KALTIMPOST.ID - Bus yang kutumpangi sudah berada jauh di luar kota dan berjalan dengan kecepatan sedang. Matahari di atas sana nyaris berada di garis vertikal. Sinarnya terik sekali.
Perjalanan ini kukira telah memakan waktu hampir sejam sejak dari terminal tadi. Dan beberapa penumpang ada yang tertidur di tempat duduknya dengan pulas hingga dengkurnya terdengar.
Aku membuang tatapan keluar jendela, memperhatikan jajaran pepohonan di sepanjang tepi jalan yang seolah-olah berlari dengan cepat ke belakang. Sementara dalam hati sebenarnya aku memendam kegelisahan. Ingin bus ini agar lebih cepat lagi, jika mungkin terbang saja, biar segera sampai di kampungku.
Aku ingin buru-buru mengetahui keadaan keluargaku di sana. Adakah mereka selamat dan baik-baik saja semuanya?
Dan juga, bagaimana dengan Masniah? Juga keluarganya? Apakah mereka baik-baik pula? Terbayang wajah gadis manis itu di depan mataku, serta semua kenangan indah yang pernah kami lalui bersama.
Kampungku dilanda banjir dahsyat. Rumah-rumah banyak yang roboh dan terendam. Tiga orang dinyatakan tewas, terdiri dari anak-anak serta orangtua. Banjir tersebut diakibatkan hujan lebat dua hari dua malam serta meluapnya air sungai. Demikianlah. Berita itu kudengar dari media online semalam yang membuat aku merasa panik dan gelisah.
Bayangan ayah-ibu serta adik-adikku melintas dalam benakku. Resah tak berkesudahan memikirkan mereka, akhirnya aku memutuskan pulang. Aku mesti tahu keadaan mereka. Semoga Tuhan melindungi keluargaku, bisikku dalam hati sekarang ini. Juga melindungi Masniah beserta keluarganya. Kucoba menyingkirkan segenap keresahan yang ada.
Semenjak aku memutuskan pergi ke kota, bekerja sambil meneruskan pendidikan di perguruan tinggi, kami sudah jarang berkomunkasi lewat handphone apalagi bertemu secara langsung, karena berbagai kesibukan aku sangat jarang pulang kampung. Jarak seakan terbentang di antara kami.
“Jadi kau akan pergi ke kota?” tanya Masniah, beberapa tahun yang lewat, sudah lama sekali. Saat itu kami baru saja merayakan hari kelulusan dari SMA.
“Ya, Niah. Aku mau cari pengalaman. Kalau bisa bekerja sambil kuliah,” jawabku.
“Itu bagus. Kudoakan agar semua impianmu tercapai.”
“Termasuk impianku yang satu itu!”
“Apakah itu?”
“Setamat kuliah aku akan kembali ke desa ini, dan….”
Masniah menatapku tajam. Aku tersenyum penuh goda. Saat itu hanya ada kami berdua di tanah huma milik orangtuanya itu. Kami berbincang di bawah dangau bertiang tinggi dan beratap ilalang, di tengah-tengah hamparan padi yang baru mulai menguning. Angin bertiup. Burung-burung berterbangan di udara. Namun, suasana di tanah huma itu terasa alangkah sepinya.
“Ayo, katakan! Apa?”
“Dan menjadikanmu sebagai istriku! Aduuh…..hahaha….”
Masniah memukul pundakku dengan gemas. Aku berlari menghindar. Tapi dia terus mengejar.
“Gadis-gadis kota, kelak akan membuatmu lupa padaku, Ardi.”
“Sama sekali tidak. Aku yakin itu. Karena toh sejak kecil kita sudah berteman. Terlalu banyak kenangan bersamamu, Niah. Mana bisa aku melupakanmu.”
Masniah mencibirkan bibirnya yang bagus itu. Sungguh, aku gemas sangat melihatnya. Ih!
“Aku tidak terlalu berharap, Ardi. Toh selama ini kita hanya seperti berteman dekat, seperti pacaran atau pacaran sepertinya. Maksudku yang sebenarnya, supaya nanti di antara kita tidak ada yang merasa dikhianati atau disakiti, bila kelak kita memang tidak bisa bersama,” ucap Masniah lirih.
Aku tertegun mendengarnya. “Kau benar, Niah. Tak seorang pun yang ingin dikecewakan atau dikhianati. Tapi waktu dapat mengubah segalanya. Yang terjadi kemudian tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan,” ucapku, sedikit berfilsafat.
Bus terus juga berjalan. Bunyi mesinnya terdengar menggerung-gerung ketika menyusuri jalan yang menanjak.
Tiba-tiba aku merasa lenganku disentuh pelan. Ingatanku kepada Masniah buyarlah sudah. Aku pun segera menoleh ke samping kiri, tampak bapak tua berkaca mata yang duduk di sebelahku itu mengumbar senyuman. Kepalanya sangat besar —-menurutku, dan hidungnya bengkok seperti paruh burung Enggang.
Aku membalasnya. Dia bertanya aku hendak ke mana. Kusebutkan nama kampungku. Demi mendengar itu dia seperti tersentak dan memandangku lurus-lurus.
“Bukankah kampung itu yang terkena bencana banjir sebagaimana yang banyak diberitakan?" tanyanya. Aku mengangguk.
"Benar, Pak."
"Dan keluargamu...?”
"Ya, saya belum tahu keadaan mereka bagaimana, tidak ada yang bisa dihubungi, karena itulah saya sekarang pulang.”
"Mudah-mudahan keluargamu baik-baik saja, lepas dari bencana itu."
Aku hanya mengangguk, namun dalam hati aku mengucapkan terima kasih atas harapan yang diberikannya itu.
"Adik di kota sudah bekerja atau masih kuliah?" tanya bapak berkepala besar dan berhidung bengkok itu lagi.
"Bekerja sambil kuliah, Pak,” jawabku tersenyum. "Saya ini anak sulung, di kampung masih ada adik-adik saya yang berjumlah empat orang. Mereka masih duduk di bangku SD dan SMP,” sambungku menjelaskan meskipun tanpa diminta. Dan
kataku lagi: "Ayah saya pegawai negeri, kerja di kantor camat. Namun di samping itu kami sekeluarga juga aktif berladang."
"Oh ya, bagus itu. Ah, memang enak kok hidup di kampung,” komentar bapak itu tertawa.
"Bapak ini sendiri mau ke mana?" aku balik bertanya. Sekadar ingin tahu saja. Dan dia menyebutkan tempat tujuannya, sebuah kampung kecil yang letaknya jauh di sebelah selatan kampungku sendiri. Katanya dia ingin menjenguk salah seorang keluarganya di sana. Dia, atau bapak itu, tinggalnya di kota.
"Jadi Bapak harus melewati lebih dulu kampung saya,” tukasku.
"Ya, benar."
"Semoga saja kampung kecil tempat keluarga Bapak tidak terkena bencana banjir."
“Begitu pula tentunya harapan saya," jawabnya tersenyum. "Tapi banjir memang sekarang gampang terjadi lantaran banyak orang membabat hutan seenaknya. Bikin perkebunan kelapa sawit dan pertambangan batu bara. Pohon-pohon ditebangi untuk memenuhi kepentingan golongannya sendiri. Akibatnya bila hujan turun, hutan yang telah gundul plontos itu, tak mampu menahan air untuk tidak mengalir ke daerah-daerah rendah, air itu akhirnya membanjir.”
Aku tak menanggapi ucapannya itu. Tapi dalam hati aku membenarkan. Dan selanjutnya kami pun tidak bicara lagi. Sama-sama berdiam diri, terbawa gelombang pikiran di benak masing-masing.
Pukul tiga sore akhirnya bus sampai juga di kampungku. Ternyata hanya aku seorang penumpang yang turun di situ. Bus tersebut segera meneruskan perjalanan membawa penumpang-penumpang lainnya dengan tujuan masing-masing.
Banjir masih mengepung kampungku. Airnya menenggelamkan separuh bangunan rumah. Di halaman balai desa jauh di sana yang tidak tersentuh air karena terletak di dataran tinggi, kulihat banyak orang-orang berkumpul. Dan tampak pula kemah-kemah darurat didirikan. Rupanya di sanalah para penduduk menyelamatkan diri.
Apakah keluargaku ada di sana? Atau? Berbagai pertanyaan di benakku membuat aku jadi gelisah sendiri dan tak mampu menjawabnya. Ketika sebuah perahu lewat di depanku aku segera saja memanggilnya. Kebetulan yang mengemudikannya adalah temanku juga, Hamdan.
"Hai, Ardi!" teriaknya seraya membelokkan perahu ke arahku.
"Cepat kemarikan perahumu, Dan,” kataku pula. "Antarkan aku segera ke halaman balai desa itu!"
Aku segera meloncat ke dalam perahu sembari mengisyaratkan kepada Hamdan agar cepat mengantarkan aku ke tempat itu, halaman balai desa. Namun Hamdan hanya memandangku sambil nyengir kuda.
“Seluruh keluargamu tak satu pun ada di sana, Ar,” katanya. "Mereka semua....."
"Apa!?" potongku sebelum habis ucapan Hamdan, terkejut bukan main. "Apakah ayah-ibu serta adik-adikku....” Aku pun tidak dapat meneruskan kata-kataku, karena tiba-tiba saja tenggorokanku seolah tersekat, jantungku berdebar dua kali lebih cepat dari biasa. Bayangan buruk tentang keluargaku bermain-main di depan mataku.
“Ya,” tukas Hamdan lagi mengagetkanku. "Mereka semuanya tak ada di halaman balai desa itu."
"Apakah keluargaku....'
"Ditelan bencana banjir ini kaukira? Oh, tidak, Ardi. Kau harus bersyukur kepada Tuhan, karena ketika banjir ini terjadi, ayah-ibu serta adik-adikmu tidak berada di rumah, melainkan mereka berada di ladang. Jadi mereka semuanya selamat dan tak kurang suatu apa."
"Benarkah?" tanyaku dengan girang. Tiba-tiba saja dadaku serasa dipenuhi oleh gelombang kebahagiaan.
"Ya," jawab Hamdan. "Keluargamu sekarang sibuk membantu para penduduk yang sebagian mengungsi ke tanah ladang di lereng gunung itu.”
"Cepat! Bawa aku segera ke sana, Hamdan!" teriakku gembira. "Aku pun ingin turut membantu para tetangga kita yang terkena musibah banjir ini."
Hamdan tersenyum dan menganggukkan kepala. Segera dikayuhnya perahu ke arah utara di mana ladang keluargaku berada.
Dan setelah selama seminggu aku berkumpul bersama keluarga: ayah, ibu dan adik-adikku, dan banjir pun sudah lewat pula, seluruh penduduk kampung telah kembali ke rumahnya masing-masing, aku lantas teringat kepada Masniah dan berencana untuk menemuinya.
“Saya ingin pergi sebentar, Pak-Bu,” kataku kepada bapak dan ibu. Pamitan.
“Hendak ke mana kau?” tanya ibu.
“Menemui teman. Kami lama tidak bertemu.”
“Oh, kau mau menemui bekas pacarmu dulu, si Masniah?”
Aku tertawa. “Ibu tahu saja. Iyalah.”
Bapak dan ibu sejenak berpandangan. Tapi bapak menggerakkan bahunya, dan memandang ke tempat lain. Ibu menatapku sambil menghela napas panjang.
“Siang seperti ini biasanya dia ada di tanah huma milik orangtuanya, kau bisa temui dia di sana,” kata ibu.
“Dia sudah bekerja, Bu?”
“Tentu saja sudah. Dia bekerja di kelurahan. Tapi kecintaannya pada tanah huma, pada tanah ladang dan padi-padi yang menghijau dan kemudian menguning, tidak pernah luntur. Sepulang kerja, jika tidak ada kegiatan lain, dia selalu pergi ke huma. Masniah wanita yang baik. Temuilah dia.”
Ibu bisa saja, pikirku. Namun aku merasa seperti ada sesuatu yang tidak diungkapkan oleh bapak maupun ibu. Seperti ada yang disembunyikan. Aku tak mengerti. Aku segera berlalu untuk menemui Masniah.
Kedua tanganku perlahan menyibak semak perdu yang berbunga kecil-kecil berwarna ungu. Aku sudah berada di kawasan tanah huma milik orangtua Masniah. Angin selalu saja bertiup di dedaunan pohon dan di batang-batang padi gunung yang masih menghijau belum mengeluarkan bulir padinya. Ada kudengar suara senandung perempuan, lembut mengalun di kesepian tanah huma. Itu suara Masniah. Aku sangat mengenalnya.
Benar. Kulihat dia tengah berdiri di bawah pohon langsat di dekat pondoknya yang bertiang tinggi dan beratap ilalang. Dia mengenakan baju daster bermotif bunga-bunga kecil berwarna pink tanpa lengan, sehingga pundaknya yang bagus dan putih itu kelihatan. Kedua tangannya memegang sebatang bambu kecil sebagai galah untuk menjatuhkan setangkai buah langsat yang telah masak menguning di dahan pohonnya.
“Biar aku saja yang mengambilkan buah langsat itu untukmu, Niah!” seruku dari arah belakangnya.
Dia berpaling, dan tampak sangat terkejut. “Ardi?!”
“Ya, Niah. Maaf, aku datang tanpa memberi kabar padamu terlebih dulu.”
Masniah mengatupkan bibirnya yang merah dan tipis itu rapat-rapat. Kudengar dia menarik napas panjang. Seperti kesal. Seperti marah. Namun, matanya menatapku dengan sendu.
“Kukira kita sudah saling melupakan, Ardi. Jarak kita rasanya sudah terlampau jauh. Kau sibuk di kota, dan aku juga sibuk di sini. Aku tak menyangka kita akan bertemu lagi di tanah huma yang sepi ini.”
Aku berdiri kaku dan menatap Masniah. Lama. Oh, betapa cantiknya dia sekarang. Nampak semakin dewasa dan matang.
“Kau jangan marah, Niah. Sebelum aku pergi menemuimu di huma ini, tadi kusempatkan mampir ke rumah orangtuamu. Bapak dan ibumu sudah menceritakan semuanya. Terus-terang aku terkejut juga dibuatnya, mengetahui bahwa kau sudah bersuami meski hanya berlangsung seumur jagung. Aku turut bersedih atas derita yang kau terima,” bisikku, lirih.
“Ardi…Kau….”
“Semuanya adalah kehendak alam, Niah. Belum setahun kau berumah tangga dengan pria itu, kau harus kehilangan dia begitu cepat.”
“Kanker otak itu telah begitu akut dan merenggut nyawanya beberapa bulan yang lalu, Ardi. Aku benar-benar merasa kehilangan dia, dan lagi….” Masniah tidak meneruskan kata-katanya.
Kedua tangannya memegang perutnya yang masih terlihat rata. Dielusnya perlahan. Dua titik air bening mengalir dari kedua sudut matanya, membasahi pipinya yang mulus.
“Ya ya, aku mengerti, Niah. Almarhum suamimu, telah meninggalkan janin muda itu dalam perutmu. Kasihan sekali. Tapi kelak, aku tak ingin bayi di rahimmu itu lahir tanpa seorang ayah. Dia harus lahir disambut oleh seorang ibu dan seorang ayah yang sangat menyayanginya. Akulah nanti yang akan menjadi ayahnya!”
“Ardi!” Masniah menatapku, tak percaya.
Aku mengangguk kuat. Aku tak ingin Masniah ragu akan keputusanku. Tekadku sudah bulat, aku akan melamar Masniah dan menjadikannya sebagai istriku. Akan kuberikan cintaku sepenuhnya untuknya.
Dengan lembut kuraih kedua tangan Masniah. Kugenggam dengan sepenuh sayang. Masniah diam, dan membiarkan. Sorot mata kami saling bertatapan. Kulihat di kedua bola matanya yang indah itu, terpancar sinar kebahagiaan. Di dalam hatiku juga. Lama kami berpegangan tangan dan berpandangan.
Suasana di tanah huma itu, alangkah terasa sunyi dan sepinya. Namun di dalam hati kami berdua, serasa ada suara senandung dan nyanyian yang amat sangat membahagiakan. (*)
Akhmadi Swadesa, lelaki dari Tanah Paser yang suka nulis cerpen. Anggota Jaring Penulis Kaltim (JPK).