Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Meritokrasi versus Mediokrasi, Sebuah Cerita Pendek Oleh Sahari Nor Wakhid

Redaksi KP • Minggu, 15 Februari 2026 | 08:59 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

KALTIMPOST.ID - Sekolah tidak runtuh oleh kebodohan. Sekolah bisa runtuh oleh orang-orang yang tahu mana yang benar, tetapi memilih diam. Pikiran itu datang bersamaan dengan bunyi bel pertama saat Pak Lukman berdiri di depan pintu ruang guru SMP Negeri 9. Ia seolah berharap waktu bisa memberi tanda lebih dulu tentang apa yang akan terjadi.

Halaman sekolah masih basah oleh sisa hujan subuh. Daun-daun ketapang menempel di paving, tak sempat disapu. Sekolah tampak seperti menahan napas. Terlihat tenang di luar, tetapi gelisah di dalam.

Di papan pengumuman dekat ruang guru, kertas kosong telah ditempel sejak kemarin. Siang nanti, kertas itu akan berisi satu nama kepala sekolah baru. Nama yang dipilih bukan hanya untuk memimpin, melainkan untuk menentukan arah. Apakah sekolah ini masih percaya pada meritokrasi atau menyerah pada mediokrasi yang rapi dan sopan?

Pak Lukman masuk ke ruang guru. Bau kopi hitam dan kertas fotokopi menyambutnya. Beberapa guru sudah duduk. Ada yang berbicara lirih, ada yang sudah sibuk menyiapkan perangkat ajarnya, dan ada yang asyik sendiri. Begitu Pak Lukman melangkah lebih jauh ke dalam ruangan, percakapan mendadak terputus, gerakan tangan terhenti, dan udara seakan mengeras. Semua aktivitas berhenti serentak, seperti jarum jam yang malas berdetak, meninggalkan Pak Lukman berdiri di tengah ruang yang mendadak terlalu sunyi.

“Pak Lukman, hari ini ya?” sapa Bu Mira, guru senior yang berada di sekolah sejak tahun pendirian, memecah kesunyian.

Pak Lukman mengangguk. Ia duduk, meletakkan map cokelat di atas meja. Isinya berkas seleksi kepala sekolah yang berupa nilai uji kompetensi, rekam jejak kepemimpinan, dan rencana pengembangan sekolah. Ia tidak membukanya. Semua itu sudah ia hafal, seperti doa yang diulang-ulang agar tetap percaya.

Tak lama kemudian, Pak Rudi masuk. Kepala sekolah lama itu selalu tampak tenang, bahkan pada hari-hari genting. Senyumnya tipis dan terukur. Di belakangnya, menyusul Pak Seno dengan langkah ringan dan wajah santai, seperti orang yang tidak sedang menunggu keputusan besar.

“Bapak-Ibu,” kata Pak Rudi, “hari ini dinas pendidikan menetapkan kepala sekolah baru. Saya harap kita semua bisa menerima hasilnya dengan dewasa.”

Kata yang disampaikan Pak Rudi mengendap di telinga Pak Lukman. Kata ‘dewasa’ sering kali merujuk pada diam dan tidak berbuat apa-apa. Pasrah.

Pak Rudi membuka mapnya. Tidak ada jeda dramatis. Tidak ada pengantar panjang.
“Berdasarkan keputusan dinas,” kata Pak Rudi kemudian, “kepala sekolah yang ditetapkan adalah Pak Seno.”

Tepuk tangan terdengar terputus-putus. Bu Mira menunduk. Pak Lukman tetap duduk, dadanya terasa seperti diikat tali yang ditarik perlahan. Kemudian, ia berdiri.

“Maaf, Pak Rudi,” ucapnya. Suaranya tenang, tapi ada getar yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan. “Bolehkah saya bertanya?”

Pak Rudi menoleh. “Silakan, Pak Lukman.”
“Apakah dinas menyampaikan dasar penetapan?” Pak Lukman menatap lurus.

“Karena berdasarkan proses seleksi, nilai kompetensi manajerial dan supervisi akademik saya lebih tinggi.”

Sunyi jatuh di ruang guru. Pak Seno tersenyum kecil. “Pak Lukman terlalu percaya angka,” katanya ringan. “Kepemimpinan itu tidak selalu bisa diukur.”

“Justru karena itu,” Pak Lukman menatapnya, “kita perlu ukuran agar tidak terjebak pada selera.”

Pak Rudi berdehem. “Ini keputusan dinas.”

“Keputusan,” Pak Lukman mengulang, “atau kompromi?”

Bu Mira menarik napas tertahan. Pak Rudi menajamkan pandangan.

“Hati-hati! Ini institusi!” Pak Rudi menegaskan.

Tetiba, kilasan masa lalu menyelusup tanpa izin. Pak Lukman teringat dirinya belasan tahun lalu. Ketika ia sebagai guru muda di kelas sempit, berjanji pada murid-muridnya bahwa sekolah adalah tempat keadilan bekerja. Ia ingat malam-malam menyusun program, mengikuti pelatihan dengan biaya sendiri, menolak ajakan mendekat pada pejabat karena takut kehilangan kebebasan berpikir.

Ia berdiri di ruang guru hari ini sebagai hasil dari semua itu. Ironisnya, justru di sinilah ia harus kalah atau sengaja dikalahkan oleh sistem yang jarang memberi ruang pada meritokrasi.

Rapat ditutup singkat. Pak Rudi keluar lebih dulu. Guru-guru lain berangsur bubar. Pak Seno mendekati Pak Lukman.

“Pak Lukman,” katanya sambil tersenyum, “jangan keras begitu. Ini bukan soal siapa paling mampu.”

“Lalu soal apa?” tanyanya.

Pak Seno menepuk bahunya. “Soal tahu diri.”

Kalimat itu terasa lebih jujur daripada semua pidato pagi tadi.

Menjelang siang, Pak Lukman masuk kelas. Ia menulis di papan tulis, menjelaskan seperti biasa, tetapi pikirannya berputar di tempat yang sama. Murid-murid menatapnya, merasakan sesuatu yang ganjil.

“Pak,” Amanda, seorang murid kelas 8D yang terkenal cerdas pun bertanya, “kalau orang yang paling siap tidak dipilih, gunanya belajar untuk apa?”

Pertanyaan itu menghantam tepat di batin Pak Lukman. “Belajar,” katanya pelan, “agar kalian tahu mana yang benar, meski tidak selalu menang.”

Bel berbunyi. Pak Lukman duduk sendiri di kelas kosong. Cahaya matahari masuk dari jendela berdebu. Ia menatap kursi-kursi murid, membayangkan masa depan yang akan mereka hadapi. Masa depan yang mungkin menuntut kepandaian, tetapi lebih sering menuntut kedekatan.

Sore hari, surat dari dinas tiba. Surat pemanggilan kepada Pak Lukman. Tepat di hari yang sama. Terlalu cepat telinga institusi mendengar kasak-kusuk. Pak Lukman sangat masygul. Tak berapa lama lagi, ia berkeyakinan pasti akan ada pembungkaman suara. Hanya saja, bagaimana caranya yang tak bisa ia prediksi.

Pak Lukman pun siap pasang badan menuju ruang dinas. Udara ruangan begitu dingin dan rapi. Pak Rudi duduk di sisi Kepala Dinas, diam. Kepala Dinas menatap Pak Lukman lama sebelum bicara.

“Pak Lukman,” katanya, “kami menerima laporan bahwa Anda tidak menerima hasil penetapan.”

“Saya menerima hasilnya,” jawabnya. “Saya tidak menerima caranya.”

“Kami butuh stabilitas,” kata Kepala Dinas.

“Stabilitas tanpa kualitas,” Pak Lukman menatap lurus, “hanya akan melahirkan mediokrasi.”

Sunyi. Kata itu menggantung, telanjang.
“Kami putuskan,” kata Kepala Dinas akhirnya, “Anda dipindahkan ke bagian administrasi. Efektif hari ini.”

Hari ini. Satu hari. Semua selesai dalam satu hari.

Menjelang senja, Pak Lukman kembali ke sekolah dan merenung. Lorong sepi sekolah seolah membiarkan kegelisahannya tak menemukan peraduan. Bu Mira menghampirinya.

“Pak,” katanya lirih, “Bapak menyesal?”
Pak Lukman menggeleng pelan. “Saya kecewa,” katanya. “Tapi tidak malu.”

Ia melangkah keluar gerbang sekolah. Di papan pengumuman, nama Pak Seno terpampang rapi. Tak ada salah eja. Tak ada coretan.

Hari itu, tanpa keributan, tanpa perlawanan terbuka, meritokrasi dikalahkan oleh mediokrasi. Bukan karena yang benar lemah, tetapi karena yang biasa-biasa saja terlalu dekat dengan kekuasaan.

Pak Lukman pulang membawa satu keyakinan pahit bahwa di dunia pendidikan, yang paling berbahaya bukan ketidakmampuan, melainkan ketidakjujuran yang dilegalkan. Entah sampai kapan sistem seperti ini akan terus berjalan? (*)

 

Sahari Nor Wakhid, Guru SMP Negeri 5 Sangatta Utara, Kutai Timur. Mulai menekuni dunia kepenulisan sejak tahun 2020. Telah menerbitkan 10 buku solo dan 55 antologi bersama. Buku paling mutakhirnya adalah Liburan di HutanWehea (Cerita Anak Dwibahasa Kutai-Indonesia, 2025). Bisa dikontak melalui Instagram @saharienwe

Editor : Duito Susanto
#Cerpen Pendidikan #meritokrasi #dunia pendidikan #sangatta utara #Sahari nor wakhid #guru indonesia