Wulang
Kelak kau akan mengerti, petuah sari yang dicium dari rahimakallah, menjadi kelopak melati depan teras rumahmu. Hati bukanlah musabab pada segala yang tak berucap. Melainkan susur doa yang terselip pada tubuh-adab-akalmu. Lalu hamparan harap menyanjung-nyanjung, membuka semua sejarah luka, tentang kalabendu, tentang arti sembuh, suluh matanya menyinari cahaya api. Terangnya masuk ke dalam batin. Kata-kata berhantaran, menghantam tindak tanduk semua sejarah luka, darah, dan kerelaan. Kelak semua memahami, pengultusan pada jiwa-jiwa yang lenyap, dikebumikannya ingatan. Dirawatnya benda-benda pusaka sebagai memori kesadaran yang digelayuti gema doa nenek moyang, gamelan, keris, air kembang tujuh rupa, bara dupa yang melingkar di ubun-ubun malam; dan engkau akan berjalan di antara arwahnya yang disapu nanar, hanya guratan kecil tersembunyi di liang tanah, menuntunmu pada sabda yang tak tertulis, pada kitab dan bait-bait yang dilukis dengan tanah liat dan air hujan.
Hanca
Hari-hari terasa seperti menunggu kalender tahunan yang tak pernah berjalan. Terlalu gaduh—tagihan ibadah, deadline keimanan, dan rapuhnya kebaikan. Tenagaku lenyap bahkan sebelum memulai. Janji-janji yang dulu ingin kuhabiskan; menumpuk—seperti angan-angan yang kutulis di halaman akhir buku agama. Beribu-ribu (semoga) ku-julat-kan, tersimpan rapi, tetapi semakin ditilik, semakin membikin diri ini pusing. Ah tak lunas! Aku menyalahkan tubuhku. Kupukul kepalaku, dadaku, dan juga kekalahanku. Salah sendiri kenapa terus berdiam diri? Waktu memang tak mengenal malas, hanya keinginan manusia yang membuat itu semua menjadi jeda, merasa sia-sia.
Kaladurga
Maka kutahu, ketika di atas tebing lolongan serigala-serigala itu bersahutan, kutemui segerombol amarah para dewa angkara. Mantra kehancuran yang dibukanya setelah kian lama terkungkung, mempertontonkan segudang dendam dan raungannya yang gila. Mereka semua menunggangi ambisi. Tamaknya, angkuhnya digelar semegah-megahnya ke dalam rohnya. Aku pun mendongak ke atas, menjilat ludah dan merasa tak berdaya dibuatnya.
Nulipara
Aku meraba-raba diriku sebagai wujud yang cacat, menelusuri lorong waktu, menemui dua pintu yang saling mengintip dari kejauhan, cahaya tak pernah mengizinkanku untuk
melihatnya. Gumpalan darah dari dinding sunyi tempat doa dan kata terpantul, kupelihara ia seperti benih tanpa tanah; lalu berguguran sebelum sempat menyebut namanya sendiri.
Dan aku bertanya apakah kehidupan hanya sekadar menunggu dibatalkan, atau ketiadaanku selalu kembali ke kehampaan yang sama— takdirku belum sempat dicetak, rahim semesta pun lupa menamai anaknya.
Prahara Tarian Topeng
Lagi itu sudah kurapal berkali-kali dan kadang bagai sembilu yang segera menusuk jantungku, aku masih saja enggan tuk beranjak.
Malas yang mendera tak pernah memikat pawang tuk tetap memaksaku menari-nari dalam pengaruh roh.
Tapi pernahkah, pernahkah ada yang mengerti akan diriku yang merasa terpasung dalam jiwa yang bukan jiwaku?
Aku muak, ingin kuberlari lepas dari prahara yang mengikatku kuat, hanya untuk sesuap nasi bagi keluarga.
Aku korbankan cita-citaku hanya untuk menjadi penari topeng abadi
tapi aku tak mampu merentang ruang antara aku dan pawang, yang ada hanya bergumul dengan hati masing-masing
kini aku hanya mampu terperangkap dalam lantunan sunyi ditengah keramaian penonton.
Gerakanku membius dan menghantarkan hati yang gundah dalam dekapan keputusasaan yang menjerat
tapi semua itu kian meranum dalam benakku dan meluruh menjadi kepingan-kepingan lara yang membentang dalam sejumput hati kecilku.
Belum ada yang mengerti? Belum ada yang mengerti.
Tak ada satupun yang dapat menapaki jejak-jejak hatiku. Tetap saja sinden melantunkan lagunya tanpa berhenti, terus dan terus sampai kulelah dalam potongan ruh yang aku sendiri tak tahu siapa
aku tetap menari tak mau berhenti lagi
semua mata menembus sukmaku, tatapannya seperti menyengat raga yang mulai lelah bergerak terus menerus
tapi aku tak mau berhenti walau sinden sudah menghentikan kidungnya sejak tadi, aku masih menghitung ketukan untuk terus menari.
Penonton mulai ketakutan dan mulai berteriak-teriak, aku hanya dapat melihat bayang-bayang hitam yang lesap seperti hantu.
Kini kumampu meletupkan rasa marahku dan ruh itu membantuku menyengat, dan membuat degub jantungku semakin kencang.
Perih mendera diantara ruhnya suara yang berupa gaung dalam telingaku sampai terpekak menembus dadaku
kini semua lenyap dalam hitungan detik, hitam, kelam menaungi tubuhku yang mulai lemah dan kini hanya bisu yang tertinggal dalam kematian ruhku. (*)
Rifqi Septian Dewantara pegiat sastra asal Balikpapan, Kaltim. Karya-karyanya tersebar di berbagai media. Buku antologi puisinya LIKE (2024) dan SHARE (2025) diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Ekspresi. Buku kumpulan puisi tunggalnya “Aku Tidak Datang dari Masa Depan” (Langgam Pustaka, 2025)
Editor : Duito Susanto