KALTIMPOST.ID, NUSANTARA — Karya Cerlang Nusantara besutan Tim Gregorius (Yori) Antar Awal ditetapkan sebagai pemenang Sayembara Desain Bangunan dan Kawasan Pusat Kebudayaan Nusantara Ibu Kota Nusantara (IKN). Pengumuman pemenang dilakukan Jumat (30/1) di Multifunction Hall, Kantor Kemenko 3, IKN, setelah melalui proses seleksi dan penjurian ketat oleh Dewan Juri yang terdiri dari tujuh arsitek dan tokoh kebudayaan nasional.
Proses penilaian dilakukan secara tertutup dan menyeluruh, dengan mempertimbangkan aspek konsep, konteks kawasan, keberlanjutan, serta relevansi budaya. Juara pertama berhasil mendapatkan dana sebesar Rp 750 juta. Anggota Dewan Juri, Wiendu Nuryanti, menegaskan bahwa karya terpilih dinilai mampu menghadirkan gagasan kebudayaan Nusantara yang tidak berhenti pada romantisme masa lalu.
“Budaya Nusantara tidak boleh dibekukan di masa lalu. Tradisi harus dihadirkan di masa kini dan membimbing kita ke masa depan,” ujar Wiendu.
Menurutnya, Cerlang Nusantara memiliki kekuatan pada kesatuan konsep secara menyeluruh, di mana nilai-nilai sejarah, budaya, dan konteks kawasan berhasil diterjemahkan secara utuh ke dalam bentuk arsitektur. Konsep utama desain ini berangkat dari peradaban tertua Nusantara, yakni Megalitikum, yang jejaknya tersebar luas dari Nias, Sumba, hingga Sulawesi.
Spirit Megalitikum tersebut diterjemahkan ke dalam bentuk bangunan prismatik dan asimetris, menyerupai pahatan batu purba. Batu dipilih sebagai simbol kehadiran peradaban yang abadi, sekaligus penanda awal perjalanan panjang kebudayaan Nusantara.
Anggota Dewan Juri lainnya, Wicaksono Sarosa, menambahkan bahwa keunggulan mutlak Cerlang Nusantara terletak pada keberhasilannya menghapus batas tegas antara ruang dalam dan ruang luar. Konsep ini dinilai sangat relevan dengan karakter ekologis IKN yang tropis dan berada dalam poros hijau utama.
“Kegiatan kebudayaan tidak lagi terkurung dalam bangunan, tetapi mengalir di ruang luar. Pohon-pohon eksisting, termasuk pohon Ulin, tidak hanya dipertahankan, tetapi dimuliakan sebagai bagian dari desain,” kata Wicaksono.
Kawasan Pusat Kebudayaan Nusantara sendiri berada di jalur strategis poros hijau IKN yang membentang dari Istana Presiden, kawasan Kemenko, Plaza Ceremony, Teras Nusantara, Plaza Bhinneka, hingga Otorita IKN. Di tengah dominasi bangunan institusional yang bersifat simetris, desain Cerlang Nusantara tampil dengan pendekatan organik yang menekankan harmoni manusia dan alam.
Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menyampaikan bahwa hasil sayembara ini tidak akan diterapkan secara tunggal. Pasalnya, hak cipta seluruh desain kini berada di bawah kewenangan Otorita IKN, sehingga memungkinkan penggabungan keunggulan dari karya juara pertama, kedua, dan ketiga.
“Setiap karya memiliki kekuatan masing-masing. Ke depan, sangat mungkin dilakukan kolaborasi agar hasil akhirnya menjadi lebih baik,” ujar Basuki.
Ia menjelaskan bahwa sejumlah karya, khususnya peringkat kedua Simfoni Puspa Segara dan peringkat ketiga Kisah yang Ditenun oleh Rimba, telah menyertakan perencanaan anggaran dan tahapan pembangunan yang dapat menjadi rujukan dalam pengembangan kawasan, termasuk pemilahan bangunan yang dapat didanai APBN maupun melalui kerja sama dengan pihak swasta. “Target fisik kami paling cepat di mulai di tahun 2027 mendatang,” imbuhnya.
Sementara itu, perancang Cerlang Nusantara, Gregorius (Yori) Antar, menjelaskan, konsep yang diusung berangkat dari refleksi panjang atas kebudayaan Nusantara. Melalui narasi Megalitikum, Pohon Kehidupan, dan hutan Nusantara, desain ini mengusung pesan agar manusia Indonesia kembali menjadi manusia ruang luar—manusia sosial yang cair, berinteraksi, dan bergotong royong.
Menurut Yori, pusat kebudayaan tidak semata tentang bangunan, melainkan tentang aktivitas dan kehidupan yang tumbuh dari ruang-ruang tersebut. Karena itu, desain diarahkan untuk membuka akses seluas-luasnya ke ruang luar, dengan tetap menghormati alam dan kondisi eksisting.
Dengan terpilihnya Cerlang Nusantara, Pusat Kebudayaan Nusantara IKN diharapkan menjadi penanda peradaban baru Indonesia, berakar kuat pada tradisi, selaras dengan alam, dan relevan bagi masa depan. (*)
Pemenang Sayembara Desain Pusat Kebudayaan IKN:
Juara I: Cerlang Nusantara
Juara II: Simfoni Puspa Segara
Juara III: Kisah yang Ditenun oleh Rimba
Editor : Ismet Rifani