BALIKPAPAN – Yayasan Patra Dharma Mandiri Balikpapan (YPDM) terus bergerak cepat dalam membenahi dan meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah-sekolah yang bernaung di bawahnya. Langkah konkret ini diwujudkan lewat gelaran workshop bertema "Pengembangan & Inovasi Pendidikan Menuju Sekolah Patra Dharma yang Unggul" di Grand Jatra Hotel Balikpapan, Sabtu (29/8).
Acara yang berlangsung dari pukul 07.30 hingga 14.45 WITA ini menghadirkan tiga pakar sekaligus dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Mereka adalah Prof. Dr. Ir. Aulia Siti Aisjah MT dari Departemen Teknik Fisika, serta Prof. Dr. Ir. Lailatul Qadariyah ST MT IPM dan Prof. Dr. Eng. Widiyastuti ST MT dari Departemen Teknik Kimia.
Hadir pula memberikan dukungan penuh, Kasi SMA dan PKLK Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I Kaltim, Rr. Atisatya Prabhata Dewi SST. Serta hadir pula sebagai peserta, Pengawas SMA Patra Dharma dari Dinas Pendidikan Rina Nupriana, MPd dan Pengawas YPDM drg.Achyar yang hadir menutup acara.
Kepala SMA Patra Dharma Balikpapan, Sukarto SPd mengungkapkan bahwa agenda ini merupakan tindak lanjut dari kerja sama strategis antara YPDM dan ITS. Meskipun YPDM menaungi tujuh sekolah mulai dari jenjang TK hingga SMA, fokus kemitraan ini difokuskan untuk pengembangan SMA Patra Dharma.
Menariknya, kolaborasi ini tak sekadar membuka jalan bagi para siswa untuk tembus ke ITS, melainkan juga menyentuh aspek pembelajaran harian hingga pengembangan kapasitas tenaga pengajar.
"Tahun ini ada lima anak didik kami yang berhasil masuk ITS. Ke depan kita harapkan bisa lebih banyak lagi karena pembelajarannya sudah kita selaraskan," ujar Sukarto.
Tak berhenti di situ, YPDM juga mendorong para guru untuk terus belajar. Sukarto menegaskan bahwa guru-guru diberikan ruang dan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan S2 di ITS.
"Peningkatan SDM itu variabel utama untuk kemajuan lembaga pendidikan, yang ujung-ujungnya berbanding lurus dengan kesejahteraan. Makanya workshop upgrade kompetensi seperti ini harus rutin dilakukan," tambahnya. Workshop ini sendiri diikuti oleh 85 peserta, di mana 40 di antaranya merupakan guru SMA dan sisanya perwakilan guru TK, SD, hingga SMP.
Apresiasi tinggi datang dari Kasi SMA dan PKLK Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I Kaltim, Rr. Atisatya Prabhata Dewi. Menurutnya, komitmen YPDM dalam memfasilitasi para guru untuk melek teknologi dan adaptif terhadap perubahan patut diacungi jempol.
"Yayasan ini sungguh luar biasa, tidak menutup mata dan memberi ruang yang sangat luas bagi para guru untuk berkembang. Di era sekarang, guru SMA Patra Dharma dituntut bergerak cepat mengikuti arus teknologi," ungkap Atisatya.
Ia membeberkan bahwa dalam dua tahun terakhir, SMA Patra Dharma menunjukkan lompatan performa yang signifikan, mulai dari lonjakan jumlah siswa hingga kesiapan para guru merespons kebijakan anyar pemerintah, seperti deep learning atau pembelajaran mendalam.
"SMA Patra Dharma ini termasuk sekolah yang sangat produktif mengadakan IHT (In-House Training) maupun workshop. Tidak cuma untuk guru, tapi juga pendampingan siswa seperti persiapan TKA (Tes Kemampuan Akademik) hingga kegiatan kokurikuler yang saling bersinergi," terangnya.
GURU JANGAN TAKUT BERUBAH
Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Aulia Siti Aisjah menyoroti tantangan nyata para guru saat ini dalam mengajar Generasi Alpha. Menurutnya, persoalan utama yang kerap muncul adalah digital health atau literasi kesehatan digital—bagaimana mengarahkan siswa agar bijak memilah informasi di internet.
Guna mengatasi hambatan belajar, Prof. Aulia menyarankan penerapan hybrid learning dengan memanfaatkan platform digital atau Learning Management System (LMS) milik sekolah. Melalui platform ini, guru bisa memandu siswa secara terstruktur dalam mengakses materi.
"Poin utamanya, guru jangan takut untuk melakukan perubahan sekecil apa pun di kelas," tegas Prof. Aulia.
Ia merinci dua metode interaktif yang bisa diterapkan, yakni Case-Based Learning (pembelajaran berbasis kasus) dan Project-Based Learning (pembelajaran berbasis proyek). Lewat metode ini serta tradisi Penelitian Tindakan Kelas (PTK), guru bisa terus berefleksi dan menyempurnakan cara mengajarnya dari semester ke semester.
"Jika sejak SMA siswa sudah terbiasa mandiri, berpikir kritis, dan pandai mengelola waktu, mereka akan sangat siap saat masuk perguruan tinggi. Bagi kami di ITS, ini kondisi yang sangat ideal karena tidak perlu lagi mengadakan matrikulasi atau cara belajar dasar, tinggal melanjutkan ke tahap berikutnya," tutupnya. (*)
Editor : Ismet Rifani