KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Meski telah meninggal dunia, Titiek Puspa meninggalkan banyak kenangan.
Selain karya-karyanya yang selalu abadi, nasihat dan ceritanya akan selalu diingat dalam memori.
Pengalaman hidup perempuan kelahiran Kecamatan Tanjung, Kalimatan Selatan, 1 November 1937, merupakan cerita yang tidak ada habisnya.
Mulai dari meniti karier di bidang musik serta asmara, hingga perjalanan spiritualnya menarik untuk dikulik.
Diva legendaris ini rupanya memiliki perjalanan spiritual dan batin yang bergejolak.
Hal ini tidak terlepas dari kondisi masa kecilnya yang sulit dan penuh penderitaan.
Pada masa kecilnya, ia kerap keluar-masuk rumah sakit karena malaria. Menurut keluarganya, nama yang disandangnya tidak cocok.
Bahkan, namanya berganti beberapa kali. Mulai dari Sudarwati, Darwati, hingga Sumarti. Semua dilakukan dengan harapan sembuh.
Namun penyakit tak kunjung pergi dari tubuh kecilnya.
“Saya setiap bulan kena malaria. Dari dulu saya dikasih sakit,” kata Titiek Puspa dalam sebuah podcast pada tahun 2024.
Lantaran frustasi dengan penyakitnya yang tak kunjung sembuh, Titiek Puspa bersungut-sungut.
“Saya bilang ‘Mana Sang Maha Pengasih Sayang? Saya tiap malam sebut nama-Mu, kok saya yang disayang malah disakiti?’” kenang pemilik lagu Kupu-Kupu Malam ini.
Bahkan saking kecewanya, Titiek Puspa nekat menantang Tuhan. Kala itu,
ia mencoba bunuh diri dengan menabrakkan diri ke kereta api.
Namun jawaban mengejutkan diterimanya. Kereta yang ditunggunya tak kunjung datang.
Tak sampai di situ, Titiek Puspa kembali mencoba lagi menyakiti dirinya dengan cara ekstrem, yakni memakan segenggam cabai rawit hingga tubuhnya terasa terbakar.
“Saat saya makan, mulut seperti kena api. Saya pikir ini dia (bisa) mati, karena bunuh diri,” ujarnya yang kemudian mengaku usaha tersebut sia-sia saja.
Akhirnya, dari titik nadir itulah titik balik hidupnya muncul. Merasa upaya mengakhiri hidupnya gagal, Titiek dengan penuh rasa bersalah memilih bertobat dan berdamai dengan Tuhan.
Ia meminta maaf dan perlahan-lahan mulai menerima perjalanan hidupnya sebagai bentuk kasih yang tak biasa dari Sang Pencipta.
Perlahan hidup Titiek Puspa justru diubah pelan-pelan.
Pada usia 14 tahun, ia memenangkan kompetisi menyanyi yang diselenggarakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) di Semarang, yang menjadi titik awal kariernya di dunia hiburan.
Hasil juara 2 dari kontes tersebut memantapkan hatinya untuk tinggal di Ibu Kota Jakarta.
Namanya yang terkenal kemudian membuat ia kerap dipanggil ke Istana Presiden untuk bernyanyi. Presiden Sukarno kemudian memberinya nama panggung Titiek Puspa.
Pada pertengahan 1965, ia sempat mengikuti Misi Safari ke Eropa dan Afrika.
Selain menyanyi, ia juga menulis lagu, berakting dalam film, dan menciptakan operet. Pada tahun 1974, ia mewakili Indonesia di World Popular Song Festival di Tokyo dan berhasil mencapai semifinal.
Pada tahun 2009, Titiek didiagnosis menderita kanker serviks dan menjalani pengobatan di Singapura. Selama masa pengobatan, ia menulis 61 lagu dan akhirnya dinyatakan sembuh melalui meditasi yang ia lakukan.
Pada 26 Maret 2025, setelah menyelesaikan syuting acara "Lapor Pak!" di Trans7, Titiek Puspa tiba-tiba pingsan dan dilarikan ke Rumah Sakit Medistra di Jakarta.
Ia dinyatakan mengalami pendarahan otak dan dirawat intensif selama dua minggu. Titiek Puspa meninggal dunia pada Kamis, 10 April 2025 pada usia 87 tahun. (*)
Editor : Thomas Priyandoko