KALTIMPOST.ID, SAMBOJA – Keterbatasan akses listrik masih menjadi tantangan bagi petani di wilayah terpencil Kalimantan Timur. Selama ini, banyak aktivitas pertanian masih bergantung pada genset berbahan bakar fosil yang membutuhkan biaya operasional tinggi serta perawatan rutin. Kondisi tersebut tidak hanya membebani petani secara ekonomi, tetapi juga membatasi produktivitas kerja di lapangan.
Menjawab permasalahan itu, mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan (ITK) mengembangkan Purwarupa Sistem Pengisian Daya Energi Surya Off-Grid berbasis Internet of Things (IoT) yang diterapkan di RT 11 Desa Sungai Merdeka, Kecamatan Samboja, Kalimantan Timur. Inovasi ini dirancang sebagai solusi energi ramah lingkungan yang sesuai dengan kondisi wilayah tropis dan kebutuhan masyarakat desa.
Dosen ITK, Happy Aprillia menjelaskan bahwa Purwarupa memanfaatkan panel surya dan baterai penyimpanan energi untuk menyuplai daya hingga 2,2 kW. Kapasitas tersebut memungkinkan sistem dipakai untuk mendukung kebutuhan penting sektor pertanian, seperti mesin penggilingan padi, pengisian sprayer elektrik, penerangan, serta pengisian daya peralatan pertanian lainnya.
Kegiatan pengembangan dan implementasi purwarupa ini didanai melalui skema Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) BIMA oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2025.
Dari sisi ekonomi, penggunaan PLTS off-grid dinilai lebih hemat dibandingkan genset. Jika sebelumnya petani harus mengeluarkan biaya rutin untuk membeli bensin atau solar, kini energi dapat diperoleh dari matahari tanpa biaya bahan bakar harian. Sistem juga bekerja lebih senyap, minim perawatan, dan dapat digunakan kapan pun dibutuhkan termasuk saat terjadi pemadaman listrik.
Keandalan tetap terjaga karena sistem masih bisa digunakan pada malam hari atau saat cuaca mendung berkat dukungan baterai.
Sebagai bagian dari sistem berbasis IoT, pemantauan kinerja PLTS Off-Grid dapat diakses melalui website agrienergy.id. Pengguna dapat melihat indikator penting berupa tegangan AC. Apabila tegangan AC menunjukkan 0 volt, hal tersebut mengindikasikan bahwa tidak ada listrik yang dapat disalurkan untuk mengoperasikan peralatan. Selain itu, tersedia menu Data Tabel yang menampilkan riwayat monitoring dan diperbarui berkala sekitar satu menit. Fitur ini membantu evaluasi kinerja, deteksi dini gangguan, serta perencanaan perawatan yang lebih efektif.
Kehadiran sistem ini memberi dampak sosial nyata bagi masyarakat Desa Sungai Merdeka. Pekerjaan pertanian menjadi lebih efisien, waktu kerja dapat ditekan, dan beban fisik petani berkurang. Salah satu petani setempat, Yudi menyampaikan manfaat yang dirasakan. “Program ITK ini sangat membantu kami. Sekarang kami tidak lagi bergantung pada genset yang mahal. Listrik dari panel surya bisa dipakai untuk alat pertanian dan kebutuhan sehari-hari. Pekerjaan jadi lebih ringan dan kami merasa lebih tenang,” ujar Yudi.
Tidak hanya berdampak pada petani, proyek ini juga menjadi media edukasi energi terbarukan bagi warga, termasuk anak-anak. Melalui pendampingan, masyarakat diajak memahami cara kerja dan perawatan sistem agar teknologi dapat dikelola secara mandiri dan berkelanjutan. Ke depan, inovasi PLTS Off-Grid berbasis IoT diharapkan dapat dikembangkan dan direplikasi di wilayah pertanian terpencil lainnya, sehingga mendorong pertanian yang lebih berdaya dan masa depan energi yang lebih berkelanjutan. (*)
Editor : Ismet Rifani