KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN- Ekowisata Bamboe Wanadesa di Kelurahan Karang Joang, Balikpapan Utara, merupakan salah satu contoh wisata berbasis masyarakat yang mengandalkan kekayaan alam lokal berupa hutan bambu dan danau alami. Kawasan ini dikelola secara swadaya oleh masyarakat, namun masih menghadapi tantangan dalam penguatan fasilitas, sumber daya manusia, dan sistem edukasi wisata.
Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Institut Teknologi Kalimantan (ITK) melakukan upaya pemberdayaan masyarakat yang difokuskan pada tiga program utama sebagai strategi pengembangan ekowisata berkelanjutan.
Para tim yang terdiri dari mahasiswa Muhammad Ridwan Akbar, Fajar Prio Budisantoso, Sania Tri Utari, Bagas Putra, Aldi Halim Rachmawanto, dan Afrizal Arifangga Zainal serta tim dosen Tiara Rukmaya Dewi ST MSc dan Muhammad Khaisar Wirawan, SKel MSi tersebut dipimpin langsung Ir Rulliannor Syah Putra ST MArs.
Rulliannor menjelaskan adapun tiga program yang dijalankan mulai dari membangun Gazebo bambu terapung dengan memanfaatkan material lokal yang ramah lingkungan serta dirancang menyatu dengan lanskap danau alami Wanadesa. Perwujudan bangunan ini diawali melalui design workshop partisipatif bersama pengurus KUPS (Kelompok Usaha Perhutanan Sosial) Bamboe Wanadesa, sehingga desain yang dihasilkan benar-benar merefleksikan kebutuhan dan karakter kawasan.
“Dari proses tersebut, gazebo tidak hanya difungsikan sebagai ruang bersantai dan titik pandang wisata, tetapi juga diarahkan menjadi simbol identitas baru kawasan,” jelasnya. Dengan kehadirannya, daya tarik visual danau dapat meningkat sekaligus memperlihatkan bahwa material bambu dapat diolah secara inovatif, adaptif, dan berkelanjutan tanpa mengganggu keseimbangan ekosistem alam.
Kedua, dilakukan pelatihan pemandu wisata berbasis masyarakat. Penguatan sumber daya manusia dilakukan melalui pelatihan tour guide bagi pengelola dan warga sekitar.
“Pelatihan ini mencakup keterampilan komunikasi, etika pelayanan, pengenalan potensi bambu, serta dasar bahasa asing. Dengan peningkatan kapasitas ini, masyarakat diharapkan lebih percaya diri dalam memandu wisatawan dan mampu memberikan pengalaman wisata yang informatif sekaligus berkesan,” terangnya.
Ketiga, penyediaan papan informasi edukatif berbasis QR Code. “Untuk memperkuat fungsi edukasi, kawasan ini dilengkapi papan informasi yang terhubung dengan teknologi QR Code,” ujarnya.
Melalui pemindaian sederhana, pengunjung dapat mengakses informasi digital mengenai jenis-jenis bambu, manfaat ekologisnya, dan upaya pelestarian lingkungan. Inovasi ini menjadikan wisata di Bamboe Wanadesa tidak hanya rekreatif, tetapi juga edukatif dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Ketiga, program tersebut dilaksanakan secara partisipatif dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama, serta didukung oleh dosen dan mahasiswa lintas disiplin.
“Pendekatan ini sejalan dengan konsep ekowisata berkelanjutan, sekaligus mendukung visi Smart City Balikpapan dan pembangunan kawasan penyangga Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara,” katanya.
Ke depan, Bamboe Wanadesa diharapkan dapat berkembang sebagai model ekowisata berbasis masyarakat yang tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi warga sekitar. (*)
Editor : Ismet Rifani