Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Lewat Pemodelan Aktuaria Berbasis Data, BPJS Kesehatan Perkuat Ketahanan Pembiayaan JKN

Ajie Chandra • Minggu, 21 Desember 2025 | 18:47 WIB
JAWAB TANTANGAN: Puncak Grand Final Lomba Pemodelan Aktuaria BPJS Kesehatan 2025, yang menjadi ruang kolaborasi strategis antara BPJS Kesehatan dan perguruan tinggi di Indonesia.
JAWAB TANTANGAN: Puncak Grand Final Lomba Pemodelan Aktuaria BPJS Kesehatan 2025, yang menjadi ruang kolaborasi strategis antara BPJS Kesehatan dan perguruan tinggi di Indonesia.

KALTIMPOST.ID, JAKARTA – BPJS Kesehatan terus memperkuat fondasi keberlanjutan pembiayaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui pendekatan berbasis data dan analisis risiko. Komitmen tersebut ditegaskan dalam Puncak Grand Final Lomba Pemodelan Aktuaria BPJS Kesehatan Tahun 2025, yang menjadi ruang kolaborasi strategis antara BPJS Kesehatan dan perguruan tinggi di Indonesia.

Direktur Utama BPJS Kesehatan Ghufron Mukti menyampaikan bahwa hingga saat ini cakupan kepesertaan Program JKN telah mencapai lebih dari 284,11 juta jiwa, atau melampaui 98 persen dari total penduduk Indonesia. Menurutnya, capaian besar tersebut harus diimbangi dengan tata kelola pembiayaan yang semakin presisi dan berbasis data agar keberlanjutan program tetap terjaga.

“Peningkatan utilisasi layanan, perubahan pola penyakit, serta kebutuhan pembiayaan yang terus berkembang memerlukan dukungan analisis yang kuat. Data yang kami kelola bukan sekadar angka, tetapi sumber pengetahuan strategis untuk menghasilkan kebijakan yang evidence based,” ujar Ghufron.

Ia menegaskan bahwa pemodelan aktuaria memegang peran krusial dalam memperkirakan risiko, mengukur kecukupan dana, serta memberikan arah kebijakan yang tepat untuk menjaga ketahanan finansial Program JKN.

Melalui kompetisi ini, BPJS Kesehatan mendorong agar pengembangan ilmu aktuaria di perguruan tinggi dapat terhubung langsung dengan kebutuhan nyata pengelolaan jaminan sosial kesehatan.

“Melalui lomba ini, penelitian dan pengembangan keilmuan aktuaria diharapkan mampu menjawab tantangan penyelenggaraan Program JKN. Ide-ide pemodelan yang dihasilkan akan kami kembangkan bersama untuk memperkuat ketahanan Dana Jaminan Sosial,” tambahnya.

Ghufron juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, dosen pembimbing, dewan juri, serta para pemangku kepentingan yang terlibat, termasuk Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Keuangan, dan Kementerian PPN/Bappenas. Kolaborasi lintas sektor tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam pengembangan ilmu aktuaria yang relevan dan aplikatif bagi jaminan sosial kesehatan.

Lomba Pemodelan Aktuaria BPJS Kesehatan Tahun 2025 diikuti oleh 47 karya dari 27 perguruan tinggi di Indonesia, mencakup jenjang S1, S2, hingga S3. Seluruh karya terpilih akan dikembangkan lebih lanjut oleh BPJS Kesehatan sebagai bagian dari kolaborasi berkelanjutan dengan dunia akademik, khususnya untuk menjawab tantangan keberlanjutan pembiayaan, kepatuhan peserta, serta pengelolaan risiko Program JKN.

Sementara itu, Anggota DJSN Nikodemus Beriman Purba, yang mewakili Ketua DJSN, menilai pemodelan aktuaria merupakan instrumen penting dalam menghadapi tantangan pengelolaan Program JKN yang bersifat multidimensi. Menurutnya, tantangan JKN tidak hanya menyangkut aspek finansial, tetapi juga kebijakan dan keadilan sosial yang harus dihadapi secara simultan.

 

“Saat ini masih terdapat ketidakseimbangan antara iuran dan beban klaim yang tercermin dari rasio yang belum sepenuhnya ideal. Selain itu, meningkatnya prevalensi penyakit berbiaya katastropik menjadi tantangan baru yang menuntut penguatan upaya promotif dan preventif,” jelas Nikodemus.

Ia menegaskan bahwa Program JKN tidak dapat dikelola dengan asumsi tunggal, melainkan membutuhkan pemodelan aktuaria multi-skenario yang mampu mengantisipasi berbagai risiko di masa depan. Hasil kajian dari lomba ini diharapkan dapat menjadi masukan strategis bagi BPJS Kesehatan dalam menyusun arah kebijakan dan strategi penyelenggaraan Program JKN.

Pada kategori jenjang S1, BPJS Kesehatan menetapkan Universitas Gadjah Mada sebagai peraih juara pertama, disusul Universitas Katolik Parahyangan di posisi kedua dan Universitas Indonesia sebagai juara ketiga. Sementara itu, Universitas Indonesia kembali meraih posisi Harapan I, sedangkan Institut Teknologi Kalimantan ditetapkan sebagai Harapan II.

Untuk jenjang S2, gelar juara pertama diraih oleh Institut Teknologi Bandung, diikuti Universitas Hasanuddin sebagai juara kedua dan IPB University di posisi ketiga.

Adapun pada jenjang S3, BPJS Kesehatan menetapkan Universitas Gadjah Mada sebagai peraih juara pertama sekaligus juara kedua, menegaskan dominasi perguruan tinggi tersebut dalam pengembangan pemodelan aktuaria tingkat lanjut. (*)

Editor : Ismet Rifani
#Lomba Pemodelan Aktuaria BPJS Kesehatan #Ghufron Mukti #BPJS Kesehatan 2025