Sebuah keputusan yang mengejutkan sekaligus menantang—terutama bagi sosok yang selama ini lebih dikenal lewat dunia musik.
Bagi Ariel, tawaran itu tak serta-merta diterima. Ia mengaku perlu waktu menimbang sebelum menyelami karakter yang sudah begitu melekat di hati penggemar.
“Tokoh Dilan punya jiwa yang kuat dan penuh kenangan bagi banyak orang. Saya perlu memastikan dulu bahwa saya bisa menghargai itu,” ujar Ariel dalam konferensi pers di kantor Falcon Pictures, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Rabu (5/11).
Film Dilan ITB 1997 mengambil latar masa kuliah sang tokoh di Institut Teknologi Bandung, memperlihatkan sisi dewasa Dilan setelah masa remajanya yang ikonik. Bagi Ariel, peran ini seperti menutup lingkaran mimpi lamanya.
“Dulu saya ingin kuliah di ITB, jurusan seni rupa, tapi tidak lolos. Lewat film ini, saya akhirnya bisa ‘kuliah’ juga di sana—walau cuma di layar,” katanya sambil tertawa kecil.
Sang penulis novel, Pidi Baiq, tak ragu mendukung pilihan ini. Ia meyakini Ariel bisa menampilkan Dilan versi baru tanpa kehilangan ruh aslinya.
“Saya sejuta persen yakin Ariel cocok jadi Dilan dewasa. Karakter itu akan hidup dengan caranya sendiri,” ujar Pidi.
Dengan sentuhan musik dan ketenangan khasnya, Ariel tampaknya akan memberi napas baru pada sosok Dilan—bukan sekadar nostalgia, tapi juga perjalanan tentang kedewasaan, cinta, dan pilihan yang datang terlambat namun tetap berarti.
---
Editor : Uways Alqadrie