KALTIMPOST.ID, Bendera Palestina, seuntai kefiyah, dan 16.800 nama anak. Tiga hal itu tampaknya cukup untuk membuat panggung Kehlani di Cornell University lenyap dari jadwal.
Penyanyi R&B itu semestinya tampil dalam acara tahunan kampus elit di New York, Slope Day, namun mendadak dibatalkan.
Alasannya, solidaritas Kehlani untuk Palestina dianggap memecah belah.
“Sayangnya, meskipun bukan itu tujuannya, pemilihan Kehlani sebagai penampil utama tahun ini telah menimbulkan perpecahan dan perselisihan di Slope Day,” ujar Presiden Cornell, Michael L Kotlikoff, seperti dikutip dari Variety, Sabtu (26/4/2025).
Langkah itu diambil setelah Kehlani mengunggah video musik “Next 2 U” (2024) yang menampilkan simbol-simbol perlawanan Palestina, bendera, penari ber-kefiyah, dan tulisan “Long Live the Intifada.”
Bahkan di deskripsi YouTube-nya, Kehlani mencantumkan tautan ke laporan Aljazeera berisi daftar 16.800 anak yang dilaporkan tewas dibunuh Israel sejak Oktober 2023.
Dalam pernyataan resminya, Kotlikoff menegaskan bahwa Cornell menghormati kebebasan berekspresi, tetapi Slope Day bukan tempat untuk "kontroversi politik."
“Setiap artis memang memiliki hak untuk menyampaikan pandangannya. Tapi Slope Day adalah momen untuk menyatukan, bukan untuk memecah belah,” katanya.
Baca Juga: Alasan Mengapa Paus Fransiskus Memilih Dimakamkan di Luar Vatikan
Namun, reaksi publik tak kalah kuat. Banyak yang menyayangkan keputusan kampus tersebut, menilai Kehlani sedang memperjuangkan kemanusiaan bukan menebar kebencian.
“Kehlani tidak sedang menyerang siapa pun. Dia sedang mengangkat suara mereka yang sudah terlalu lama dibungkam,” tulis salah satu pengguna di media sosial X. ***
Editor : Dwi Puspitarini