KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Memperingati 47 tahun perjalanan sekaligus satu dekade pasca transformasi pada 2014, BPJS Ketenagakerjaan menegaskan komitmennya dalam melindungi pekerja Indonesia, khususnya di wilayah Kalimantan.
Kepala BPJS Ketenagakerjaan Wilayah Kalimantan, Erfan Kurniawan, menyampaikan apresiasi atas kontribusi berbagai pihak yang membawa lembaga ini mencapai kemajuan signifikan. “Jumlah peserta aktif kini mencapai 43,5 juta orang, baik pekerja formal maupun informal. Ini bukti tingginya kepercayaan masyarakat terhadap program kami,” ujar Erfan dalam acara HUT ke-47 di Balikpapan, Kamis (12/12).
Erfan juga menyoroti inovasi layanan, termasuk aplikasi Jamsostek Mobile (JMO) yang telah digunakan 24,5 juta peserta dan layanan Call Center 175 dengan tingkat kepuasan 92,5 persen. Selain itu, BPJS Ketenagakerjaan berhasil membayar 3,8 juta klaim senilai Rp51,9 triliun hingga November 2024, termasuk beasiswa untuk 92 ribu anak pekerja.
“Transformasi ini memungkinkan kami menghadirkan program unggulan seperti Jaminan Pensiun (JP) dan Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) guna melindungi pekerja dari risiko ekonomi,” tambahnya.
Meski telah meraih banyak pencapaian, Erfan menekankan tantangan ke depan yang semakin kompleks. Melalui inovasi dan acara seperti The First Social Security Summit 2024, BPJS Ketenagakerjaan bertekad menciptakan solusi efektif demi mewujudkan Indonesia Emas 2045.
“HUT ini menjadi momentum untuk terus meningkatkan kepesertaan dan layanan, memastikan seluruh pekerja Indonesia bekerja dengan aman, tenang, dan sejahtera,” kata Erfan.
Erfan juga menyampaikan bahwa meskipun BPJS Ketenagakerjaan telah berhasil mencatatkan berbagai keberhasilan, tantangan ke depan akan semakin besar. Oleh karena itu, BPJS Ketenagakerjaan berkomitmen untuk mendorong peningkatan produktivitas pekerja, serta terus memperluas pemahaman masyarakat tentang pentingnya perlindungan sosial.
"Melalui gelaran The First Social Security Summit 2024 yang telah sukses kami selenggarakan pada November lalu, kami berharap dapat menciptakan solusi inovatif yang dapat mengatasi tantangan yang ada, seperti Middle Income Trap dan optimalisasi perlindungan bagi pekerja kelas menengah dan kelompok rentan,”tutupnya. (aji)