Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

BMKG Peringatkan Dampak El Nino di Kaltim hingga November, Kemarau Tahun Ini Lebih Kering

Dina Angelina • Selasa, 14 Juli 2026 | 16:55 WIB
WASPADAI EL-NINO: BMKG mengimbau warga waspada terhadap lonjakan titik panas (hotspot) yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
WASPADAI EL-NINO: BMKG mengimbau warga waspada terhadap lonjakan titik panas (hotspot) yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

BALIKPAPAN — Curah hujan di wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) mengalami penurunan dalam sebulan terakhir akibat musim kemarau. Kondisi ini memicu lonjakan titik panas (hotspot) di kawasan Bumi Etam, yang diperparah oleh adanya fenomena iklim El Nino.

​Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Timur mengungkapkan bahwa meskipun dampak fenomena El Nino saat ini belum berada di tingkat ekstrem, pengaruhnya sangat signifikan terhadap penurunan intensitas hujan.

​Ketua Tim Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan, Huda Abshor Mukhsinin, menjelaskan jika aktivitas El Nino terus meningkat, efek kemarau tahun ini diprediksi akan jauh lebih parah dan berlangsung lebih lama.

​“Dampak El Nino akan dirasakan hingga dua bulan ke depan, mulai dari bulan September, Oktober, hingga November,” ujar Huda.

​Ia menambahkan, berdasarkan akumulasi data terbaru, tingkat curah hujan saat ini berada di bawah normal jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. “Kemarau tahun ini memang terasa lebih kering,” imbuhnya.

Berdasarkan prediksi BMKG, puncak musim kemarau di Kalimantan Timur diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Seiring dengan cuaca yang kian kering, sebaran titik panas kini terpantau meluas dari wilayah selatan hingga utara Kaltim.

​Kawasan bagian tengah Kaltim, khususnya Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dan Kutai Kartanegara (Kukar), menjadi wilayah dengan konsentrasi hotspot terbanyak saat ini.

​Berdasarkan hasil pantauan 12 Juli 2026, sinyal indikator berwarna merah telah muncul di sejumlah wilayah, termasuk Berau dan Samboja (Kukar). “Tanda warna merah artinya tingkat kepercayaan (data suhu tinggi) sangat real,” jelas Huda.

Lebih lanjut, BMKG mencatat frekuensi kemunculan titik panas harian di Kalimantan Timur kini sudah berada di angka yang cukup mengkhawatirkan.

​“Rata-rata harian hotspot berada di atas 50 titik. Sebagai contoh, pada 12 Juli kemarin jumlahnya bahkan mencapai 100 titik,” sebut Huda.

Dia menjelaskan bahwa indikator hotspot pada peta BMKG mendeteksi suatu wilayah koordinat yang memiliki suhu relatif lebih tinggi dibandingkan dengan suhu lingkungan di sekitarnya.

​Oleh sebab itu, munculnya titik panas tidak selalu berarti telah terjadi musibah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Walau begitu, kewaspadaan tinggi tetap harus diutamakan demi mencegah potensi bencana.

​“Namun kami tetap mengimbau masyarakat untuk selalu waspada saat beraktivitas di area hutan. Sangat tidak direkomendasikan untuk melakukan pembakaran hutan dan lahan dalam kondisi cuaca seperti ini,” pungkasnya. (*)

Editor : Ismet Rifani
Kemarau 2026 Fenomena El Nino Huda Abshor Mukhsinin BMKG Kaltim