KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Bamboe Wanadesa yang berbasis di Jalan Giri Rejo, Karang Joang, Balikpapan Utara, kini dipersiapkan untuk melangkah ke panggung internasional. Melalui program pendampingan bertajuk Akselerasi Ecoboo.
Program tersebut dilaksanakan oleh Tim Dosen dari Institut Teknologi Kalimantan (ITK), yaitu Eko Agung Syaputra, M.Ds., Muhammad Ikhsan Alif S., S.E., M.Sc., CPEC., CHCM., dan Ramadhan Paninggalih S.Si., M.Si., M.Sc.
Baca Juga: Swiss-Belhotel Balikpapan Tawarkan Paket Menarik
Program itu juga bekerja sama dengan Ketua KUPS Bambu Wanadesa, Murdiyanto serta para mahasiswa yang terlibat yaitu, Muhammad Rizky, Juniardika Atha Lelana, Reva Islami Budiman, Anastasya Husnul Syauira, Fasya Saffanah Ramadani, Faiza Nasywa Kamila, Muhammmad Zaini, Gian Al Haritz Ueldy Secondri, Davina Sahriyani, dan Anisabela.
Eko Agung Syaputra menjelaskan bahwa produk kerajinan bambu karya warga lokal ini ditargetkan mampu meningkatkan standar kualitas serta daya saingnya secara signifikan. Program yang didukung oleh pendanaan BIMA Kemdiktisaintek ini berfokus pada modernisasi alur produksi, pembenahan manajemen usaha, hingga penyiapan dokumentasi ekspor agar produk tidak sekadar menjadi suvenir wisata lokal.
“Selama ini, Bamboe Wanadesa lebih dikenal oleh masyarakat luas sebagai destinasi wisata edukatif dan tempat kegiatan outing class untuk belajar menganyam bambu di tengah kawasan hutan kota. Namun, di balik aktivitas edukasi tersebut, para perajin lokal sebenarnya telah membuktikan kapasitas teknis mereka dengan berhasil menyelesaikan pesanan ratusan tas bambu untuk skala nasional secara mandiri, tepat waktu, dan konsisten,” jelas Eko.
Baca Juga: BSSR Turunkan Tim Khusus, Sinergi dengan Polres Kukar untuk Cegah Karhutla
Menurutnya, pencapaian tersebut telah melampaui tahap pelatihan dasar dan menunjukkan koordinasi produksi yang solid, sekaligus membuka perspektif baru bahwa kesiapan teknis semata belum cukup untuk menembus rantai pasok global.
“Jadi berdasarkan analisis mendalam yang disusun tim ITK bersama mitra, terdapat tiga hambatan utama yang masih menahan produk bambu Bamboe Wanadesa dari kesiapan ekspor,” ungkapnya.
Pertama, dari segi produksi, proses pembuatannya masih bersifat craft-based atau dikerjakan secara manual dengan mengandalkan keterampilan individu tanpa standar operasional baku. Hal ini menyebabkan variasi ukuran, ketahanan, dan finishing produk masih tinggi antarunit.
“Padahal untuk pasar internasional, konsistensi mutu dan ketahanan produk selama distribusi jarak jauh menjadi syarat mutlak,” terangnya.
Baca Juga: Gerakan Nasional Forester Goes to School, Tanamkan Cinta Hutan Sejak Dini
Untuk mengatasi hal ini, porsi terbesar dari alokasi program difokuskan pada pengadaan teknologi tepat guna seperti mesin pembelah, mesin bubut bambu, alat pengamplas, hingga cairan pengawet nontoksik.
Kemudian hambatan kedua terletak pada manajemen usaha, di mana pencatatan biaya produksi belum terstruktur dengan rapi serta masih minimnya pemahaman perajin terkait alur dan dokumen pendukung ekspor.
Hambatan ketiga adalah aspek pemasaran, di mana kemasan produk belum memenuhi standar keamanan pengiriman internasional serta belum tersedianya media promosi berbasis digital berbahasa asing.
“Ketiga kendala ini saling berkaitan, karena produk yang berkualitas tinggi tetap akan sulit dilirik pembeli internasional tanpa adanya kepastian standar harga, kemasan yang aman, serta identitas merek yang kuat,” ujarnya.
Untuk menjawab tantangan multidimensi tersebut, program ini mengusung pendekatan kolaboratif lintas disiplin yang melibatkan akademisi dari bidang desain, bisnis, dan teknologi informasi, serta berkolaborasi langsung dengan pengurus KUPS Bamboe Wanadesa dan para mahasiswa.
Penerapan teknologi dan alat produksi baru tidak diletakkan sebagai sesi teori terpisah, melainkan langsung dipraktikkan dalam kegiatan produksi harian mitra agar pengetahuan baru dapat terserap secara optimal.
Selama delapan bulan masa pendampingan, program Akselerasi Ecoboo menargetkan sejumlah luaran konkret, mulai dari pembuatan prototipe produk bambu yang ramah lingkungan dan layak ekspor, penyusunan dokumen SOP produksi yang berkelanjutan, hingga pembangunan katalog digital serta sistem pencatatan usaha yang lebih profesional.
Inisiatif ini diharapkan tidak hanya mendorong kemandirian ekonomi masyarakat Karang Joang, tetapi juga menjadi model percontohan bagi kelompok usaha kerajinan berbasis sumber daya alam lainnya di Kaltim agar mampu mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai tambah tinggi di pasar dunia. (*)
Editor : Sukri Sikki