Kegiatan yang berlangsung di Hotel Puri Senyiur, Jalan Ruhui Rahayu, Samarinda Ulu, Rabu (10/11/2025) ini, menjadi langkah strategis memperkuat kembali kearifan lokal dan sejarah Kesultanan Kutai yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Kota Samarinda sebagai kota peradaban.
Samarinda: Pemerintah Kota Samarinda mendorong percepatan penerapan pembelajaran Muatan Lokal (Mulok) Bahasa Kutai di seluruh satuan pendidikan negeri dan swasta, menyusul belum optimalnya pelaksanaan program tersebut hingga akhir 2025.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.00 Wita tersebut menjadi langkah strategis pemerintah dalam merawat budaya daerah dan mengembalikan pemahaman generasi muda terhadap sejarah serta kearifan lokal yang berakar pada Kesultanan Kutai.
Pemerintah menilai penguatan bahasa daerah merupakan bagian penting dalam membangun identitas Samarinda sebagai kota peradaban.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda, Asli Nuryadin, menegaskan kebijakan Mulok Bahasa Kutai adalah amanat langsung dari Wali Kota agar pendidikan tidak tercerabut dari akar budaya daerah.
“Pak Wali selalu mengingatkan bahwa kearifan lokal harus tetap menjadi bagian dari pendidikan kita, karena sejarah Samarinda sangat dekat dengan Kesultanan Kutai,” ujarnya.
Asli menjelaskan, penerapan mulok telah memiliki dasar hukum melalui Peraturan Wali Kota (Perwali).
Untuk kebutuhan materi ajar, Disdikbud telah melakukan penyelarasan konten bersama penerbit Yudistira, namun ia menegaskan tidak ada kewajiban bagi sekolah untuk menggunakan penerbit tertentu.
“Keputusan membeli buku dari penerbit mana pun tetap hak sekolah. Tidak ada kewajiban mengarah ke satu penerbit,” katanya.
Ia memastikan pengadaan buku mulok dapat menggunakan dana BOS daerah maupun BOS nasional, sehingga tidak membebani orang tua siswa. Kebijakan ini sekaligus mencegah munculnya asumsi bahwa orang tua harus menanggung biaya buku ajar.
Terkait tenaga pengajar, Asli menilai pembelajaran Bahasa Kutai tidak mensyaratkan latar belakang pendidikan khusus. Yang terpenting adalah kemampuan guru memahami dan mampu mempraktikkan bahasa tersebut saat mengajar.
“Tidak perlu guru dengan pendidikan tertentu. Yang penting mereka memahami Bahasa Kutai dan bisa mengajarkannya dengan baik,” ucapnya.
Asli berharap penerapan mulok ini berjalan efektif agar siswa tidak hanya terpaku pada budaya populer dari luar, melainkan memahami nilai-nilai lokal sebagai bagian dari jati diri mereka.
“Harapannya, anak-anak kita tidak hanya mengenal tren luar. Mereka harus memahami sejarah dan kearifan lokal yang menjadi identitas mereka,” ujarnya.
Sementara itu Muzakki pimpinan Penerbit Yudhistira Samarinda juga mengatakan, menekankan pentingnya revitalisasi bahasa daerah.
Menurutnya, masuknya Bahasa Kutai sebagai mata pelajaran muatan lokal wajib adalah bentuk tanggung jawab pemerintah dan masyarakat dalam menjaga warisan leluhur agar tidak tergerus zaman.
"Bahasa Kutai adalah identitas kita. Namun, cara mengajarkannya harus relevan dengan anak-anak zaman sekarang (Gen Z dan Alpha).
Oleh karena itu, kolaborasi dengan Yudistira ini sangat penting untuk mengenalkan metode pengajaran yang tidak membosankan, yakni melalui pendekatan teknologi di bidang Pendidikan," ujarnya.
"Dalam workshop ini, kami memperkenalkan bagaimana materi buku Bahasa Kutai setara dengan mapel nasional yang dapat diintegrasikan dengan teknologi 4.0. Kami ingin para guru mampu membuat materi ajar yang interaktif, misalnya menggunakan kuis digital atau e-book, sehingga siswa lebih tertarik mempelajari bahasa daerahnya sendiri.
Para peserta workshop tampak antusias mengikuti sesi bedah materi dan praktik langsung penggunaan aplikasi pembelajaran.
Salah satu peserta Kepala Sekolah mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat membantu mereka dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau Modul Ajar untuk Mulok Bahasa Kutai.
"Tantangan mengajarkan bahasa daerah itu adalah minimnya sumber belajar yang menarik. Dengan adanya workshop dan dukungan teknologi dari Yudistira ini, kami jadi punya gambaran baru cara mengajar Bahasa Kutai yang lebih asyik dan modern," tuturnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para pendidik di Samarinda dapat menjadi garda terdepan dalam pelestarian budaya Kutai, sembari terus meningkatkan literasi digital mereka demi terciptanya kualitas pendidikan yang unggul di Kota Tepian.
Sebagai informasi Acara yang dihadiri oleh ratusan tenaga pendidik jenjang SD negeri dan swasta se-Kota Samarinda dari kepala sekolah atau perwakilan masing-masing sekolah tersebut termasuk pengurus K3MI Kota samarinda. (/kh)
Editor : Almasrifah