Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Ayam Kate, Sebuah Cerita Pendek Karya Endry Sulistyo

Duito Susanto • Minggu, 9 November 2025 | 07:07 WIB

Ilustrasi
Ilustrasi

 
Braakkk!!
Potongan besi, kunci roda, balok kayu segera diraih. Mereka berhenti main gaple. Kalbun, Jiru, dan kawan-kawannya terhenyak. Beberapa menyerapah karena bunyi keras tersebut.

“Minta mampus itu bintang!” teriak Kalbun. Seekor ayam jago dengan bulu indah nangkring di atas tumpukan seng bekas. Ayam itu bertubuh mungil, lebih kecil dari ukuran ayam biasanya. Bulunya lebat warna-warni. Meski paruhnya kecil, jengger merah di kepalanya menunjukkan pesona dan kegagahan. Jelas sekali menunjukkan bahwa ayam ini ayam mahal. Ayam peliharaan, bukan ayam liar.

“Celaka! Lepas lagi itu ayam!” teriak Jiru.

“Aku gak peduli. Biar lepas bahkan mati pun aku gak peduli!”

“Tapi itu ayam kesayangan. Si Bos rela menghabiskan banyak uang demi ayam itu.”

“Ayam kate sialan! Ini sudah kali ke berapa ayam itu menyusahkan kita!”

“Tapi berkat ayam itu, kita masih bisa bekerja di sini!”

Kukuruyukk!

Suara khas itu menambah gusar Kalbun dan Jiru.

“Hai kalian. Cepatlah tangkap ayam kate itu sebelum Si Bos datang!” teriak salah satu teman yang sedang sibuk membongkar mesin truknya.

Belum sempat Kalbun dan Jiru beranjak, dentuman keras seng tertabrak benda keras. Pintu garasi truk yang hanya berupa lembaran seng sisa, rengkah, terbuka.  
Sebuah mobil Hilux bak terbuka dengan tulisan PT MCM dengan sengaja menabrak gerbang garasi, diikuti Fortuner hitam di belakangnya.

“Pasti ulah, si brengsek Dhoba! Ingin kuhabisi juga dia kalau ada kesempatan”, gumam Kalbun.

Dari bak belakang yang terbuka turun beberapa orang dengan angkuh. Pintu depan mobil Hilux terbuka. Seorang lelaki bertubuh pendek turun lalu menghampiri mobil Fortuner di sampingnya. Dengan sopan ia membukakan pintu Fortuner. Seorang lelaki berperawakan sedang dengan pakaian perlente turun.

Dhoba bergegas meraih bangku untuk duduk bosnya. Bos itu memandangi Kalbun dan kawan-kawannya, lalu berbisik ke lelaki pendek tersebut.

“Kalbun, Jiru, dan kalian semua! Cepat kemari, Bos mau ngomong!” ucap lelaki pendek tersebut.

Kalbun dan teman-temannya segera menanggalkan aktivitas dan menghampiri tuannya.
 
***
 
“Inikah posko yang Dhoba bilang kemarin?” kata Kalbun.

“Sepertinya begitu,” jawab Jiru.

“Kita tuntaskan misi ini. Segera!” bisik Kalbun.

Kalbun dan Jiru memandangi bangunan semi permanen di depannya. Ada tenda terpal dan beberapa balok kayu yang dijadikan penghalang di jalan hauling sehingga kendaraan tidak bisa lewat.

“Ini semua gara-gara ulah Dhoba. Dia yang berbuat, kitalah yang harus menanggung risiko untuk menyelesaikannya!”

“Memang laknat manusia satu itu! Gara-gara dia menabrak mati seorang pendeta perempuan saat membawa batu bara pakai truk fuso di Muara Komam, warga jadi marah dan memblokir jalan ini!”

“Konyolnya, bos hanya bisa marah-marah karena rugi besar sejak truk-truk berhenti beroperasi. Yang dipikirnya cuma cuan dan cuan. Padahal warga sudah marah besar ke perusahaan karena jalanan rusak parah, polusi debu, dan jatuhnya korban.”

“Dan bangsatnya, Dhoba tidak disalahkan akibat peristiwa itu. Bos percaya saja sewaktu Dhoba bilang bahwa rem truknya rusak karena teknisi tidak melakukan perawatan dengan baik. Ujung-ujungnya teknisi itu malah yang dipecat. Dasar penjilat busuk!” gusar Kalbun.

“Kalau bukan sudaranya Si Bos, aku yakin Dhoba pasti sudah lama jua dipecat karena tidak becus bekerja.”

“Bukan hanya penjilat, Dhoba itu juga parasit!”

Suara salawatan dari pengeras suara masjid lamat-lamat terdengar. Sebentar lagi subuh. Kalbun dan Jiru diam. Pandangan keduanya masih ke arah yang sama. Jarak mereka tak sampai 100 meter dari posko. Hampir tiga jam mereka bersembunyi di balik ilalang.  

Jiru melihat jam tangannya yang berembun.
“Kalbun, sampai kapan kita menunggu?”

“Sebentar lagi. Sabarlah.”

“Jika matahari sudah terbit, kita tak mungkin melaksanakan misi ini.”

“Tahan dulu. Sebentar lagi sebagian dari mereka pasti akan pulang. Hanya tinggal orang-orang yang pulas tertidur.”

“Mereka masih ada enam orang yang bertahan di posko. Apa kita ekseskusi semuanya?”

“Tidak perlu semuanya.”

“Tapi kulihat dari sini, yang tertidur itu hanyalah beberapa orang tua saja. Mereka bukan target kita, bukan?”

“Tidak penting siapa orangnya. Target kita hanya menancapkan ketakutan lebih dalam lagi ke warga.”

Jiru terdiam sambil memandang ke arah posko dengan waspada.

“Jiru, bersiaplah. Saatnya kita bergerak.”

Dini hari yang hening. Angin menusuk tulang. Gerimis mulai berjatuhan. Kalbun dan Jiru mengendap mendekati posko sambil memegang erat parang di pinggang. Berjarak 5 meter, dua orang terlihat meringkuk dalam sarung kumalnya. Lelap.
 
***
 
“Kacau! Kacau! Urusan semakin tak terkendali akibat ulah kalian!” teriak Dalosi penuh amarah sambil menunjuk Kalbun dan Jiru.

Kalbun dan Jiru kaget. Terlihat Kalbun menahan amarah karena tak terima disalahkan.

“Gara-gara kejadian kemarin, maka operasional semua truk batu bara dihentikan sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Rugi lagi aku puluhan miliar karena ulah kalian!”

“Tapi, Bos, Dhoba yang…”

“Diam! Biarkan Si Bos selesai bicara dulu!” bentak Dhoba.

“Belum ada sebulan ini aku keluarkan uang ratusan juta untuk menyuap sebagian orang di sana agar dapat membujuk warga membuka blokir jalan. Ini belum berhasil, e.. malah kalian menggorok leher warga di sana! Kacau semuanya! Bukan hanya warga yang marah, kini hampir semua orang tahu kejadian ini. Mahasiwa dan LSM jadi ramai demonstrasi menuntut aparat menyelidiki kasus ini. Belum lagi media yang mem-blow up berita ini terus-menerus. Gara-gara ini aku harus mengeluarkan uang lebih untuk membungkam banyak mulut cerewet demi menutupi kasus ini!”

Semua terdiam.

“Brakk!!”

Dalosi menendang jeriken solar ke arah truk fuso sehingga menimbulkan suara keras.
“Rencana ini hampir berhasil. Namun gara-gara kalian, rencana ini jadi berantakan!” teriak Dalosi sambil menunjuk ke arah Kalbun dan Jiru.  

“Kami hanya menjalankan perintah, Bos. Dhobalah yang menyuruh kami untuk menghabisi para penjaga di posko itu agar warga menjadi ketakutan dan mau membuka blokir jalan,” jawab Jiru sambil memandang Dhoba.

“Eh, jangan asal bacot! Mana pernah aku bilang begitu? Jangan percaya ucapan mereka, Bos. Aku hanya bilang ke mereka untuk membujuk secara halus para penjaga posko agar mau membuka blokir jalannya. Kalau warga tetap menolak membuka blokir, aku bilang ke Kalbun dan Jiru agar sedikit mengintimidasi mereka. Ini strategi baik. Tujuannya supaya truk-truk batu bara kita bisa lewat lagi, Bos. Aku sama sekali tidak pernah menyuruh mereka untuk membunuh orang!” teriak Dhiba meyakinkan Dalosi.

“Dasar, bajingan! Kemarin kamu yang menyuruh kami untuk menghabisi para penjaga posko itu! Bahkan kamu bilang itu instruksi langsung dari Bos!” amarah Kalbun memuncak.

“Omong kosong! Mana mungkin aku bicara seperti itu? Memangnya aku gak punya otak menyuruh kalian membunuh orang!”

“Dasar mulut lamis! Kurobek mulutmu!” teriak lantang Kalbun.

Tangannya segera meraih parang yang tergeletak lalu hendak menghampiri Dhoba.  
Jiru dan teman-temannya segera menghalangi Kalbun. Dipegang tangan, kaki, dan tubuh Kalbun erat-erat.
Dhoba dan Dalosi terlihat kaget dan ketakutan. Mereka beringsut menjauh.

“Mulai hari ini aktivitas bongkar muat truk dihentikan sampai waktu tak pasti! Sementara ini tidak ada yang boleh pergi dari area tambang ini hingga situasi kondusif. Semua sopir truk dalam kendali dan pengawasan penuh Dhoba!”

Dalosi beranjak memasuki mobil Fortuner lalu meninggalkan lokasi diikuti mobil yang dikendarai Dhoba. Mobil meninggalkan lokasi dengan debu tebal yang memedihkan mata, menyesakkan hidung, dan amarah yang menggelegar di dada Kalbun.
Sunyi. Orang-orang masih terpekur memandang pintu gerbang garasi yang terbuka.

Kukuruyukk..
Ayam kate membusungkan dada dan berdiri tegak di atas truk.

“Akan kubunuh kau binatang sialan!” teriak Kalbun penuh dendam.

Dengan parang terhunus, Kalbun berjalan menghampiri tempat ayam kate tersebut. Ayam kate berkokok lantang sambil membusungkan dadanya. Kali ini Jiru dan teman-temannya diam. Tak ada yang coba menghalangi Kalbun.
 
Kalimantan Timur, 2025
 
* Mengenang Setahun Tragedi Muara Kate, di Paser, Kalimantan Timur

**Penulis adalah pecinta kopi yang saat ini masih aktif menulis (puisi, cerpen, dan artikel) ke berbagai media daring maupun luring. Bergiat di Komune Teraksara Indonesia dan Komunitas Sejangkauan Tangan Indonesia. Beberapa tulisannya tersiar di Republika, Media Indonesia, Kaltimpost, Kedaulatan Rakyat, dan sebagainya. Dapat dihubungi di no: 0857 1622 4561 atau melalui surel: akurimbajati@gmail.com atau IG: akurimbajati.

Editor : Duito Susanto