Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Melati, Sebuah Cerita Pendek Karya Archida Febtiani

Redaksi KP • Minggu, 25 Januari 2026 | 05:03 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

KALTIMPOST.ID - Gadis kecil itu berlari-lari ke arahku. Wajahnya memerah terkena panas sinar matahari dan kulitnya terlihat mengkilap karena keringat. Aku memanggilnya Melati karena aku sangat menyukai bunga melati.

Aku dan Melati tak saling mengenal sebelumnya. Kami bertemu di gang sempit saat sama-sama bersembunyi dari bom yang telah merenggut orang tua dan keluarga kami. Kini kami tinggal di gubuk reyot di dekat hutan untuk menghindari orang-orang berseragam aneh itu.
 
Melati sudah tak sesedih waktu itu. Dia bersumpah tak akan menangis lagi untuk membalas dendam pada mereka yang tiba-tiba datang ke tanah kami dengan senjata dan bom yang bisa meledak di mana saja dan kapan saja. Dia masih terlalu kecil untuk memahami perang di negaranya, tapi mata besarnya memancarkan semangat dan menunjukkan bahwa kita tak boleh menyerah pada keadaan.
 
Hari ini dia membawa persediaan yang lebih banyak dari kemarin dan memelukku. Kami harus bersembunyi di celah di kolong jembatan sebelum kembali ke gubuk saat matahari mulai bergeser ke sebelah barat. Di kolong sempit itu kami harus berbisik dan tak banyak bergerak agar orang-orang di jalan dengan pistol panjang tak mendengar kami.

“Apa Melati tak salah dengar?”

“Tidak,” katanya mantap.
 
Aku menatap wajah itu, dia masih terlalu muda untuk merasakan semua penderitaan ini dan memahami konflik pemerintah dengan negara lain, yang dia tahu dia kehilangan orang tuanya dan masa kecilnya. Kuharap perang memang akan segera berakhir karena aku ingin melihat Melati tersenyum, itu saja.

Entah bagaimana nasib kami berdua jika perayaan itu benar-benar terjadi karena tak ada keluarga yang tersisa dan kota sudah hancur pora poranda, tapi aku tak akan meninggalkan Melati. Kita telah berjanji akan selalu bersama-sama apapun yang terjadi.
 
Malam ini Melati tak bisa tidur, dia terus berbicara tentang berjalan bebas kemanapun dia mau dan rencana-rencana lainnya setelah pesta perayaan itu, dia bahkan berencana untuk mengadakan pesta sendiri dan mengumpulkan banyak makanan. Aku hanya bisa tersenyum, sedikit takut dengan kenyataan jika mereka akan tinggal lebih lama tak seperti apa yang dibayangkan Melati.
*

Hari ini kami tak pergi ke mana-mana. Sudah tiga orang bersenjata lewat di dekat gubuk kami beberapa kali dan kurasa jumlahnya akan semakin bertambah. Entah apa yang membuat mereka pergi sejauh ini. Syukurlah persediaan roti masih ada, tapi jika mereka terus berjaga setiap hari aku tak yakin kita bisa bertahan lebih lama.

Baca Juga: Seporsi Mi Ayam dari Kotak Pandora, Sebuah Resensi Buku Oleh Inui Nurhikmah
 
Melati meringkuk sambil menggigit kuku tangannya, dia pasti ketakutan. Aku memberi isyarat agar dia tak bersuara dan duduk di sampingnya. Dan hal tak terduga itupun terjadi. Gadis cilik yang kukira lemah itu berlari keluar dan berteriak-teriak di depan laki-laki bertubuh besar yang telah menembak mati ibunya.

Melati bertanya mengapa lelaki itu membunuh ibunya, dia sama sekali tak menangis. Matanya menatap tajam ke arah laki-laki itu tanpa menghiraukan pistol panjang yang berayun-ayun di dekatnya.
 
Sayang, laki-laki yang memiliki warna kulit berbeda dengan kaum kami itu tak mengerti sepatah katapun yang diucapkan Melati. Dia mengarahkan pistolnya tepat di dada Melati dan melepaskan pelatuknya. Melati tergeletak hanya dengan satu peluru. Aku menutup mulut, tak percaya dengan apa yang kulihat.

Kami telah berjanji saling menjaga dan selalu bersama-sama apapun yang terjadi, tapi kini aku hanya bisa bersembunyi dan menunggu. Aku terlalu takut untuk melakukan hal yang sama seperti apa yang telah dilakukan Melati.
 
Laki-laki itu meninggalkan Melati begitu saja. Aku menggendong tubuh kecil itu dan meletakkannya di atas tikar yang dibawa Melati beberapa hari yang lalu. Aku tak pernah tahu rasanya peluru yang menembus daging, mereka bilang itu seperti baja panas yang dimasukkan ke tubuh, tapi aku tak melihat raut kesakitan di wajah Melati, sebaliknya aku melihatnya tersenyum. Aku menangis di samping jasad Melati dan berjanji akan menjadi pribadi yang berani seperti dirinya.
*

Pesta perayaan itu, aku juga mendengarnya. Ternyata Melati memang tak salah dengar, mereka akan melakukannya beberapa hari lagi. Aku sudah berjalan ribuan mil untuk mendapatkan benda-benda yang kubutuhkan dan sekarang aku akan pulang. Beberapa hari lagi, aku akan siap.
 
Di depan kuburan Melati aku melihat mayat-mayat busuk yang sudah membiru. Mereka pasti dibuang di sana saat aku pergi. Beberapa wajah itu masih kukenali meski sudah membengkak. Pak Ridwan yang suka memberiku coklat, Bu Sri yang suka dandan dan Pak Sidul yang hampir sepanjang hidupnya memakai batik, semuanya tergeletak tak bernyawa.

Baca Juga: Detak-Detik Mesin Tik, Cerita Pendek Karya Shanti Agustiani
 
Hatiku semakin panas, tubuhku yang tak lebih dari 137 cm meringkuk di depan mayat-mayat itu. Aku sudah tak bisa menangis lagi semenjak tubuh Melati kaku membiru. Jari-jari tanganku yang sudah menghitam tak berhenti meggali tanah meski beberapa kulit terlepas dan menimbulkan rasa sakit tak tertahankan saat menyentuh butir-butir tanah, tapi aku tak akan berhenti sebelum menguburkan mereka dengan layak. Entah berapa orang lagi yang kukenal yang masih hidup, aku hanya berharap masih ada wajah yang kukenal saat semua ini berakhir.
*

Orang-orang yang berpakaian aneh itu sedang pergi untuk mencari bir. Mereka akan berpesta malam ini. Aku hanya punya beberapa menit untuk memasang semuanya di markas mereka. Sejauh ini semua berjalan baik-baik saja, aku hanya sedikit kaget saat bertemu dengan bom-bom di kotak-kotak berwarna coklat. Semua petasan-petasan besar sudah kukaitkan dan minyak tanah sudah kutuang di berbagai titik.
 
Aku berlari kencang dan menubruk sesuatu. Saat aku jatuh di tanah, aku melihat sosok itu menyeringai padaku. Dia menuangkan birnya ke seluruh tubuhku dan mulai tertawa. Tangan besarnya menyeretku ke salah satu gudang yang sudah kupasang petasan. Tak ada celah yang memungkinkanku untuk lari dari sana.
 
Lima menit kemudian aku mendengarnya, lagu-lagu sedang diputar, suara terbahak-bahak semakin jelas terdengar dan botol-botol bir mulai saling berbenturan. Mereka sedang melakukan perayaan hari terakhir sebelum pergi dari tanah kami. Aku tak akan membiarkan mereka pergi begitu saja. Mereka harus merasakan rasa sakit yang dialami Melati, Pak Ridwan, Bu Sri, dan Pak Sidul.
 
Salah satu dari mereka menyeretku keluar. Aku menjadi tontonan di tengah-tengah orang-orang berbaju aneh itu. Mereka menertawakanku dan meludahiku. Seseorang yang terlihat lebih tua mendatangiku dan membawaku masuk ke tendanya.
 
“Kau pasti sudah mendengar tentang perayaan kami,” katanya. Aku sedikit shock mendengarnya berbicara dengan bahasa di tanahku.

“Kau tahu, bukan pesta yang baru saja kau lihat yang akan kami lakukan sebelum kami pergi, tapi ini,” katanya lagi sambil menunjuk ke monitor-monitor kecil di sampingku.
 
Gambar-gambar beberapa tempat di kota dengan bom-bom yang tersembunyi membuatku merinding. Beberapa warga terlihat tersenyum melihat jalanan yang kosong tak terjaga oleh laki-laki besar bersenjata seperti beberapa hari sebelumnya. Mereka pasti berfikir semua sudah berakhir. Laki-laki tua itu tertawa lagi, kali ini lebih keras daripada sebelumnya.
 
“Malam ini aku megijinkanmu mengikuti perayaan kami. Kita akan bersama-sama melihat ledakan besar yang belum pernah kau lihat sebelumnya.”
 
Aku diam. Di saku kananku masih tersimpan korek api. Aku tahu aku akan menyusul Melati secepatnya. Aku hanya membutuhkan keberanian gadis cilik itu untuk melakukan semua ini, untuk mati.
 
Laki-laki itu memberi aba-aba agar semua orang masuk ke tendanya. Bau alkohol tercium menyengat di hidungku. Beberapa dari mereka sudah teler, tapi masih bisa tertawa mengejekku, memberitahuku bahwa aku akan benasib sama dengan yang lainnya.  
 
“Kenapa bocah sepertimu masih hidup?” kata seorang laki-laki berbibir tebal.

“Bapak ibunya pasti sudah jadi makanan anjing liar,” kata yang lainnya sementara sisanya tak mengerti apa yang mereka katakan.

Laki-laki berbadan paling besar mencengkram kuat tanganku dan jari-jarinya memaksaku tetap membuka mata saat jempolnya menekan tombol hitam besar. Benar, aku menjadi satu-satunya penduduk asli yang mengikuti perayaan terakhir mereka di tanahku, aku menjadi satu-satunya orang yang menyaksikan ledakan besar di kotaku dimana para penghuninya mulai berjatuhan dan beberapa tak dikenali lagi karena daging-daging tubuhnya sudah tak utuh lagi.
 
Di puncak perayaan itu mereka tertawa, saling bersulang dan akhirnya mengurungku di gudang. Bagaimana rasanya mati? Bagaimana rasanya saat daging terlepas dari tulang? Dan bagaimana rasanya kulit saat api membungkus seluruh tubuh? Aku tak pernah tahu dan bahkan tak pernah membayangkan sebelumnya, tapi kurasa para tetanggaku itu juga tak pernah membayangkannya sebelumnya.
 
Aku belum pernah merencanakan untuk mati muda. Rencana-rencana yang kubuat sebelumya sama seperti bocah-bocah seumuranku lainnya, yaitu bersekolah dan bermain di waktu senggang, tapi saat aku melihat ledakkan yang membuatku menjadi satu-satunya orang yang masih hidup di tempat di mana aku dilahirkan, aku mulai merasa kesepian. Mungkin mati tak sesakit itu, buktinya Melati tersenyum saat benda mematikan itu menembus jantungnya dan membuat pembuluh darahnya terputus.
 
Korek yang kupegang terlihat lebih menggiurkan daripada sebelumnya. Kurasa sekarang waktu yang tepat untuk menyusul Ayah, Ibu, Melati dan yang lainnya. Aku akan memberi perayaan terakhir yang lebih meriah daripada yang mereka lakukan, perayaan yang tak akan pernah mereka lupakan dan bahkan mungkin tak bisa diingat lagi oleh mereka.
 
Jariku dengan enteng menyalakan api, melihatnya menyala-nyala beberapa menit sebelum melemparnya ditumpukan petasan yang kutaruh tepat di samping kotak berisi bom. Aku tak bisa meraskan tubuhku lagi, tapi aku tahu ledakanku jauh lebih besar daripada ledakan mereka, itu artinya perayaanku jauh lebih meriah daripada yang mereka rencanakan. (dwi)

Editor : Duito Susanto
#perang #kehilangan #cerita pendek #melati #kaltim post #dendam