Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Riuh yang Tertinggal, Cerpen Karya Sahari Nor Wakhid

Redaksi KP • Minggu, 5 Juli 2026 | 08:31 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

KALTIMPOST.ID - Suara paling bising tidak selalu lahir dari ribuan orang yang memenuhi jalan raya. Kadang ia bersembunyi di ruang yang sempit, di antara tumpukan buku yang belum sempat diperiksa, dan aroma kopi yang mulai kehilangan hangatnya. Di sanalah keyakinan saling berkelindan tanpa pengeras suara, tanpa spanduk, tanpa barikade. Yang tersisa hanyalah kata-kata yang perlahan berubah menjadi senjata, mengiris persahabatan yang telah dibangun bertahun-tahun. 

Ruang guru terasa lebih gaduh daripada suara di jalanan. Rendra menatap layar gawainya. Tayangan memperlihatkan lautan mahasiswa yang bergerak perlahan menuju pusat kota dalam demonstrasi bertajuk ‘Aksi Menuju Indonesia Bangkrut’. 

Lima tuntutan menjadi nadi aksi hari itu. Massa menuntut penghentian pemborosan APBN, turunkan harga kebutuhan pokok dan BBM nonsubsidi, hentikan MBG dan Koperasi Desa Merah Putih, akhiri militerisme di ranah sipil, serta mendesak pemerintah mengakui kesalahan dan berhenti mengelak dari kritik. 

Baca Juga: Garis Terakhir, Cerita Pendek Karya Sugiyarno Sutoko

Rendra menyimak tanpa berkedip, seolah setiap kalimat sedang mencari tempat untuk berdiam di dalam kepalanya.

Di seberang meja Rendra, Surya menutup map nilai yang sedang diperiksanya. Ia tidak menoleh sedikit pun.

“Masih saja ditonton.”

“Kenapa? Bukankah kita harus tahu apa yang sedang terjadi?”

Surya akhirnya menatap rekannya. Tatapannya datar, tetapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang jauh lebih keras daripada kata-kata.

Baca Juga: Pendidikan dalam Cengkeraman, Cerita Pendek Oleh Sahari Nor Wakhid

“Tahu saja tidak akan mengubah keadaan.”

“Setidaknya mereka tidak diam.”

“Diam tidak selalu berarti menyerah.”

“Begitu juga bersuara tidak selalu berarti membuat kerusuhan.”

Ruangan kembali tenggelam. Maya yang sejak tadi menyusun berkas hanya mengangkat kepala sekilas. Ia tahu, percakapan itu sedang menuju tempat yang tidak akan mudah mereka tinggalkan.

Rendra kembali memutar video. Tampak ribuan mahasiswa berjalan kaki setelah akses menuju lokasi aksi ditutup aparat. Kamera memperlihatkan wajah-wajah lelah, tetapi langkah mereka tidak berhenti. Seorang mahasiswa berkata lantang bahwa suara rakyat tidak boleh dibatasi pagar besi. 

Beberapa jam sebelumnya sekolah masih dipenuhi suara murid. Kini seluruh kelas sedang mengikuti kegiatan pembelajaran. Ruang guru menjadi lengang, menyisakan hanya tiga orang yang terjebak dalam percakapan yang tak lagi sederhana.

“Saya heran, Pak Surya,” suara Rendra sambil menyandarkan tubuhnya.

“Apa?”

“Bapak selalu mengajarkan murid untuk berpikir kritis. Tapi, ketika mahasiswa benar-benar kritis, Bapak justru menyalahkan mereka.”

“Bapak juga selalu mengajarkan keberanian, tapi lupa mengajarkan harga yang harus dibayar,” balas Surya tidak mau kalah.

Rendra tidak segera menjawab. Matanya justru tertuju pada jendela yang memantulkan langit siang. Pantulan itu membawanya pada ingatan yang tak pernah benar-benar hilang. Agustus 2025. Ruang guru yang sama. Gawainya juga menayangkan demonstrasi besar dengan tuntutan 17+8. Saat itu, hampir semua guru turut memperbincangkan. Rendra menjadi orang yang paling bersemangat. 

“Inilah wajah demokrasi,” katanya kala itu.

“Semoga tidak berubah menjadi wajah duka,” suara Surya sinis menimpali.

Rendra masih mengingat bagaimana ia menganggap kalimat itu sebagai sikap pengecut. Ia bahkan pernah berkata di depan guru-guru lain bahwa orang seperti Surya terlalu nyaman menikmati keadaan. 

Sejak hari itu, hubungan mereka mulai berubah. Bukan menjadi musuh, tapi tidak lagi benar-benar sahabat.

Kilasan itu buyar ketika suara Surya kembali terdengar, “Bapak masih menganggap demonstrasi Agustus tahun lalu berhasil?”

“Tidak semuanya,” balas Rendra.

“Lalu?”

“Setidaknya mereka membuat pemerintah mendengar.”

“Mendengar belum tentu mendengarkan.”

“Lebih baik daripada tidak bersuara.”

“Lebih baik lagi kalau suaranya melahirkan solusi.”

“Jadi, menurut Bapak mereka salah?” tanya Rendra seraya bangkit dari kursinya.

“Saya tidak bilang salah.”

“Lalu?”

“Saya bilang belum tentu benar.”

“Jawaban Bapak selalu menggantung.”

“Karena hidup memang tidak sesederhana memilih hitam atau putih.”

“Kadang saya berpikir bahwa Bapak hanya mencari alasan untuk membela pemerintah,” ucap Rendra dengan tatapan tajam.

“Saya juga sering berpikir bahwa Bapak hanya mencari panggung untuk merasa menjadi pahlawan,” balas Surya berdiri hingga tatapan mereka berada pada tinggi yang sama.

Maya spontan menghentikan pekerjaannya dan berteriak, “Sudah!”

Ada jeda sesaat. Surya berjalan menuju lemari arsip. Dari sebuah map kusam, ia mengeluarkan beberapa lembar kertas yang telah menguning di sudut-sudutnya.

“Masih ingat ini?” tanya Surya sambil menyodorkan lembaran.

Rendra menerimanya. Lembaran itu berisi esai-esai murid kelas XI setelah demonstrasi Agustus 2025. Ia membuka halaman pertama.

“Negara membutuhkan rakyat yang berani berbicara dan pemerintah yang bersedia mendengar.”

Halaman berikutnya.
“Demonstrasi bukan tujuan. Ia hanya jalan ketika pintu-pintu dialog ditutup.”

Rendra mengangguk pelan. Tulisan itu terasa lebih dewasa daripada perdebatan mereka. 

“Baca yang itu,” suara Surya sambil menunjuk lembar terakhir.

Rendra membaliknya. Tangannya berhenti. Nama penulisnya membuat napasnya tercekat. Nayaka Rendra Pratama, anaknya sendiri. Selama ini ia bahkan tidak tahu bahwa putranya pernah menulis esai itu. Perlahan ia membaca setiap kalimat.

“Ayah selalu berkata bahwa keberanian adalah menyampaikan kebenaran. Tetapi guru pernah berkata, keberanian yang lebih sulit adalah mendengarkan kebenaran dari orang yang tidak kita sukai.”

Rendra menelan ludah. Kalimat berikutnya terasa jauh lebih tajam.
“Aku ingin menjadi seperti Ayah yang berani berbicara. Tapi, aku juga tidak ingin menjadi Ayah yang berhenti mendengar ketika orang lain berbeda.”

Ruangan mendadak terasa sesak. Rendra menurunkan kertas itu.

“Bapak ... menyimpan semua ini?” tanya Rendra.

“Saya menyimpan semua tulisan murid yang menurut saya layak dibaca lagi ketika kita mulai merasa paling benar.”

Rendra terduduk perlahan. Ia baru menyadari bahwa selama ini ia sibuk mengikuti setiap berita, setiap siaran langsung, setiap komentar di media sosial, tetapi tak pernah benar-benar membaca isi hati anaknya sendiri.

“Itulah alasan saya tidak pernah ikut berdebat. Setiap kali Pak Rendra dan Pak Surya berdebat, saya justru mendengar ketakutan. Pak Rendra takut kalau rakyat berhenti bersuara. Sementara, Pak Surya takut kalau suara itu kembali memakan korban,” suara Maya tiba-tiba meledak ketika berusaha mengambil map dengan hati-hati.

“Saya memang tidak pernah bercerita. Dulu, saat kerusuhan bertahun-tahun lalu, adik saya tidak ikut demonstrasi. Dia hanya kebetulan melewati jalan yang salah. Dia tidak pernah pulang hingga sekarang,” ucap Surya.

Rendra terkaget dan memejamkan mata. Ia kini memahami bahwa penolakan Surya bukan lahir dari kebencian terhadap kritik, melainkan dari luka yang belum benar-benar sembuh.

“Saya salah menilai Bapak,” ucap Rendra sambil berdiri mendekati sahabatnya.

“Saya juga salah menilai Bapak,” balas Surya.

Gawai Rendra menunjukkan siaran langsung telah berakhir. Massa mulai membubarkan diri. Kamera terakhir memperlihatkan jalan yang perlahan kembali lengang, tetapi kolom komentar masih terus bergerak, saling menyalahkan, saling merasa paling benar.

Ruang guru juga kembali sunyi. Riuh itu memang telah berhenti terdengar. Namun, gema percakapannya akan tinggal jauh lebih lama daripada suara demonstrasi yang perlahan menghilang. (*)

Sahari Nor Wakhid, Guru SMP Negeri 5 Sangatta Utara, Kutai Timur. Mulai menekuni dunia kepenulisan sejak tahun 2020. Telah menerbitkan 11 buku solo dan 60 antologi bersama. Buku paling mutakhirnya adalah Di Antara Sampirandan Isi (Kumpulan Puisi, 2026). Bisa dikontak melalui Instagram @saharienwe

Editor : Duito Susanto
#cerpen kaltim post #sastra indonesia #dunia pendidikan #Sahari nor wakhid