KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Nama Hutomo Mandala Putra, atau yang lebih akrab disapa Tommy Soeharto, tetap menjadi figur yang magnetis dalam panggung nasional.
Sebagai putra kelima dari pasangan Presiden ke-2 RI Soeharto dan Raden Ayu Siti Hartinah (Ibu Tien), perjalanan hidup pria kelahiran Jakarta, 21 Juli 1962 ini merupakan perpaduan antara kekuasaan, kejayaan bisnis, hingga dinamika hukum yang kompleks.
Lahir dan besar di pusat pusaran kekuasaan Orde Baru (Orba), Tommy telah menunjukkan taji di dunia usaha sejak usia muda. Pada 1984, di usia yang baru menginjak 22 tahun, ia mendirikan Grup Humpuss.
Baca Juga: Simbol Inspirasi Prajurit, Monumen Jenderal Besar Soeharto Berdiri Megah di Sukoharjo
Awalnya, perusahaan ini berfokus pada ceruk strategis transportasi energi laut, khususnya pengangkutan LNG dan minyak.
Namun, dalam waktu singkat, sebagaimana data yang dihimpun media ini, Humpuss bertransformasi menjadi konglomerasi raksasa yang menaungi lebih dari 60 anak perusahaan.
Sektor yang digarap pun kian meluas, mulai dari petrokimia, agribisnis, pertambangan, hingga konstruksi dan farmasi. Hingga saat ini, Tommy masih memegang kendali signifikan di grup tersebut, termasuk kepemilikan saham di PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk (HITS).
Selain energi, lini bisnisnya merambah ke sektor properti dan perhotelan melalui Lorin Group, serta kebangkitan kembali ritel Goro Super Grosir yang sempat menjadi ikon belanja di masa silam.
Baca Juga: Ida Iasha, Istri Tommy Soeharto Sekarang Terungkap Ikut Hadiri Pernikahan Darma Mangkuluhur
Kontroversi Mobil Nasional dan Krisis 1998
Salah satu tonggak sejarah yang paling melekat pada sosok Tommy adalah proyek Mobil Nasional (Mobnas) Timor pada 1996. Melalui PT Timor Putra Nasional, Tommy mendapat mandat mengembangkan industri otomotif lokal dengan fasilitas bebas pajak dan bea masuk berdasarkan Inpres Nomor 2 Tahun 1996.
Meski sempat memicu protes produsen otomotif global hingga berujung ke meja WTO, proyek ini terhenti seketika saat krisis moneter 1998 menghantam Indonesia. Lengsernya Presiden Soeharto otomatis mencabut berbagai privilese bisnis yang selama ini menopang keberlangsungan proyek tersebut.
Minat Otomotif dan Rekam Jejak Hukum
Di luar urusan bisnis, Tommy dikenal sebagai penggila kecepatan. Ia merupakan pembalap ulung sekaligus tokoh yang membawa ajang Rally Dunia (WRC) ke tanah air pada 1996 dan 1997 di Medan. Dedikasinya di dunia otomotif juga membawanya menduduki kursi Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) selama dua periode.
Namun, sejarah mencatat fase kelam dalam hidupnya saat ia terseret kasus hukum berat pada awal era reformasi. Tommy dinyatakan terlibat dalam pembunuhan Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita serta kepemilikan senjata api ilegal.
Setelah menjalani masa tahanan di Nusakambangan dan Lapas Cipinang, ia akhirnya menghirup udara bebas pada Oktober 2008 menyusul adanya pengurangan masa hukuman dan remisi.
Kiprah Politik dan Upaya Transformasi
Pasca-bebas, ayah dari Dharma Mangkuluhur dan Gayanti Hutami ini tidak memilih untuk menarik diri dari ruang publik. Ia mencoba peruntungan di dunia politik, mulai dari pencalonan Ketua Umum Partai Golkar pada 2009 hingga akhirnya mendirikan Partai Berkarya.
Sebagai Ketua Umum DPP Partai Berkarya periode 2016-2021, Tommy mengusung narasi nasionalisme dan pembangunan ekonomi yang berkiblat pada keberhasilan pembangunan era Orba.
Hingga kini, Tommy Soeharto tetap menjadi tokoh yang diperhitungkan. Meski total nilai kekayaannya tidak pernah dirilis secara resmi, gurita bisnisnya yang membentang dari sektor pelayaran hingga properti seperti Black Rock Golf and Resort di Belitung, membuktikan bahwa pengaruh ekonomi sang "Pangeran Cendana" ini masih berakar kuat di Indonesia.(*)
Editor : Thomas Priyandoko