KALTIMPOST.ID, Pemantauan kesehatan keluarga di Desa Loa Lepu, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara, mulai diperkuat melalui pemanfaatan teknologi digital.
Program KB-GLOWING membekali kader Dasawisma Anggur dengan keterampilan mengukur kondisi kesehatan, mengenali risiko, mencatat data, hingga meneruskan temuan kepada bidan atau Polindes.
Program Pengabdian kepada Masyarakat BIMA 2026 tersebut dilaksanakan tim Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) yang diketuai Dr Pipit Feriani, S Kep, Ns, MARS dari Program Studi Keperawatan, bersama M Bachtiar Safrudin dari Program Studi Profesi Ners dan Hamada Zein dari Program Studi Bisnis Digital.
Ketua Tim pengabdian masyarakat UMKT, Pipit Feriani, mengatakan KB-GLOWING dirancang untuk memperkuat kapasitas kader Dasawisma, bukan hanya dalam pencatatan data kesehatan, tetapi juga dalam mengenali risiko dan memastikan informasi tersebut dapat segera diteruskan untuk ditindaklanjuti.
“KB-GLOWING kami hadirkan untuk memperkuat kapasitas kader Dasawisma, bukan hanya dalam pencatatan data kesehatan, tetapi juga dalam mengenali risiko dan memastikan informasi tersebut dapat segera diteruskan untuk ditindaklanjuti,” ujar Pipit.
Program ini berangkat dari kondisi pencatatan dan pelaporan kesehatan keluarga yang sebelumnya masih dilakukan secara manual dengan waktu pemrosesan sekitar 3–7 hari.
Dasawisma Anggur membina sekitar 540 keluarga, dengan 22 kasus stunting aktif pada kondisi awal.
Di sisi lain, keterampilan antropometri kader belum seragam dan tata kelola data masih perlu diperkuat.
"KB-GLOWING tidak hanya menghadirkan aplikasi digital. Para kader juga mendapatkan pelatihan antropometri, skrining hemoglobin, edukasi keluarga berencana dan konsep ‘4 Terlalu’, pencegahan anemia dan stunting, komunikasi keluarga, pencatatan digital, hingga penggunaan sistem peringatan risiko kesehatan," imbuhnya.
Antusiasme kader terlihat dari jumlah peserta pelatihan. Dari target 25 kader inti, kegiatan diikuti 36 kader atau mencapai 144 persen dari target.
Hasil evaluasi pengetahuan terhadap 33 kader menunjukkan rata-rata skor 19,18 dari 20 atau mencapai 95,9 persen.
Sementara itu, sebanyak 35 dari 36 kader atau 97,2 persen dinilai terampil dalam praktik skrining hemoglobin.
Proporsi yang sama juga dinilai terampil dalam melakukan pengukuran antropometri.
Program tersebut turut menghasilkan aplikasi dan dashboard KB-GLOWING, standar operasional prosedur (SOP) dan panduan, media edukasi keluarga berencana, anemia dan stunting, instrumen evaluasi, serta perangkat antropometri dan skrining.
Tahap selanjutnya diarahkan pada penggunaan aplikasi secara rutin, audit kualitas data, penguatan koordinasi antara kader dengan bidan atau Polindes, serta keberlanjutan pengelolaan sistem oleh kader lokal.
Melalui KB-GLOWING, Dasawisma diharapkan semakin siap menjadi simpul pemantauan kesehatan keluarga.
Dengan dukungan teknologi dan peningkatan kapasitas kader, informasi mengenai risiko kesehatan diharapkan tidak berhenti sebagai catatan, tetapi dapat lebih cepat diteruskan menjadi edukasi dan tindak lanjut bagi keluarga yang membutuhkan.
Editor : Hernawati