhadap rasa pahitnya. Urusan kantor belum menemui jalan keluar, Muncai teringat pesan masuk dari istrinya tadi siang. “Yang punya rumah mau pulang ke sini. Kita diminta mencari tempat lain,” begitu pesan itu berbunyi. “Tenang, semua teratasi,” balas Muncai sekadar menenangkan.

Muncai dan istrinya memang memilih menjadi kontraktor; hidup nomaden dari satu tempat ke tempat lain, selagi uang yang terkumpul belum cukup untuk membangun rumah sendiri. Beruntung hanya mereka berdua, belum buah hati yang dititipkan Tuhan. Atau mungkin mereka dirasa belum siap menerima titipan itu.

Di tengah kondisi ekonomi yang kian tak tentu, membangun rumah sendiri semakin terhapus dari daftar keyakinan Muncai. Terhapus tanpa pilihan pengganti yang lebih baik. Perlahan tapi pasti apa yang dikumpulkan sedikit demi sedikit itu semakin tampak tak mungkin menjadi bukit. Hidup terus menggerusnya untuk segala bentuk keperluan yang tak bisa ditawar.

Sudah dua bulan ini istrinya hanya mengurus rupa-rupa tanaman di pekarangan kontrakan mereka. Menimang anggrek hitam kesayangannya seperti anak sendiri. Bersenandung sembari menyapa mawar dan melati. Dan sedikit melotot saat mendekati lidah buaya. Dia tak lagi terlibat di lembaga pengelola lingkungan, tempat yang selama ini memberinya sedikit penghasilan untuk membantu Muncai.

Azan Isya lamat-lamat meninggalkan pengeras suara masjid. Muncai dikagetkan dengan semakin banyak orang meriung dekat kursi yang didudukinya. Malam itu jadwal rutin main bola dengan kawan semasa sekolahnya.

Dia meraih tas hitam, merogohnya perlahan, mengeluarkan sepatu dan perlengkapan lainnya. Di antara pikiran tak tentu dan fokus yang belum kembali, Muncai berusaha menyiapkan diri. Teman-temannya mulai melempar canda tak berbalas. “Nasib kontraktor,” gerutu Muncai menjawab sekenanya pertanyaan temannya sebelum memasuki lapangan yang sudah mulai diguyur air langit. (*)

Editor : Duito Susanto