Tim yang di dalamnya tergabung dosen Universitas Mulawarman (Unmul) dan para pemerhati lingkungan, serta instansi terkait dari Provinsi Kaltim dan Samarinda, tahun ini melaksanakan penyusunan masterplan pengelolaan dan penataan DAS Karang Mumus.
SAMARINDA-Mengambil tema Unmul Membangun Peradaban Sungai Karang Mumus yang Ramah Lingkungan, Ramah Sosial dan Ramah Ekonomi. Kegiatan itu digelar di Hotel Mesra, Kamis (25/7).
Rektor Unmul yang diwakili staf khusus Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan Rosmini memiliki cerita dengan Sungai Karang Mumus. “SKM bagian dari hidup saya, memiliki kenangan masa kecil di sana, sebagai tempat bermain dan aktivitas sehari-hari karena airnya masih bersih,” ungkapnya.
SKM jangan sampai ditinggalkan alurnya, karena air tidak bisa dilawan, ekosistem air harus dikembaalikan sebagai mana fungsinya. Berbicara pengelolaan berarti bicara dari hulu sampai hilir, harus diselesaikan dan dituntaskan.
"Kegiatan itu nantinya bisa menghasilkan sesuatu yang diharapkan, SKM bisa kembali bersih, airnya mengalir dengan baik, dan lingkungannya terjaga serta airnya mengalir ke tempat yang sebagaimana fungsinya," sambung Rosmini.
Civitas akademika Unmul sangat mendukung adanya kegiatan tersebut, dan dari hasil diskusi bisa diperoleh data dan informasi yang disepakati bersama para pemangku kepentingan yang hadir. "Jadilah pejuang SKM untuk memperbaiki Samarinda yang layak huni," sambung dia.
Dari kegiatan kick off meeting tersebut, harus ada ide-ide serta gagasan yang terbaik dalam mewujudkan SKM yang sehat bagi semua. Kegiatan tersebut bertujuan menyamakan persepsi para pihak terkait, dalam rencana pengelolaan dan penataan DAS Karang Mumus, serta tersosialisasi penyusunan masterplan pengelolaan dan penataan DAS SKM.
Sementara itu, Koordinator Penyusunan Masterplan Pengelolaan dan Penataan DAS Karang Mumus Rachmat Suba sekaligus menuturkan, maksud dan tujuan kegiatan tersebut adalah sosialisasi penyusunan masterplan kepada para pihak yang terkait.
Kemudian koordinasi dibarengi diskusi dan musyawarah dengan para pihak terkait, untuk menyamakan dan menyelaraskan persepsi dalam pengelolaan dan penataan DAS Karang Mumus.
Salah satu ikon yang sangat melekat terhadap Kota Tepian adalah keberadaan SKM yang membelah Samarinda, merupakan anak Sungai Mahakam yang memiliki panjang aliran 34,7 kilomter. Keberadaan SKM juga tidak terlepas dari sejarah kelahiran Samarinda.
Setelah ditandatangani Perjanjian Bongaja 18 Nopember 1667, sebagian orang-orang Bugis Wajo dari Kerajaan Gowa yang tidak mau tunduk terhadap perjanjian hijrah ke Samarinda.
Permasalahan dalam pengelolaan dan penataan DAS Karang Mumus antara lain, program penataan DAS Karang Mumus selama ini masih berpegang erat pada paradigma sebagai pengendali permasalahan banjir. Kick off meeting merupakan upaya bersama menjadikan Samarinda dapat mewujudkan tata kota yang bersih dan berkelanjutan, termasuk SKM.
Hasil pertemuan nantinya didiskusikan lagi kepada pemerintah setempat. “Tidak kalah penting harapan semua adalah wilayah sungai tetap bersih dan lestari untuk generasi mendatang," pungkasnya. (adv/kh/dra)
Editor : Dwi Restu A