Di layar kaca ia kerap tampil lugas dan jenaka, namun di balik ketegaran itu terbentang kisah sepuluh tahun lebih pergulatan dengan tubuhnya sendiri.
Pertarungan itu dimulai pada 2011. Di sebuah ruang praktik yang dingin, dokter menyampaikan kabar yang seperti menutup hari: tumor di kepala yang ukurannya cukup besar, disertai prediksi bahwa hidupnya mungkin tinggal hitungan bulan.
Epy dan istrinya, Karina Ranau, sempat terpukul, tetapi tak tenggelam. Mereka mencari celah untuk berharap—berpindah dari satu metode pengobatan ke metode lain, sebagian medis, sebagian alternatif.
Ukuran tumor perlahan menyusut; pada 2013, hasil MRI menunjukkan perbaikan yang dianggap sebagai “kejernihan sementara” dalam hidupnya.
Ia kembali bekerja, tapi tidak benar-benar pulih. Pada 2020, di tengah kesibukan syuting yang mulai menggeliat, sebuah stroke ringan menyerang sisi kirinya.
Penglihatannya mengabur, langkahnya melemah, dan ia tak lagi bisa bergerak bebas seperti dulu. Sejak itu ia lebih banyak berada di rumah, menjalani terapi rutin, dan kembali menempuh pengobatan nonmedis di Depok.
Dunia hiburan yang pernah menggemakan namanya perlahan ia lepaskan, bukan karena kehilangan semangat, melainkan karena tubuhnya meminta jeda yang panjang.
Di sela masa pemulihan, Epy tak ingin sekadar menunggu hari baik. Ia dan Karina membuka usaha kecil di sekitar rumah—dari makanan ringan hingga kerupuk dorokdok yang sesekali ia antarkan sendiri dengan bersepeda.
Pemandangan itu sempat viral, bukan karena sensasional, tetapi karena menunjukkan bahwa seorang aktor yang pernah meramaikan layar Indonesia mampu berdamai dengan keadaan tanpa kehilangan martabat.
Hari Rabu itu, tubuhnya yang lama menahan sakit akhirnya menyerah. Keluarga menutup pintu rumah rapat-rapat, memberi ruang bagi duka yang pelan menyebar.
Jenazah Epy rencananya dikebumikan di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan, pada Kamis pagi, 4 Desember 2025.
Kepergiannya menyisakan kesunyian dalam dunia seni peran Indonesia—sebuah jeda yang mengingatkan bahwa di balik tawa dan lakon yang ia hidangkan, ada ketabahan yang tak pernah ia pamerkan.
Epy meninggalkan warisan yang tak selalu tercatat oleh kamera: keteguhan menghadapi sakit yang tak pernah benar-benar pergi, kesederhanaan dalam menjalani hidup, dan keberanian untuk tetap bergerak meski tubuhnya sering mengkhianati.
Editor : Uways Alqadrie