Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Museum Digital Desa Pampang Tarik Generasi Muda

Maria Irham • Selasa, 16 Desember 2025 | 18:23 WIB
PENGABDIAN MASYARAKAT: Tim dosen ITK melakukan program pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada artefak kebudayaan di Desa Budaya Pampang di Kota Samarinda.
PENGABDIAN MASYARAKAT: Tim dosen ITK melakukan program pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada artefak kebudayaan di Desa Budaya Pampang di Kota Samarinda.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA- Desa Budaya Pampang di Kota Samarinda merupakan salah satu destinasi wisata budaya unggulan Kalimantan Timur yang hingga kini masih menjaga tradisi Suku Dayak Kenyah. Keberadaan Rumah Adat Lamin sebagai pusat aktivitas budaya, koleksi artefak adat, serta beragam ornamen dan benda simbolik menjadikan desa ini sebagai ruang penting pelestarian identitas budaya lokal.

Namun, di tengah arus globalisasi dan percepatan pembangunan kawasan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, warisan budaya tersebut menghadapi tantangan serius, terutama dalam hal dokumentasi, penyajian informasi, dan regenerasi pemahaman budaya bagi generasi muda.

Selama ini, informasi mengenai artefak budaya Dayak Kenyah masih disampaikan secara konvensional melalui penjelasan lisan dan papan informasi statis. Pola ini dinilai belum mampu menghadirkan pengalaman edukatif yang mendalam, khususnya bagi wisatawan digital yang terbiasa dengan media visual dan interaktif. Selain itu, sebagian artefak seperti patung adat, ornamen ukiran, dan benda ritual belum terdokumentasi secara sistematis, sehingga berpotensi kehilangan nilai historis dan makna simboliknya dalam jangka panjang.

Menjawab tantangan tersebut, tim dosen Institut Teknologi Kalimantan (ITK) melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat berupa pengembangan museum interaktif berbasis teknologi digital dengan pemanfaatan Augmented Reality (AR) yang berfokus pada artefak kebudayaan. Program ini diketuai oleh Olivia Febrianty Ngabito, dengan anggota tim Fulkha Tajri M, Denny Huldiansyah, dan tim mahasiswa Kurnia Fajar Eydelwais, Syauqi Yusva Zulfadhil, Muhammad Bintang Kurniawan, dan Laurencia Veronica Manullang.

Kegiatan ini melibatkan kolaborasi lintas disiplin dari bidang Desain Komunikasi Visual dan Arsitektur, serta menggandeng Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Budaya Pampang sebagai mitra utama.

Teknologi AR dimanfaatkan sebagai media interpretasi budaya untuk menampilkan informasi digital tentang artefak, seperti patung adat, ornamen Rumah Lamin, dan benda tradisional Dayak Kenyah. Melalui pemindaian penanda tertentu, pengunjung dapat mengakses visualisasi tiga dimensi beserta narasi interpretatif mengenai fungsi, makna simbolik, dan konteks budaya dari setiap artefak. Pendekatan ini memungkinkan pengunjung memperoleh pemahaman budaya secara lebih mendalam tanpa mengubah atau mengganggu keaslian benda budaya itu sendiri.

Pelaksanaan program dilakukan dengan pendekatan partisipatif berbasis komunitas. Tahap awal difokuskan pada identifikasi kebutuhan melalui survei lapangan dan wawancara dengan tokoh adat serta pengelola wisata. Tahap selanjutnya meliputi perencanaan dan penyusunan modul pelatihan manajemen museum, sistem pencatatan koleksi, serta standar operasional prosedur pengelolaan museum berbasis komunitas. Pengembangan konten digital dilakukan dengan melibatkan tokoh adat untuk memastikan keakuratan dan legitimasi informasi budaya yang disajikan.

Secara keseluruhan, pengembangan museum interaktif berbasis teknologi digital di Desa Budaya Pampang menunjukkan potensi besar sebagai strategi revitalisasi warisan budaya Dayak Kenyah.

Integrasi antara pelestarian budaya dan inovasi teknologi ini diharapkan mampu memperkuat daya tarik wisata budaya, meningkatkan literasi budaya masyarakat, serta membuka peluang pengembangan ekonomi lokal yang berkelanjutan di Kalimantan Timur. Kegiatan ini di danai oleh DRTPM BIMA. (*)

Editor : Ismet Rifani
#ITK Balikpapan #Desa Budaya Pampang Samarinda #museum digital