Ketua Panitia Upacara, Drs. Achmad Prijanto, menjelaskan bahwa persiapan kali ini tidak lepas dari sejumlah tantangan. Salah satunya adalah membangun kesadaran mahasiswa baru untuk bersedia menjadi petugas, meskipun mereka memiliki latar belakang sebagai mantan anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) di sekolah asal.
“Sebagian dari mereka sempat ragu terhadap kemampuannya, padahal sebenarnya mereka sudah terlatih. Selain itu, waktu persiapan relatif singkat dan Universitas Mulia juga belum memiliki fasilitas area upacara yang benar-benar memadai,” ungkapnya.
Meskipun demikian, pelatihan yang berlangsung hanya tiga hari tetap berjalan efektif. Para petugas dinilai memiliki kemampuan dasar baris-berbaris yang baik sehingga latihan lebih difokuskan pada kekompakan dan penyamaan gerakan.
“Nilai yang ingin ditanamkan bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan juga kebersamaan, tanggung jawab, disiplin, dan cinta tanah air,” tambah Achmad.
Ia menegaskan bahwa upacara bendera di lingkungan perguruan tinggi tidak boleh dipandang sebatas kegiatan seremonial. Ada makna edukatif yang jauh lebih mendalam, yaitu prinsip pendidikan ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani. Prinsip ini, menurutnya, akan membentuk mahasiswa baru sebagai calon pemimpin bangsa yang mampu menjadi teladan, penggerak, sekaligus motivator bagi lingkungannya.
Lebih jauh, Achmad menekankan pentingnya momentum upacara bendera untuk menumbuhkan kesadaran berbangsa dan bernegara di kalangan sivitas akademika.
“Ini adalah wujud penghormatan kita kepada para pahlawan yang telah berjuang tanpa pamrih untuk kemerdekaan bangsa,” ujarnya.
Khusus bagi mahasiswa baru, ia menyampaikan pesan agar mereka tumbuh sebagai generasi milenial yang tangguh, disiplin, rela berkorban, serta memiliki kecintaan yang mendalam terhadap tanah air.
“Kita berharap pengalaman ini tidak hanya membekas pada saat upacara, tetapi menjadi fondasi karakter mereka selama menempuh pendidikan di Universitas Mulia,” tutupnya.
Saat Merah Putih perlahan menguasai langit kampus, kita diingatkan bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan amanah yang harus dijaga dengan ilmu dan pengabdian. Universitas Mulia ingin menjadikan momentum ini sebagai pengikat janji, mendidik generasi yang berpikir jernih, berhati jujur, dan berani berdiri untuk bangsanya.
Dari ruang akademik inilah, diharapkan lahir pemimpin-pemimpin muda yang mampu merangkai masa depan Indonesia dengan kejernihan akal dan ketulusan jiwa. (*)