“Bagaimana, Pak? Yakin, enggak berubah pikiran?” Harris bertanya. Staf kantornya ikut menemani melihat rumah dinas yang baru. Sonny terlihat berpikir.
Apalah yang terburuk bisa terjadi, ungkapnya dalam hati. Menurut Harris, cerita aneh di rumah dinas itu terlalu simpang siur, sampai ke telinganya lewat selentingan orang kantor. Karena tak menyaksikan langsung, Harris tak bisa menjadi narasumber.
Kisah yang menjadi fokus obrolan mereka itu terjadi pada saat acara perpisahan Pak Ramli–rekan kerja Sonny–yang harus kembali ke Indonesia karena telah selesai menjabat. Saat acara berlangsung, rumornya beberapa orang kantor berkomentar melihat seorang bapak tua berperawakan kecil ikut menikmati acara.
Mereka mengingatnya karena kimononya; anggun, mahal, dan mencolok. Tamu hari itu beragam, orang Indonesia dan kolega orang Jepang turut hadir. Namun herannya, menurut omong-omong di kantor, ternyata tak semua merasa melihat sang bapak tua.
Konsensus akhir dari obrolan orang-orang adalah: tamu satu itu terlihat tak biasa. Bahkan ada yang iseng berkomentar kalau mungkin bapak itu adalah yokai.
“Kalau Pak Sonny mau, kita bisa cari rumah lain selama Bapak bertugas di sini.” Harris berkata lagi, bergeser ke samping memberi jalan kepada atasan barunya untuk memasuki ruang keluarga.
Jujur, Sonny tak terlalu khawatir. Ia dan istrinya tak pernah takut dengan cerita-cerita seram. Sangat suka malah. Menghabiskan waktu luang di depan TV menonton film-film horor terbaru adalah salah satu kesukaan mereka berdua.
Ditambah lagi, sesuatu yang bisa menaikkan bulu kuduk bagi orang lain sudah menjadi hal biasa bagi laki-laki itu. Sejak kecil ia akrab dengan hal-hal yang tak wajar. Meskipun belum pernah melihat langsung sosok hantu, Sonny dapat merasakan lewat intuisinya yang tajam.
Ingatan akan koleksi kelereng warna-warni sewaktu SD sering membuatnya tersenyum sendiri. Saking besarnya keinginan untuk melihat tuyul. Menurut mitos bukannya tuyul suka bermain-main dengan gundu?
Baca Juga: Sama Pohonnya Beda Nasibnya, Cerita Pendek Karya Sahari Nor Wakhid
Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa rumahnya semasa kecil dahulu menyimpan keganjilan. Suara langkah kaki atau tawa lirih sering membangunkannya di tengah malam. Apakah itu tuyul atau sesuatu yang lain, ia tak pernah pasti. Ibunya–yang menolak percaya hal gaib, selalu mematahkan ceritanya dengan berbagai logika rasional.
Sampai saat ini sayangnya, belum ada satu tuyul pun—atau hantu lain yang menampakkan diri. Mereka seakan tahu Sonny sedang menunggu.
Rumah dinas itu sesuai dengan keinginannya. Mumpung ditempatkan bekerja di Tokyo, ia ingin berada dalam suasana yang betul-betul tradisional. Rumah tua itu ideal; taman Jepang minimalis, ditambah sebatang pohon bunga sakura di belakang. Perabotan yang ada, meski tak banyak, membuatnya tak perlu repot membeli ini itu. Kurang apa lagi? Ia mengangguk puas.
Laki-laki itu berjalan pelan di atas lantai tatami. Kedua kakinya yang hanya beralas kaus kaki terlihat sangat hati-hati, seakan khawatir merusak jahitan tenunan lantai. Atmosfer kental Negeri Sakura merembes dari lukisan tradisional serta hiasan keramik yang dipajang di sana sini.
Saat menyapu pandangan di dalam kamar tidur, keningnya tiba-tiba mengernyit. Ia melihat satu objek di pojok kamar. Sandaran kursi pendek itu tepat membelakangi sudut dinding.
“Harris, kursi zaisu itu seperti lagi memantau kita, enggak, sih? Apa memang sengaja ditaruh di sana?”
“Jangan nakut-nakuti, ah, Pak.”
“Lah, kamu sendiri yang mulai cerita tentang hantu tadi.”
“Iya, tapi nurarihyon itu enggak mengganggu, Pak. Hantu itu biasanya datang kalau di rumah lagi ramai orang.”
“Oke, oke.” Sonny tertawa menanggapi komentar stafnya. Ia mengamati kursi tak berkaki itu sekali lagi lalu berjalan menuju taman belakang. Sambil membayangkan bunga sakura bermekaran, ia berkata, “Enggak usah cari tempat lain, Harris.”
Begitu istrinya, Neni menyusul ke Tokyo, muncul fenomena yang tak dapat ia jelaskan. Semuanya bermula dari sebuah kursi. Sonny memindahkan kursi zaisu ke samping meja rias istrinya agar Neni nyaman berdandan.
Namun keesokan harinya, laki-laki itu garuk-garuk kepala sendiri. Kursi pendek itu telah berubah posisi: kembali ke tempatnya semula–membelakangi sudut kamar.
“Bukan aku.” Istrinya menjawab ketika ia bertanya.
“Jangan-jangan nurarihyon itu benar-benar datang ke rumah kita.” Sonny memandang ruang kosong di depannya. Ia mengangkat kursi, lalu memindahkan kembali ke sebelah meja rias.
Hari berikutnya, mata laki-laki itu nyaris keluar dari rongganya ketika didapati kursi pendek itu duduk tegak di posisi awal. “Eh, kenapa?” Ia berseru. Dengan kesal ia beranjak hendak kembali memindahkan, namun nada suara Neni membuatnya bergegas bersiap ke kantor.
Kurang lebih empat hari kursi itu bolak-balik berubah tempat. Malam ini sebelum tidur Sonny kembali mengembalikan kursi ke samping meja rias. “Jangan jahil,” serunya. Di benaknya muncul bayangan hantu kakek pendek mengenakan kimono, muncul diam-diam di rumahnya. Kepala lonjong berbentuk labu itu memantulkan cahaya lampu teras. Sang kakek dengan gerakan hampir tak bersuara, mengangkat kursi zaisu lalu memindahkannya ke sudut kamar yang seolah selalu menjadi miliknya.
“Kamu harus ngomel di bahasa Jepang.” Istrinya berkata sambil tertawa.
Sonny memandang Neni. “Enggak merasa terganggu?”
Istrinya menggeleng. “Kalau benar ada, ‘kan, dia cuma mindahi kursi. Kamu takut?”
“Enggak takut. Aku terganggu!”
“Bukannya nurarihyon itu datang kalau lagi banyak orang di rumah?” Istrinya berkomentar. “Aku akhirnya cek di internet. Kamu seperti orang terobsesi. Jangan-jangan si nurarihyon sampai terbawa mimpi.” Neni mengambil ponsel dari samping futon, membuka artikel yang sudah ditandainya, kemudian membaca dengan suara nyaring.
“Nurarihyon dikenal sebagai yokai unik dan tidak menyeramkan dalam legenda hantu Jepang. Ia hadir dengan cara tenang dan biasanya tidak terdeteksi. Konon muncul saat keadaan rumah sedang ramai, saat tuan rumah sibuk menjamu para tamunya. Ia membaur begitu saja dengan tamu lain. Membuat orang lain tidak bisa membedakan, apakah ia benar-benar tamu atau makhluk halus.”
Istrinya berkata, “Jadi, kemungkinan besar ini bukan kerjaan si nurarihyon.” Perempuan itu lalu menarik selimut. “Aku tidur, ya.”
Rumah tradisional berkayu cokelat tampak tenang disinari cahaya purnama. Udara dingin bulan April membuat orang tidur meringkuk dalam selimut tebal. Di dalam kamar, bayangan gelap terlihat duduk di atas futon. Perlahan, sosok itu bangkit dan duduk bersila di kursi zaisu di samping meja rias. Kepala tegak memandang ke depan, dua tangan lunglai di pangkuan. Kedua mata terbuka, namun pandangannya kosong, seperti terperangkap dalam kondisi antara tertidur dan jaga.
Dalam hitungan menit, ia beranjak. Diangkatnya kursi tak berkaki itu lalu ditaruhnya membelakangi sudut kamar. Puas dengan posisi kursi, Neni kemudian berjalan kembali ke tempat tidur, menarik selimut, dan terlelap hingga pagi. (*)
Catatan:
Yokai: makhluk supernatural, hantu.
Bionarasi:
May Wagiman, penulis cerpen, cerita anak, serta artikel. Karya tulisan dapat ditemukan dalam media cetak serta daring.