BALIKPAPAN- Tiga mahasiswa Program Studi Informatika Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM) Universitas Mulia menguji kemampuan teknis mereka dalam situasi yang tidak memberi banyak ruang untuk menunda. Selama 24 jam tanpa henti, mereka merancang, membangun, menguji, dan mempresentasikan solusi teknologi untuk persoalan kesehatan hingga akhirnya meraih Juara 2 Hackathon Infinite DevFest yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Kalimantan (ITK).
Ketiganya adalah Muhammad Zhein Fajar Satriatama, Rudolf Prasetia, dan Mirza Er-Rasyid Nurmawan, mahasiswa Informatika semester 3. Dalam tim, Zhein menangani pengembangan mobile app dan frontend, Rudolf berperan sebagai lead developer yang mengerjakan backend serta integrasi AI, sedangkan Mirza bertanggung jawab pada UI/UX dan frontend.
Hackathon tersebut diikuti oleh peserta dari berbagai perguruan tinggi di Kalimantan Timur dengan tantangan bertema Health Tech. Alih-alih sekadar mengejar penyelesaian aplikasi dalam batas waktu, ketiganya memilih persoalan yang memiliki konsekuensi nyata: keterlambatan respons ketika seseorang mengalami insiden jatuh.
Dari persoalan tersebut lahir FallCare Sentinel dan Sentinel Notification, sebuah solusi berbasis web dan mobile yang dirancang untuk mendeteksi insiden jatuh dan mengirimkan notifikasi darurat.
“Fokus kami membuat sistem yang solutif, fungsional, langsung dites, dan arsitekturnya siap implementasi,” demikian konsep yang mereka bangun selama kompetisi.
Gagasan tersebut berangkat dari risiko yang dapat muncul ketika seseorang jatuh dan tidak segera mendapatkan pertolongan. Kondisi ini menjadi semakin krusial ketika korban berada dalam keadaan tidak sadar atau tidak memiliki orang lain di sekitar yang dapat segera merespons.
Karena itu, tim tidak berhenti pada persoalan bagaimana mendeteksi kejadian jatuh. Sistem juga dirancang agar informasi mengenai insiden tersebut dapat segera diteruskan melalui mekanisme notifikasi darurat.
Proses pengembangan berlangsung dalam kondisi yang jauh dari ideal. Kompetisi menuntut tim menyelesaikan solusi dalam waktu 24 jam, sehingga setiap keputusan teknis harus dibuat dengan mempertimbangkan waktu yang terus berjalan.
“Bagian paling menantang ada di jam-jam subuh, sekitar jam 3 sampai 5 pagi, saat otak sudah lelah, tetapi integrasi backend dan tampilan antarmuka masih ada bug dan waktu submit tinggal hitungan jam,” ungkap mereka.
Sejak awal kompetisi, ketiganya langsung mengunci pembagian pekerjaan. Pengembangan core system, antarmuka, hingga komponen lainnya dikerjakan secara paralel. Agar setiap bagian tetap terhubung, mereka melakukan sinkronisasi singkat setiap beberapa jam.
“Setiap beberapa jam kami melakukan sync-up singkat lima menit supaya progresnya sinkron tanpa mengganggu fokus ngoding,” jelas tim.
Salah satu momen penting justru muncul ketika tim menemukan persoalan pada mekanisme notifikasi yang mereka gunakan. Implementasi menggunakan Pushover membuat notifikasi yang dikirim terasa lambat dan kurang responsif.
Dalam kompetisi dengan batas waktu yang ketat, persoalan tersebut bisa menjadi alasan untuk mempertahankan solusi yang ada karena keterbatasan waktu. Namun, tim memilih mengambil keputusan teknis yang lebih berisiko: membangun aplikasi mobile sendiriuntuk mengatasi persoalan notifikasi tersebut.
Keputusan itu memperlihatkan karakter pengembangan yang mereka usung sejak awal. Bagi tim, aplikasi bukan sekadar harus selesai, tetapi harus mampu menjalankan fungsi utama yang ditawarkan.
Hasil akhirnya kemudian mereka bawa ke hadapan juri. Menurut ketiganya, salah satu faktor yang membuat solusi mereka mendapatkan apresiasi adalah keterhubungan fitur-fitur yang dibangun dengan tema Health Tech serta kemampuan tim menjelaskan solusi tersebut dalam sesi presentasi.
Bagi mahasiswa semester 3, pengalaman tersebut tidak hanya menghasilkan sebuah trofi. Kompetisi menjadi ruang untuk menguji sejauh mana pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah dapat digunakan ketika berhadapan dengan persoalan teknis yang berubah secara cepat.
Mereka menyebut dasar logika pemrograman, kemampuan memecahkan masalah, serta kebiasaan mengeksplorasi teknologi baru yang diperoleh selama belajar di FIKOM Universitas Mulia sangat membantu ketika menghadapi error dan kebutuhan teknis yang tidak terduga.
Namun, kemampuan teknis bukan satu-satunya hal yang berkembang. Dalam 24 jam tersebut, mereka belajar mengelola tekanan dan waktu, bekerja dengan sistem time-boxed development, menjaga koordinasi tim dalam kondisi kelelahan, serta menerjemahkan solusi teknis yang kompleks menjadi presentasi yang mudah dipahami juri.
Ketika nama tim mereka diumumkan sebagai Juara 2, respons yang muncul bukan sekadar kegembiraan.
“Kaget campur lega banget. Capek 24 jam nggak tidur terbayar langsung pas nama tim kami disebut,” ujar mereka.
Bagi mahasiswa semester 3, pengalaman tersebut tidak hanya menghasilkan sebuah trofi. Kompetisi menjadi ruang untuk menguji sejauh mana pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah dapat digunakan ketika berhadapan dengan persoalan teknis yang berubah secara cepat.
Mereka menyebut dasar logika pemrograman, kemampuan memecahkan masalah, serta kebiasaan mengeksplorasi teknologi baru yang diperoleh selama belajar di FIKOM Universitas Mulia sangat membantu ketika menghadapi error dan kebutuhan teknis yang tidak terduga.
Namun, kemampuan teknis bukan satu-satunya hal yang berkembang. Dalam 24 jam tersebut, mereka belajar mengelola tekanan dan waktu, bekerja dengan sistem time-boxed development, menjaga koordinasi tim dalam kondisi kelelahan, serta menerjemahkan solusi teknis yang kompleks menjadi presentasi yang mudah dipahami juri.
Ketika nama tim mereka diumumkan sebagai Juara 2, respons yang muncul bukan sekadar kegembiraan.
“Kaget campur lega banget. Capek 24 jam nggak tidur terbayar langsung pas nama tim kami disebut,” ujar mereka. (*)
Editor : Ismet Rifani