KALTIMPOST.ID, Kisah unik datang dari pesulap terkenal Indonesia, Limbad, yang sempat bikin heboh petugas imigrasi Arab Saudi saat menjalankan ibadah umrah.
Gara-garanya? Bukan karena dokumen, tapi gigi taring permanen yang menjadi bagian dari citra mistisnya.
Cerita ini viral di media sosial usai dibagikan oleh komika Abdur Arsyad melalui video yang diunggah akun TikTok Clip Podcast.
Dalam video tersebut, Abdur mengungkap bagaimana Limbad sempat ditahan di Bandara Jeddah karena penampilannya yang dianggap mencurigakan oleh petugas.
"Sampai Imigrasi di Jeddah, dia kan punya taring ditanam, tidak bisa dilepas. Dia ditahan. Katanya ‘syaiton’, ‘syaiton’," ujar Abdur sambil tertawa, seperti dikutip dari video yang sudah ditonton lebih dari 1,1 juta kali.
Baca Juga: Artis Sinetron MR Ditangkap, Ini Kronologi Pemerasan dan Ancaman Video Syur Pasangan Sesama Jenis
Awalnya, pihak delegasi Indonesia sudah dihubungi untuk membantu menjelaskan situasi, tapi karena tak kunjung datang, Limbad terpaksa angkat bicara sendiri—sebuah momen langka, mengingat publik mengenalnya sebagai pesulap yang nyaris tak pernah berbicara di depan kamera.
"Karena nunggunya lama, Bapak Limbad ngomong di Imigrasi, ‘I’m Indonesian artist.’ Dia tunjukin video-videonya," lanjut Abdur.
Petugas yang sempat curiga akhirnya memahami siapa sosok misterius itu setelah melihat video-videonya sebagai artis.
Limbad pun akhirnya dilepas dan diizinkan untuk melanjutkan ibadah umrah.
Kabar ini pertama kali viral lewat akun X (dulu Twitter) @IndoPopBase, yang mengunggah foto Limbad dan ilustrasi suasana bandara.
Di kolom komentar, netizen ramai membayangkan ekspresi para petugas saat bertemu pria dengan jubah hitam, wajah tanpa ekspresi, dan gigi taring mencolok.
Baca Juga: Grup WhatsApp “Istri dan Mantan”: Aldi Jadi Adminnya! Niat Silaturahmi, Malah Diblok Nadia Vega
“Dikira setan kali ya,” tulis seorang warganet.
“Jadi ngebayangin nada ngomongnya kayak gimana wkwk,” komentar lainnya.
Tak sedikit yang menyebut kejadian ini lucu tapi juga membanggakan, karena Limbad tetap tenang dan menunjukkan identitasnya secara profesional meskipun dalam suasana penuh kesalahpahaman budaya dan bahasa. ***
Editor : Dwi Puspitarini