Jawaban :
Di antara syarat sah puasa adalah suci dari haid dan nifas pada keseluruhan siang (dari terbit fajar subuh hingga tenggelam matahari). Maka jika beberapa menit menjelang berbuka diketahui dengan yakin darah haidh atau nifas keluar, maka puasanya batal.
Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Keluarnya darah haid dan nifas membatalkan puasa berdasarkan kesepakatan para ulama.”
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukankah kalau wanita tersebut haid dia tidak salat dan juga tidak menunaikan puasa?
Para wanita menjawab, “Betul.” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itulah kekurangan agama wanita.”
Jika wanita haid dan nifas tidak berpuasa, ia harus mengqadha puasa di hari lainnya. Dalilnya adalah; dari Mu’adzah dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, “Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ salat?”
Maka Aisyah menjawab, “Apakah kamu dari golongan Haruriyah? Aku menjawab, “Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya. Dia menjawab, “Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha salat,” (HR. Muslim No. 335). Wallahu ta’ala a’lam bisshawab. (*)
Editor : Ismet Rifani