AKPY, BPDP, dan Ditjenbun Bikin Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit, Bekali Pekebun Ilmu Budidaya Sawit Terkini

Ajie Chandra • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 19:57 WIB

 

TAMBAH WAWASAN: Semangat regenerasi pengetahuan menjadi fokus Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang diikuti 298 pekebun Kabupaten Paser pada 2–7 Agustus 2026 di Balikpapan.
TAMBAH WAWASAN: Semangat regenerasi pengetahuan menjadi fokus Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang diikuti 298 pekebun Kabupaten Paser pada 2–7 Agustus 2026 di Balikpapan.

BALIKPAPAN- Meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman bertahun-tahun di lapangan. Di tengah perkembangan teknologi budidaya dan tuntutan perkebunan berkelanjutan, petani perlu terus memperbarui pengetahuan agar mampu mengelola kebun secara lebih produktif, efisien, dan sesuai kaidah Good Agricultural Practices (GAP).

Semangat regenerasi pengetahuan tersebut menjadi fokus Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang diikuti 298 pekebun Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, pada 2–7 Agustus 2026 di Balikpapan. Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 ini diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun).

Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi SP MP mengatakan, pelatihan dirancang untuk menjembatani pengalaman petani dengan perkembangan ilmu pengetahuan, hasil penelitian, dan teknologi budidaya terkini sehingga setiap keputusan di kebun didasarkan pada praktik yang terbukti efektif.

"Petani mungkin sudah bertahun-tahun mengelola kebun, tetapi pengalaman itu perlu dikorelasikan dengan data dan hasil penelitian. Dengan begitu petani memahami mengapa harus menggunakan benih unggul, bagaimana pemupukan yang benar, hingga pentingnya menjaga kesehatan tanah," ujarnya, Senin (3/8).

Selama tujuh hari pelatihan, peserta memperoleh materi dari akademisi dan praktisi mengenai penggunaan benih unggul, pemupukan berimbang, pemanfaatan pupuk organik, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), penggunaan pestisida secara bijak, pemeliharaan tanaman, hingga pelestarian serangga penyerbuk sebagai bagian dari ekosistem kebun.

Selain pembelajaran di kelas, peserta juga mengikuti praktik lapangan dan kunjungan ke perkebunan PT Astra Agro Lestari, yakni PT Waru Kaltim Plantation (WKP) dan PT Sukses Tani Nusasubur (STN). Melalui kegiatan tersebut, petani dapat melihat secara langsung bagaimana praktik GAP diterapkan di tingkat perusahaan, sehingga teori yang diperoleh selama pelatihan dapat dipahami dalam kondisi nyata di lapangan.

Menurut Idum, perpaduan antara pembelajaran di kelas dan pengalaman lapangan menjadi cara efektif mempercepat transfer pengetahuan kepada petani. Dengan memahami alasan ilmiah di balik setiap praktik budidaya, petani diharapkan mampu mengambil keputusan yang lebih tepat dan meningkatkan produktivitas tanpa harus membuka lahan baru.

"Tujuan akhirnya adalah kebun yang lebih produktif, biaya budidaya lebih efisien, dan hasil panen yang semakin baik," katanya.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Paser, Djoko Bawono, menilai pelatihan menjadi sarana penting untuk memperbarui pengetahuan petani. Menurutnya, pengalaman yang dimiliki pekebun perlu terus dilengkapi dengan teori dan praktik budidaya modern agar produktivitas kebun rakyat terus meningkat.

"Pengalaman petani tentu sudah luar biasa. Namun secara teori perlu terus ditambah agar apa yang dilakukan di lapangan benar-benar sesuai dengan kaidah budidaya yang baik," ujarnya.

Djoko berharap seluruh ilmu yang diperoleh selama pelatihan diterapkan di kebun masing-masing. Ia optimistis produktivitas kebun rakyat yang saat ini rata-rata masih di bawah 20 ton TBS per hektare per tahun dapat ditingkatkan hingga melampaui 30 ton per hektare per tahun melalui penerapan teknik budidaya yang benar.

Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit tahun ini dilaksanakan dalam 10 kelas dan menjadi lanjutan dari lima kelas pelatihan panen dan pascapanen yang sebelumnya telah diikuti pekebun Paser. Secara keseluruhan, sebanyak 556 pekebun memperoleh penguatan kompetensi melalui program yang didukung BPDP dan Ditjenbun.

AKPY berharap para peserta tidak hanya menerapkan ilmu yang diperoleh di kebun masing-masing, tetapi juga menjadi agen transfer pengetahuan bagi petani lain di wilayahnya. Dengan demikian, regenerasi pengetahuan tidak berhenti di ruang pelatihan, melainkan terus menyebar dan memperkuat daya saing perkebunan sawit rakyat.

"Petani yang hebat adalah petani yang selalu mau belajar karena dunia terus berkembang. Kami berharap peserta mampu menjadi petani sawit yang unggul, mandiri, profesional, dan berdaya saing," tutup Idum. (*)

Editor : Ismet Rifani
Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Idum Satia Santi sawit