Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Mai dan Kisah Fiksinya, Cerpen Karya Ali Mahfud

Redaksi KP • Minggu, 15 Februari 2026 | 09:19 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

KALTIMPOST.ID - Mai suka menulis, tapi ia hanya tertarik menulis kisah hidupnya sendiri yang dibalut dalam cerita fiksi. Semua karyanya, jika pembaca jeli dan mau mencari tahu siapa dirinya, adalah murni pengalaman hidup yang ia alami. Hanya saja sulit bagi siapa pun mengerti bahwa di balik perangainya yang riang dan sedikit liar, ia sosok perempuan yang senang melarutkan diri dalam kesedihan. Entah untuk apa dan atas dasar apa. Ia begitu menikmati setiap momen kesedihan yang ia alami.

Jauh sebelum mengenal Ben, lelaki lembut dengan kegemaran facial-nya, Mai setidaknya sudah tiga kali menjalin hubungan.  Dan semua berakhir menyakitkan.

Pria pertama yang menyakiti hatinya adalah Kin, badboy kampung yang bangga dengan nama samarannya. Ia sejatinya lahir sebagai Ambar. Hanya karena nama itu terdengar feminim ia lantas mendaulat dirinya sebagai Kin. Bagi kedua telinganya yang sedikit timpang, Kin terdengar sangat lelaki. Nama itu membawa kesan sangar tapi tenang, mirip tokoh antagonis dalam film-film gangster Korea yang selalu jarang bicara. Dan Kin memang berlaku demikian. Ia ingin terlihat wibawa di depan teman-temannya, tenang, kalem, namun ditakuti.

Suatu siang Kin yang tengah mengadang gerombolan anak sekolah bersama teman-temannya, terpesona oleh kehadiran Mai. Ia merasakan sesuatu yang baru ketika menatap wajah Mai yang lugu dan sedikit tomboi. Sesuatu yang belum pernah sekali pun ia rasa selama hidupnya. Rasa itu begitu cepat menjalar ke dada, membuatnya berdegup lebih kencang dari biasanya.

Mai menolak memberi uang ketika gerombolan Kin mengadangnya. Tak terlihat sedikit pun rasa takut di wajahnya. Sementara anak-anak lain, cowok dan cewek, semua menyerahkan uang di saku dengan sukarela. Hampir saja Mai dipukul gerombolan Kin kalau Kin tidak buru-buru berteriak menghentikannya.

Kin membiarkan Mai lewat tanpa menyerahkan uang serupiah pun. Sejak saat itu Kin lebih sering mangkal di jalan itu, menunggu Mai lewat, menatap wajahnya hingga ia lenyap di tikungan depan.

Selama satu tahun, hampir setiap hari Kin melakukan tindakan yang terbilang konyol itu. Sampai suatu ketika keberaniannya muncul. Ia nekat mencegat Mai dan menyerahkan amplop merah jambu bergambar malaikat yang sedang melepaskan anak panah. Begitu amplop itu berpindah tangan, Kin langsung lari secepat kilat dan lenyap di antara barisan pohon jambu.

Sejak saat itu, entah bagaimana semua bermula, terjalinkah kisah asmara antara Kin dan Mai. Mereka sering jalan bersama dan menikmati malam di kota yang sepi. Hubungan mereka bertahan dua tahun meskipun tak ada perkembangan yang signifikan dan cenderung stagnan.

Semua berubah ketika Mai harus ke luar kota melanjutkan pendidikan di sana. Mereka jarang bertemu dan jalan bersama. Hanya lewat telepon komunikasi yang terjalin. Itu pun tak begitu memberi kesan. Kin yang tak pandai merangkai kata lebih sering diam mendengarkan Mai bercerita tentang aktivitasnya di kampus. Cerita yang terpaksa ia ulang berkali-kali karena Kin memilih menjadi pendengar saja.

Semua menjadi hambar, tak menggairahkan. Kin mulai jarang menelepon Mai, begitu juga Mai sibuk dengan kuliahnya. Tahun kedua kuliahnya, Mai bahkan tidak sempat pulang. Aktivitasnya di kampus benar-benar menyita waktunya.

Di tahun keempat, Mai mendapat kabar dari kakaknya bahwa ayahnya sakit keras. Ia memutuskan pulang. Ini kesempatan bagus untukku bisa bertemu Kin, batinnya waktu itu. Mai saat itu juga langsung terbang ke kota kelahirannya. Sepanjang perjalanan perasaannya tidak tenang. Ia khawatir dengan keadaan ayahnya yang sudah beberapa tahun belakang sering sakit-sakitan. Tapi, justru Kin yang sering ia pikirkan. Ia rindu, tapi juga ragu. Perasaan ganjil itu muncul tiba-tiba. Dan Mai tidak tahu bagaimana melepaskannya. Ini sesuatu yang baru baginya. Selama ini ia yakin bahwa Kin adalah pilihan terbaik untuk masa depannya. Mai bahkan sering membayangkan hidup bahagia berkeluarga dengan Kin. Berdua saja, tanpa anak. Mai masih trauma.

Setelah hampir dua jam perjalanan pesawat, Mai tiba di bandara. Kakak perempuannya yang menjemput. Mereka berpelukan, melepas rindu yang lama tak terlampiaskan. Saat itulah. Saat Mai asyik berbincang dengan kakaknya, Mai mendapati pria yang sangat dikenalnya tengah berjalan bergandengan bersama perempuan lain yang jauh lebih tua darinya. Perempuan yang berdandan menor dan berponi kuda itu sesekali sibuk mengatur gendongan bayinya. Bayi yang belum sempurna memanggil “papa” pada pria di sebelahnya.

Dari sinilah semua karya fiksi Mai bermula. (dwi)
 
 
 

Ali Mahfud. Guru di SMP Negeri 1 Randudongkal. Pernah meraih juara 1 Lomba Penulisan Cerita Rakyat tingkat Provinsi Kalimantan Timur tahun 2024 setelah di tahun sebelumnya di event yang sama meraih peringkat tiga. Karya yang pernah diterbitkan di antaranya: cerpen berjudul Mai (kaltimpost), opini berjudul Guru dan Binatang Langka, Pemerintah Melindungi Siapa? (Majalah DERAP), novela berjudul Beliant(Bentang Pustaka, 2017), Dongeng Hewan dan Nilai Moral(Elexmedia Komputindo, 2018), opini berjudul Paperless is Effortless (Tribunkaltim, 2022), antologi True Story berjudul Sekali Hijrah Selamanya Istiqomah (Diva Press, 2017), Pembelajar Bahasa, Apa Esesnsinya? (Trenlis, 2023), serta beberapa karya antologi fiksi dan non fiksi. Penulis bisa disapa di akun facebooknya https://www.facebook.com/alimahfud84atau e-mail: sastradanbudaya@gmail.com.

Editor : Duito Susanto
#sastra indonesia #karya fiksi #Ali Mahfud #cerita pendek #kaltim post