KALTIMPOST.ID, Nama Denada kembali ramai dibicarakan publik. Bukan semata karena karya terbarunya di dunia musik dan film, tetapi juga karena sebuah kabar besar yang menyeret namanya ke ruang hukum.
Denada Elizabeth Anggia Ayu Tambunan lahir di Jakarta pada 19 Desember 1978. Ia tumbuh di lingkungan seni yang kental.
Ibunya adalah Emilia Contessa, penyanyi legendaris Indonesia, sementara dunia panggung sudah menjadi bagian hidupnya sejak kecil.
Nama Denada melejit di awal 1990-an sebagai salah satu rapper perempuan pelopor di Indonesia.
Di masa ketika musik rap didominasi laki-laki, Denada hadir dengan gaya berani, lirik lugas, dan pesan sosial yang kuat. Lagu-lagunya cepat mencuri perhatian generasi muda kala itu.
Album debut Kujelang Hari (1994) menjadi pintu masuk Denada ke peta musik nasional. Sejak saat itu, namanya tak pernah benar-benar hilang dari industri hiburan.
Vakum, Studi ke Australia, dan Kembali dengan Wajah Baru
Di puncak popularitas, Denada sempat mengambil keputusan besar dengan menunda karier demi pendidikan di Australia.
Sekembalinya ke Indonesia, Denada tampil dengan arah baru. Ia tidak lagi terpaku pada rap, tetapi mulai menjelajah pop dan dangdut—genre yang lebih dekat dengan pasar luas Indonesia.
Lewat dangdut modern, Denada kembali menemukan momentumnya. Album-album seperti Dangdut Gaul, Ma…E…, hingga One Stop Dangdut memperlihatkan kemampuannya beradaptasi tanpa kehilangan identitas.
Denada dan Dunia Akting
Karier Denada tak berhenti di musik. Ia juga merambah dunia akting lewat sinetron dan film layar lebar.
Sejumlah judul sinetron populer pernah ia bintangi, mulai dari Nyari Bini, Rahasia Ilahi, hingga Cahaya Surga.
Debut filmnya hadir pada 2014 lewat Kau & Aku Cinta Indonesia. Setelah vakum cukup lama, Denada kembali ke layar lebar pada 2025 lewat film horor Bulan Darah.
Ibu Tunggal yang Jarang Mengumbar Cerita
Di luar panggung, Denada menjalani kehidupan yang jauh lebih tenang. Ia pernah menikah dengan fotografer Jerry Aurum pada 2012 dan dikaruniai seorang putri.
Namun, pernikahan tersebut berakhir, dan Denada melanjutkan hidup sebagai ibu tunggal.
Ia dikenal sangat menjaga privasi anaknya dan jarang membagikan detail kehidupan pribadi ke publik.
Belakangan, nama Denada kembali memenuhi pemberitaan setelah muncul gugatan hukum di Pengadilan Negeri Banyuwangi.
Gugatan tersebut diajukan oleh seorang pria yang mengaku sebagai anak biologis Denada dan menuduh adanya penelantaran anak.
Hingga kini, proses hukum masih berjalan. Belum ada putusan final, dan Denada pun belum menyampaikan pernyataan resmi ke publik.
Informasi yang beredar masih berupa klaim sepihak dan menunggu pembuktian di pengadilan. ***
Editor : Dwi Puspitarini