BALIKPAPAN — Langkah strategis terus diambil Pemerintah Kota Balikpapan dalam menjaga stabilitas pasokan pangan dan mengendalikan laju inflasi daerah. Bertempat pada agenda High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Balikpapan, Selasa (11/8), Pemkot Balikpapan resmi menandatangani Kesepakatan Kerjasama Antar Daerah (KAD) bersama Pemerintah Kabupaten Bulukumba dan Kabupaten Karo.
Penandatanganan kerjasama tersebut dilakukan Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas’ud bersama Bupati Bulukumba, Andi Muchtar Ali Yusuf serta Bupati Karo, Antonius Ginting di Ruang Rapat Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan.
Rahmad Mas’ud, menyambut hangat kedatangan jajaran pemerintah dari Karo maupun Bulukumba. Ia menegaskan pentingnya kolaborasi ini mengingat kondisi geografis dan karakteristik lahan pertanian di Kalimantan Timur yang kurang subur. Sementara Kabupaten Karo memiliki posisi strategis karena dikenal sebagai salah satu sentra produksi hortikultura nasional. Daerah itu menghasilkan sejumlah komoditas seperti cabai, tomat, kentang, kubis, wortel, dan bawang. Sedangkan Kabupaten Bulukumba memiliki potensi pada sektor perikanan, peternakan, dan pertanian yang dinilai dapat mendukung kebutuhan pangan masyarakat Balikpapan.
"Hampir 95 persen komoditas pangan di Kalimantan Timur, khususnya Balikpapan, didatangkan dari luar daerah. Tingkat kesuburan tanah kita hanya berkisar 15 sentimeter dari permukaan. Namun, Kalimantan Timur diberi kelebihan sumber energi seperti minyak dan batu bara. Inilah bentuk saling melengkapi antarwilayah," ujar Rahmad.
Melalui kerja sama ini, kebutuhan pangan seperti produk hortikultura dari Kabupaten Karo serta komoditas perikanan, peternakan, dan pertanian dari Kabupaten Bulukumba diharapkan dapat terdistribusi secara lancar.
Rahmad optimistis kolaborasi ber payung hukum ini sanggup meredam gejolak harga pasar, terutama menjelang momen krusial seperti Ramadan, Idulfitri, dan akhir tahun. Sebelum ini, Balikpapan juga telah menjalin sinergi serupa dengan beberapa daerah di Sulawesi, Donggala, hingga Brebes.
Mendorong Kolaborasi Antar-Pelaku Usaha
Kepala Dinas Perdagangan Kota Balikpapan, Haemusri Umar, menjelaskan kesepakatan KAD ini akan ditindaklanjuti secara teknis oleh dinas terkait di masing-masing daerah. Ia menegaskan komitmennya untuk merangkul para pedagang serta pelaku usaha di pasar tradisional, pasar rakyat, hingga pasar modern.
"Fokus kita adalah penguatan pasokan hortikultura dan beras. Kami berharap para pelaku usaha dapat menyambut baik pasokan ini. Di sisi lain, kami juga memohon pertimbangan khusus dari rekan-rekan di Kabupaten Karo agar ongkos angkut atau biaya logistik dapat diminimalkan mengingat jarak yang cukup jauh dibanding Bulukumba," jelas Haemusri.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bulukumba Andi Alfian Mallihungang memberikan apresiasi tinggi atas terjalinnya kerja sama ini. Menurutnya, Bulukumba yang memiliki 23 ribu hektare lahan sawah, wilayah pesisir sepanjang 128 kilometer, serta sentra hortikultura dan perikanan, siap memenuhi berbagai kebutuhan pangan Kota Balikpapan.
"MoU ini menjadi payung hukum. Secara teknis nanti akan terus berkembang sesuai kebutuhan masyarakat. Pemerintah akan memfasilitasi pertemuan business-to-business (B2B) agar pengiriman beras, buah-buahan seperti alpukat dan nangka, hingga produk perikanan bisa berjalan mendetail," tutur Andi Alfian.
Untuk memastikan skema distribusi berjalan lancar di lapangan, pihak Pemkot Balikpapan telah mengandalkan offtaker lokal yang memiliki kesiapan infrastruktur pendukung. Pasokan dari Kabupaten Karo saat ini telah diserap oleh pelaku usaha lokal, Haji Ibrahim, yang ditopang fasilitas cold storage dan armada pendingin (CAS). Sedangkan untuk pasokan dari Bulukumba, Haji Martini juga akan disiapkan sebagai offtaker pendukung.
Dengan kesiapan rantai pasok dari hulunya hingga distributor di tingkat hilir, bahan pangan mentah dapat langsung disalurkan ke pasar-pasar rakyat maupun gelaran pasar murah. Sinergi ini diharapkan tidak hanya menguntungkan dari sisi bisnis, tetapi juga membawa dampak sosial positif bagi keterjangkauan harga pangan masyarakat Balikpapan. (*)
Editor : Ismet Rifani