Tradisi tersebut bukan sekadar kebiasaan, tetapi merupakan bentuk kearifan lokal dalam memanfaatkan barokah Allah SWT berupa sumber daya air hujan yang melimpah.
Namun, dalam beberapa dekade terakhir, budaya memanen air hujan mulai ditinggalkan. Masyarakat semakin bergantung pada air perpipaan maupun air tanah. Padahal, air hujan di Balikpapan masih memiliki kualitas yang relatif baik dan jumlahnya sangat melimpah sehingga layak dijadikan salah satu sumber air bersih apabila dipanen dengan seksama.
Ironisnya, di tengah kota yang kaya hujan, masyarakat justru mulai menghadapi ancaman krisis air. Pertumbuhan penduduk, perluasan kawasan permukiman, meningkatnya kebutuhan industri, serta dampak perubahan iklim menyebabkan ketahanan air perkotaan semakin rentan.
Menurut BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia menerima curah hujan tahunan antara 1.500–4.000 mm, termasuk Kalimantan bagian timur. Indonesia juga mengalami perubahan pola hujan, meningkatnya kejadian hujan ekstrem, dan perubahan distribusi musim akibat perubahan iklim. Proyeksi iklim menunjukkan bahwa pada masa mendatang hujan akan semakin sulit diprediksi: ketika turun akan semakin lebat, tetapi periode tanpa hujan juga dapat menjadi lebih panjang.
Kondisi tersebut menjadi peringatan bahwa air hujan tidak lagi boleh dipandang sebagai air yang harus segera dibuang ke drainase menuju laut. Sebaliknya, air hujan harus dipandang sebagai sumber daya air strategis yang perlu dipanen, disimpan, dimanfaatkan, dan diresapkan kembali ke dalam tanah.
Selain menyediakan air bersih, pemanenan air hujan memberikan banyak manfaat lain. Air hujan dapat mengurangi beban sistem penyediaan air minum, mengurangi limpasan permukaan penyebab banjir, meningkatkan cadangan air tanah, sekaligus memperkuat ketahanan kota terhadap kekeringan akibat perubahan iklim.
Kualitas air hujan di Balikpapan pada umumnya juga sangat baik dengan PH sekitar 7 artinya netral dan tidak asam sama sekali. Sedang TDS sangat rendah yaitu sekitar 15 mg/l sehingga kandungan logamnya pun juga rendah. Hal ini karena kota ini tidak memiliki tingkat pencemaran udara seberat kawasan industri padat atau megapolitan. Dengan sistem first flush (pembuangan air hujan pertama), penyaringan sederhana, serta desinfeksi menggunakan sinar UV atau perebusan, air hujan dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga, bahkan dapat dijadikan air minum setelah memenuhi persyaratan kesehatan.
Pengalaman di berbagai negara menunjukkan bahwa pemanenan air hujan bukanlah teknologi kuno. Australia, Jepang, Singapura, Jerman, hingga berbagai kota di Amerika Serikat justru kembali mengembangkan sistem rainwater harvesting sebagai bagian dari strategi adaptasi perubahan iklim dan ketahanan air perkotaan.
Balikpapan memiliki peluang yang jauh lebih besar. Curah hujan tinggi sepanjang tahun merupakan "bendungan alami" yang turun langsung ke setiap atap rumah. Sebagai ilustrasi, rumah di Balikpapan dengan luas atap 100 m² yang menerima curah hujan 3000 mm per tahun berpotensi memanen sekitar 300 m³ air, atau sekitar 300.000 liter per tahun. Jumlah tersebut cukup memenuhi sebagian besar kebutuhan air rumah tangga dengan 4-5 anggota keluarga sepanjang tahun.
Karena itu, sudah saatnya Pemerintah Kota Balikpapan menghidupkan kembali budaya memanen air hujan melalui kebijakan yang nyata. Setiap rumah baru, gedung pemerintah, sekolah, kampus, hotel, pusat perbelanjaan, hingga kawasan industri sebaiknya diwajibkan atau didorong memiliki sistem pemanenan air hujan. Edukasi kepada masyarakat juga perlu digalakkan agar air hujan tidak lagi dianggap sebagai air buangan, melainkan sebagai aset yang sangat berharga.
Perubahan iklim telah mengajarkan satu pelajaran penting: kota yang mampu bertahan bukanlah kota yang paling banyak memiliki sumber air, melainkan kota yang paling bijaksana mengelola setiap tetes air yang dimilikinya.
Balikpapan memiliki anugerah berupa hujan yang melimpah. Jangan biarkan jutaan meter kubik air hujan mengalir sia-sia ke laut. Kita dapat menghidupkan kembali kearifan lama dengan sentuhan teknologi murah dan sederhana salah satunya teknologi anak bangsa GAMA Rainfilter.
Menjadikan air hujan sebagai salah satu sumber air bersih bukan hanya menghormati warisan leluhur, tetapi juga merupakan investasi bagi ketahanan air generasi mendatang. (*)
Editor : Ismet Rifani