KALTIMPOST.ID, Ratusan warga mengikuti pawai kemerdekaan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia di kawasan Bayur, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim).
Kegiatan yang baru pertama kali digelar tersebut diikuti sebanyak 251 peserta dari berbagai elemen masyarakat.
Pawai tersebut digelar di tengah kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda yang meniadakan Pawai Pembangunan dalam rangkaian perayaan HUT ke-81 RI tahun 2026.
Kebijakan tersebut diambil sebagai bagian dari efisiensi anggaran.
Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Samarinda, Puang Dirham, mengatakan pihaknya turut berkolaborasi dalam kegiatan tersebut bersama masyarakat sekitar.
Sebanyak 100 petugas dan warga binaan Lapas Narkotika Samarinda ikut ambil bagian dalam pawai.
"Alhamdulillah kegiatan pada hari ini Lapas terlibat pawai kemerdekaan bersama masyarakat lingkungan sekitar. Sesuai dengan amanah Pak Dirjen Pemasyarakatan, pasti bermanfaat untuk masyarakat," kata Puang Dirham, Minggu (23/8).
Menurutnya, keterlibatan Lapas dalam kegiatan tersebut menjadi sarana untuk bersosialisasi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dalam pawai itu, Lapas juga membawa sejumlah hasil perkebunan warga binaan untuk dibagikan kepada masyarakat, khususnya lansia yang ditemui sepanjang perjalanan.
Selain itu, pihaknya membawa spanduk berisi imbauan kepada masyarakat agar menjauhi narkoba.
"Di belakang kita menyiapkan banner yang mengimbau kepada masyarakat jauhi narkoba. Kita pun sebagai Lapas Narkotika mengimbau kepada masyarakat untuk menjauhi narkoba dan menghindari hukuman pidana," ujarnya.
Puang Dirham menyebut total peserta pawai mencapai 251 orang.
Mereka berasal dari berbagai kelompok, mulai dari Lapas Narkotika Samarinda, perguruan pencak silat, drum band SD, RT 16, hingga kelompok kesenian seperti reog.
"Kalau dari Lapas 100. Jumlah dari peserta seluruhnya 251 orang," jelasnya.
Pawai tersebut mengambil titik awal dari Lapas Narkotika Kelas IIA Samarinda dan berakhir di kawasan Rumah Ulin Arya.
Kegiatan itu merupakan kolaborasi antara Lapas, pengelola Rumah Ulin Arya, serta masyarakat di sejumlah RT di kawasan Bayur.
Hal menarik dalam pawai tersebut yakni kehadiran sejumlah satwa yang dibawa keluar dari Rumah Ulin Arya.
Satwa-satwa tersebut sengaja dihadirkan agar masyarakat, khususnya anak-anak, dapat berinteraksi secara langsung.
Pengelola Rumah Ulin Arya, Sheila Achmad, mengatakan kegiatan tersebut mengusung konsep Desa Bayur dengan tujuan utama menghibur masyarakat.
"Jadi pawai kemerdekaan kita namakan Desa Bayur karena fokusnya memang menghibur warga-warga Bayur. Karena mungkin enggak semuanya pernah masuk Rumah Ulin, jadi satwanya kita bawa keluar," kata Sheila.
Beragam satwa yang dihadirkan antara lain kuda, burung parrot, burung kakatua, burung merak, burung enggang hingga sejumlah jenis ular.
Salah satu yang menarik perhatian warga yakni kuda yang didandani dengan pakaian bertema perjuangan.
"Yang menarik ada kuda pakai baju pejuang Jenderal Sudirman dan Pak Karno. Terus ada berbagai macam parrot, kakatua dari Brazil, kakatua Indonesia. Ada ular juga. Jadi kita bawa buat anak-anak bisa pegang-pegang. Intinya kita mau menghibur warga Bayur," ujarnya.
Sheila mengatakan kegiatan tersebut juga menjadi bentuk kolaborasi antara Rumah Ulin Arya, Lapas Narkotika Samarinda, RT, dan berbagai elemen masyarakat.
"Kita koordinasi juga kolaborasi dengan lapas karena di sini kan ada lapas, ada Rumah Ulin dan berbagai elemen masyarakat. RT-RT semua kita libatkan. Alhamdulillah hari ini ramai," tuturnya.
Antusiasme warga semakin terlihat karena pawai tersebut menjadi hiburan bagi masyarakat Bayur.
Kehadiran satwa yang biasanya hanya dapat dilihat di lokasi wisata Rumah Ulin Arya membuat warga, terutama anak-anak, antusias mengikuti kegiatan.
Editor : Hernawati