Balikpapan Siaga Karhutla, Kasus Melonjak 65 Kejadian, Perkuat Mitigasi hingga Tingkat RT 

Maria Irham • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 19:36 WIB
KOMPAK: Satgas Penyuluh Bencana Karhutla Mabes TNI bersama Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud usai melakukan pertemuan di Balikpapan, Rabu (2/9). 
KOMPAK: Satgas Penyuluh Bencana Karhutla Mabes TNI bersama Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud usai melakukan pertemuan di Balikpapan, Rabu (2/9). 

BALIKPAPAN — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Balikpapan menunjukkan tren peningkatan yang signifikan memasuki bulan September 2026. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Balikpapan hingga 6 September 2026, tercatat sebanyak 65 kejadian kebakaran lahan telah melanda berbagai titik di wilayah Balikpapan.

Kepala BPBD Balikpapan, Usman Ali, mengungkapkan puluhan kejadian tersebut tersebar hampir di seluruh kecamatan, meliputi Balikpapan Utara, Selatan, Timur, Tengah, hingga Balikpapan Barat. Dari keseluruhan insiden yang tercatat, total luas area yang terbakar diperkirakan telah mencapai 35,8 hektare atau sekitar 358.456 meter persegi.

Berdasarkan rincian data TRC Pusdalops BPBD Kota Balikpapan, Kecamatan Balikpapan Timur menjadi wilayah dengan jumlah kejadian kebakaran lahan tertinggi, yaitu sebanyak 20 kejadian. Sebaran titik api mendominasi Kelurahan Manggar dengan 13 kejadian, disusul Lamaru 5 kejadian, serta Manggar Baru dan Teritip masing-masing satu kejadian.

Kecamatan Balikpapan Utara menyusul di urutan kedua dengan 19 kejadian, meliputi Graha Indah (9 kejadian), Karang Joang (8 kejadian di beberapa titik), serta Batu Ampar (1 kejadian). Sementara itu, Balikpapan Selatan mencatat 15 kejadian yang tersebar di Sepinggan (8 kejadian), Sepinggan Baru (3 kejadian), serta Sepinggan Raya, Damai Baru, Gunung Bahagia, dan Sungai Nangka masing-masing satu kejadian.

Adapun Balikpapan Tengah mencatat enam kejadian (lima di Gunung Sari Ulu dan satu di Sumber Rejo), sedangkan Balikpapan Barat mencatat lima kejadian yang seluruhnya terkonsentrasi di kawasan Kariangau.

Secara grafik bulanan, lonjakan tajam mulai terlihat sejak memasuki paruh kedua tahun ini. Setelah hanya mencatat dua kejadian pada Januari, satu kejadian pada April, satu

pada Juni, dan tiga kejadian pada Juli, angka kebakaran melonjak drastis menjadi 40 kejadian sepanjang Agustus, dan berlanjut 18 kejadian hanya dalam kurun enam hari pertama di bulan September.

EDUKASI DAN MITIGASI BERBASIS KOMUNITAS

Melihat kondisi lahan yang kian mengering, BPBD Balikpapan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan penuh. Warga diminta menghindari aktivitas pembakaran lahan maupun sampah yang berpotensi memicu timbulnya titik api secara meluas.

Guna menekan angka kejadian, Pemerintah Kota Balikpapan mengerahkan aparatur hingga tingkat kelurahan dan RT. Personel BPBD pun terus disiagakan untuk menghadapi potensi meningkatnya karhutla serta menggandeng tim Kelurahan Tangguh Bencana (Katana) untuk mengintensifkan sosialisasi pencegahan karhutla.

Upaya ini diperkuat dengan penerjunan Satuan Tugas (Satgas) Penyuluh Bencana Karhutla dari Mabes TNI dan Perwira Siswa Sesko TNI Dikreg 56. Tim gabungan ini turun langsung memberikan penyuluhan kepada lembaga-lembaga kelurahan dan masyarakat di Balikpapan yang telah dimulai sejak akhir Agustus 2026.

PENYULUHAN CEGAH KARHUTLA: Tim gabungan Mabes TNI dan Perwira Siswa Sesko TNI Dikreg 56 saat memberikan penyuluhan kepada anggota Katana dan masyarakat di Kelurahan Gunung Sari Ulu, Kamis (3/9). 
PENYULUHAN CEGAH KARHUTLA: Tim gabungan Mabes TNI dan Perwira Siswa Sesko TNI Dikreg 56 saat memberikan penyuluhan kepada anggota Katana dan masyarakat di Kelurahan Gunung Sari Ulu, Kamis (3/9). 

Perwira Siswa Sesko TNI 56, Kolonel Inf dr. Akhmad Juni Toa, menekankan pentingnya pendekatan mitigasi yang dimulai dari lingkup terkecil atau komunitas. Menurutnya, pencegahan dini jauh lebih efektif dibanding penanganan saat bencana sudah terjadi.

"Pentingnya pencegahan dari level rumah tangga, seperti orang tua yang mengingatkan anaknya untuk tidak membuang putung rokok sembarangan atau membakar sampah. Ketika antar-tetangga sudah saling mengingatkan, struktur pencegahan bencana berbasis komunitas mulai terbentuk," jelas Kolonel Akhmad Juni, saat ditemui usai kegiatan penyuluhan, Kamis (3/9).

Ia menambahkan, pendekatan edukasi ini nantinya juga disasar ke sekolah-sekolah (SD, SMP, SMA) agar kesadaran mitigasi bencana tumbuh merata di setiap tingkatan masyarakat. Langkah darurat yang melibatkan 13 personel gabungan (terdiri dari tingkat kolonel hingga jenderal) ini merupakan bagian dari instruksi Presiden dan Panglima TNI melalui program Kuliah Kerja Dalam Negeri (KKDN) yang diterjunkan serentak di seluruh daerah rawan termasuk sepuluh kabupaten/kota di Kalimantan Timur.

Dukungan juga datang dari tim lapangan di tingkat lokal. Ketua Katana Gunung Sari Ulu (GSU), Handa Ivan Humardhani, menyampaikan bahwa pihaknya menyambut baik sosialisasi dari Mabes TNI dan berkomitmen meneruskannya ke warga.

"Kami memiliki agenda rutin sosialisasi kesiapsiagaan bencana yang nantinya akan berlanjut di 41 RT. Yang sudah berjalan ada 5 RT, dan berikutnya akan kami selingi dengan penyuluhan kewaspadaan karhutla keseluruh RT," tutur Handa. Ia menambahkan bahwa Katana GSU telah mendirikan posko gabungan pencegahan dan penanganan karhutla, mengingat sempat terjadi kebakaran lahan di wilayah RT 6 pada 25 Agustus lalu yang kini masih dalam proses investigasi.

OPERASI MODIFIKASI CUACA

Selain tindakan mitigasi di darat, muncul pula pertanyaan masyarakat terkait opsi pemadaman atau pencegahan dari udara melalui pembuatan hujan buatan. Menganggapi hal tersebut, Siswa Sesko TNI Dikreg 56, Kolonel Pnb Dedy Supriyanto, memberikan penjelasan mengenai teknis dan tantangan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Kolonel Dodik menjelaskan bahwa operasi OMC sebenarnya telah sempat dilaksanakan di Balikpapan sekitar dua minggu lalu, bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggunakan bahan semai garam (NaCl) berbutir sangat halus. Operasi tersebut berhasil menurunkan hujan di beberapa wilayah seperti Kutai Barat hingga area IKN.

Namun, keberhasilan hujan buatan sangat bergantung pada keberadaan awan potensial di atmosfer.

"Modifikasi cuaca tidak semudah itu, alam harus memberikan kontribusi berupa ketersediaan awan. Dari pantauan satelit BMKG dalam 2-3 minggu terakhir, potensi pertumbuhan awan di sekitar Balikpapan tergolong sangat kecil. Karena itu, pesawat sementara ditarik ke home base sambil terus memantau perkembangan cuaca," terang Kolonel Dodik usai penyuluhan, Kamis (3/9).

Ia menggambarkan bahwa mekanisme penyemaian dilakukan dengan memantau citra satelit terlebih dahulu untuk mendeteksi posisi awan. Setelah dipastikan secara visual oleh tim di udara, bahan semai ditaburkan mengelilingi atau memasuki awan melalui pintu pesawat khusus. Reaksi pembentukan hujan biasanya memakan waktu 1 hingga 2 jam tergantung kondisi angin.

Meski hujan buatan tidak bisa diarahkan secara presisi ke titik api yang spesifik, keberadaannya sangat krusial untuk menjaga pasokan air di waduk-waduk penampungan PDAM di tengah musim kering. Pemerintah memastikan operasi modifikasi cuaca akan segera dilanjutkan kembali begitu pemantauan BMKG menunjukkan adanya peningkatan potensi awan yang cukup di langit Kalimantan Timur. (*)

Editor : Ismet Rifani
siaga karhutla rahmad mas'ud Usman Ali bpbd balikpapan