BALIKPAPAN — Penguatan pelayanan karantina di Kalimantan Timur kini tak lagi sekadar berbicara soal pemeriksaan dokumen dan fisik komoditas. Di tengah tuntutan perdagangan yang semakin cepat, Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BBKHIT) Kalimantan Timur mendorong layanan yang terintegrasi, terdigitalisasi dan mampu mendukung produk daerah bersaing di pasar global.
Hal itu mengemuka dalam Forum Konsultasi Publik terkait Standar Pelayanan Publik yang digelar BBKHIT Kalimantan Timur di Kantor Induk BBKHIT Kaltim, Balikpapan, Rabu (26/8).
Forum tersebut digelar untuk memastikan pelayanan publik berjalan transparan, efektif, efisien dan akuntabel. Selain menyosialisasikan standar pelayanan, kegiatan ini menjadi ruang bagi masyarakat dan pelaku usaha untuk menyampaikan masukan terhadap layanan karantina.
Forum turut menghadirkan Ombudsman dan akademisi dari Universitas Balikpapan (Uniba) sebagai bagian dari upaya mendapatkan perspektif eksternal dalam mengevaluasi dan meningkatkan kualitas pelayanan.
Kepala BBKHIT Kalimantan Timur, Arum Kusnila Dewi, mengatakan standar pelayanan publik tidak bisa bersifat statis. Perubahan jenis komoditas, karakter pengguna jasa, regulasi, teknologi hingga perkembangan logistik membuat standar layanan harus terus diperbarui.
“Standar layanan itu memang secara simultan dan terus-menerus harus dilakukan penyampaian dan pengembangan updating-nya,” kata Arum.
Menurutnya, masukan dari masyarakat dan pelaku usaha menjadi penting untuk memastikan pelayanan yang diberikan benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan.
Evaluasi dilakukan mulai dari jenis layanan, waktu pelayanan, pendampingan, pemeriksaan, sistem pembayaran hingga ketelusuran hasil pemeriksaan laboratorium.
“Kami harapkan masyarakat tidak lagi mengalami kesulitan dan akses-akses tersebut bisa mendapat informasi dan secara konsultasi bisa secara online maupun secara offline,” ujarnya.
Salah satu perubahan signifikan dalam pelayanan karantina adalah pemanfaatan sistem digital dan integrasi lintas instansi.
BBKHIT Kaltim telah masuk dalam ekosistem Single Submission (SSM) dan terhubung dengan Lembaga National Single Window (LNSW).
Integrasi tersebut memungkinkan pelaku usaha menyampaikan data melalui satu pintu. Data tersebut kemudian dapat terbaca oleh kementerian dan lembaga terkait dalam ekosistem pelayanan yang sama.
“Artinya tidak perlu lagi para pelaku usaha itu ke sana kemari untuk melakukan penyampaian data,” jelas Arum.
Menurutnya, digitalisasi juga terus dikembangkan untuk mendukung pemeriksaan, pembayaran, pendampingan, pemenuhan persyaratan serta ketelusuran hasil layanan.
Perubahan ini menjadi penting bagi pelaku usaha yang berhadapan dengan tuntutan waktu, terutama komoditas yang memiliki tujuan ekspor dan membutuhkan kepastian proses.
BBKHIT Kaltim juga mengubah pendekatan pelayanan dengan memperkuat pendampingan sebelum komoditas dikirim.
Petugas melakukan pengecekan fasilitas dan tempat pelaku usaha sebelum keberangkatan. Untuk komoditas hewan, ikan dan tumbuhan, dilakukan penilaian terhadap instalasi guna memastikan persyaratan teknis dan administratif telah terpenuhi.
Termasuk memastikan persyaratan negara tujuan ekspor sudah dipenuhi sebelum produk bergerak. Pola ini membuat proses pemeriksaan di titik pelayanan menjadi lebih singkat.
Di balik pembenahan layanan tersebut, Kaltim menyimpan potensi komoditas yang besar.
Kelapa sawit menjadi salah satu kekuatan utama. Bukan hanya minyak sawit, tetapi juga produk turunannya seperti Palm Kernel Expander (PKE) yang dapat digunakan sebagai bahan baku pakan ternak.
Potensi lainnya berada pada sektor kakao. Produk kakao berkualitas dari Kaltim disebut telah memiliki pasar internasional, termasuk negara-negara Eropa seperti Swiss, Belgia, Belanda dan Prancis.
Distribusi produk tersebut bahkan telah memanfaatkan jalur udara dan jasa ekspedisi internasional.
Sektor perikanan juga memiliki peluang besar. Udang beku, ikan segar, kepiting, kerang hingga berbagai jenis ikan air tawar menjadi komoditas yang dapat terus dikembangkan.
Begitu pula sarang burung walet yang telah memiliki pasar ekspor. Sementara di sektor kehutanan, kayu dan produk olahannya tetap menjadi bagian dari potensi ekonomi yang harus dikelola secara berkelanjutan.
“Potensi ini memang sudah berjalan. Selain itu juga sarang burung walet yang memang bahan baku untuk ekspor,” kata Arum. Besarnya potensi ekspor tersebut membuat fungsi karantina menjadi semakin strategis.
Arum menegaskan karantina tidak hanya berperan dalam memperlancar arus perdagangan, tetapi juga menjadi garda perlindungan terhadap sumber daya hayati dan keamanan komoditas.
“Proteksi di kita adalah memberikan pelayanan yang optimal dan melakukan proteksi terhadap cegah masuk dan keluarnya penyakit dari hewan, ikan, dan tumbuhan,” tegasnya.
Pengawasan juga mencakup keamanan dan mutu pangan serta pakan.
Artinya, kecepatan pelayanan tidak boleh mengorbankan aspek kesehatan, keamanan dan kualitas produk. Justru keduanya harus berjalan beriringan agar produk Kaltim memiliki daya saing sekaligus memenuhi persyaratan pasar tujuan.
Menurut Arum, pengembangan komoditas ekspor Kaltim membutuhkan kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, pelaku usaha, instansi teknis, lembaga pembiayaan hingga pihak yang bergerak di bidang promosi.
Promosi menjadi penting agar produk daerah tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi mampu berkembang menjadi produk bernilai tambah dan memiliki pasar yang lebih luas.
“Artinya kita juga harus melakukan kolaboratif bersama-sama dan promosi dari pemerintah daerah maupun dari pihak atau dinas atau pendanaan dan promosi seperti BI dan seterusnya,” ujarnya.
Di sisi lain, pengembangan komoditas harus tetap memperhatikan keberlanjutan. Sawit, perikanan, sarang burung walet hingga hasil kehutanan merupakan bagian dari sumber daya alam hayati yang harus dijaga agar dapat terus memberikan manfaat ekonomi dalam jangka panjang.
Forum Konsultasi Publik ini akhirnya menempatkan pelayanan karantina dalam perspektif yang lebih luas. Bukan sekadar urusan administrasi sebelum barang dikirim, melainkan bagian dari rantai perdagangan yang menentukan keamanan, mutu, kelancaran distribusi dan daya saing produk Kaltim di pasar global.
Dengan layanan yang semakin terintegrasi, pendampingan sejak awal, digitalisasi dan keterlibatan masyarakat dalam evaluasi, BBKHIT Kaltim ingin memastikan satu hal: produk Kaltim bisa bergerak lebih cepat, tetapi tetap aman, bermutu dan memenuhi standar. (*)
Editor : Ismet Rifani