KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN- Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriah, Universitas Mulia kembali melaksanakan kegiatan pemotongan hewan kurban yang telah menjadi tradisi tahunan sejak lebih dari satu dekade lalu. Kegiatan ini bukan hanya sebagai bentuk ibadah, namun juga menjadi representasi nyata dari implementasi nilai-nilai Islam, kepedulian sosial, dan pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat.
Ketua Panitia Kurban Universitas Mulia, Drs. H. Achmad Prijanto, mengungkapkan bahwa kegiatan ini telah dirintis sejak tahun 2014, saat institusi ini masih bernama STMIK Balikpapan dan berlokasi di Jalan Pier Tendean, Gunung Pasir.
“Waktu itu kami mulai dengan sangat sederhana, hanya satu ekor sapi. Alhamdulillah, sejak enam tahun terakhir rata-rata kami bisa menyembelih empat ekor sapi setiap tahun,” ungkapnya.
Tahun ini, panitia kembali berhasil mengumpulkan empat ekor sapi. Tiga di antaranya berasal dari tabungan kurban para dosen dan karyawan Universitas Mulia yang secara rutin menyisihkan Rp 300.000 per bulan selama sebelas bulan. Inisiatif kolektif ini diikuti oleh 21 peserta. Sementara satu ekor sapi lainnya berasal dari dukungan tahunan Direktur Eksekutif Yayasan Airlangga, Dr. Agung Sakti Pribadi, sebagai bentuk konsistensi dan kepedulian terhadap kegiatan ini.
Drs. H. Achmad Prijanto menjelaskan bahwa kegiatan kurban di lingkungan Universitas Mulia tidak semata menjadi ajang seremonial keagamaan, tetapi sarat dengan nilai-nilai edukatif dan spiritual.
“Kami memaknai kurban sebagai teladan dari Nabi Ibrahim AS dan bentuk ketaatan terhadap perintah Allah. Tapi lebih dari itu, ini adalah penguatan nilai kepedulian terhadap lingkungan sosial kampus dan wujud kontribusi nyata sivitas akademika kepada masyarakat,” ujarnya.
Distribusi daging kurban dilakukan secara internal oleh panitia, dan disalurkan kepada para peserta kurban, dosen dan karyawan yang membutuhkan, dua panti asuhan, petugas DKPP, kaum duafa, serta warga sekitar kampus.
Namun demikian, panitia masih menghadapi tantangan dalam hal partisipasi. Menurutnya, belum banyak dosen dan karyawan yang secara konsisten terlibat dalam program ini karena berbagai alasan, salah satunya terkait pelaksanaan kurban di tempat domisili masing-masing.
Meskipun begitu, panitia tetap berupaya mempertahankan pola pelaksanaan yang sudah berjalan dengan baik. Tahun ini, panitia mulai menggunakan mesin pemotong tulang untuk efisiensi kerja, menggantikan metode manual yang digunakan pada tahun-tahun sebelumnya.
Drs. H. Achmad Prijanto berharap, di tahun-tahun mendatang akan semakin banyak dosen dan karyawan yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan kurban ini. Ia juga mengajak seluruh sivitas akademika untuk merenungkan makna kurban sebagaimana yang tertuang dalam Surah Al-Kautsar sebagai perintah yang wajib ditunaikan bagi mereka yang memiliki kemampuan.
“Semoga dari kegiatan ini, tumbuh semangat beribadah, silaturahim yang lebih kuat, dan kesadaran kolektif bahwa kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tapi juga menyembelih ego, rasa enggan berbagi, dan mengganti dengan semangat memberi,” pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani