KALTIMPOST.ID, Politeknik Negeri Balikpapan menyerahkan laporan hasil kajian penting terkait pencegahan pernikahan dini pada remaja dan peran pola asuh dalam menekan kasus stunting di Kota Balikpapan.
Kajian ini disampaikan langsung oleh Ketua Tim Penyusun, Patria Rahmawaty, kepada Kepala DP3AKB Balikpapan, Heria Prisni, pada Selasa (17/12).
Menurut Patria Rahmawaty, yang juga seorang dosen dan psikolog, pola asuh keluarga memiliki pengaruh besar terhadap pernikahan dini dan kasus stunting.
“Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan data yang diperoleh dari kuesioner dan wawancara. Hasilnya menunjukkan betapa pentingnya pola asuh yang baik untuk mencegah pernikahan dini dan mengatasi stunting,” ungkapnya.
Penelitian tersebut dilakukan selama delapan bulan, dari April hingga November 2024.
Hasilnya mampu mengidentifikasi berbagai faktor penyebab pernikahan dini sekaligus memberikan rekomendasi untuk memperkuat pola asuh dalam mencegah stunting di Balikpapan.
Salah satu poin penting dari kajian ini adalah menyinergikan lima elemen utama, yaitu akademisi, pemerintah, media, komunitas, dan dunia usaha—yang dikenal sebagai Pentahelix.
Patria menegaskan, “Kerja sama berkelanjutan antara kelima unsur ini sangat diperlukan untuk menghasilkan kebijakan yang efektif dalam menangani pernikahan dini dan stunting.”
Ia juga menyarankan dunia usaha untuk mendukung program-program terkait melalui corporate social responsibility (CSR).
“Unsur dunia usaha bisa ikut berkontribusi dengan menyisihkan CSR mereka untuk mendukung program yang kami rancang,” tambahnya.
Baca Juga: Tekankan Komitmen Perlindungan Pekerja
Menanggapi laporan tersebut, Kepala DP3AKB Balikpapan, Heria Prisni, mengapresiasi hasil penelitian dan menyatakan akan mempelajarinya lebih lanjut.
Ia optimis bahwa kajian ini dapat membantu merumuskan program yang lebih efektif untuk menurunkan angka pernikahan dini dan stunting di kota ini.
“Kami berharap Balikpapan bisa mencapai zero stunting. Kajian ini akan kami sandingkan dengan pengalaman dari studi tiru yang sudah dilakukan tim kami. Dengan kombinasi data dan pengalaman, kami yakin bisa menciptakan program yang tepat sasaran,” ujar Heria dengan penuh keyakinan.
Kajian ini merekomendasikan beberapa langkah konkret, termasuk memperkuat sosialisasi dan konsistensi dalam menjalankan program-program yang sudah dirancang.
Patria menekankan pentingnya koordinasi antar unsur Pentahelix agar kebijakan yang dibuat tidak hanya menjadi dokumen, tetapi benar-benar diimplementasikan secara nyata di lapangan.
“Dengan komitmen yang kuat dan kerja sama semua pihak, kita bisa menciptakan perubahan besar,” tutup Patria.
Melalui hasil penelitian ini, Kota Balikpapan memiliki panduan kuat untuk menangani dua masalah serius, yaitu pernikahan dini dan stunting.
Sinergi Pentahelix yang diusulkan menjadi kunci untuk mengubah tantangan ini menjadi peluang untuk menciptakan generasi muda yang lebih sehat dan berkualitas. (*)
Editor : Dwi Puspitarini