BALIKPAPAN- Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Mulia (UM) menempatkan ketercapaian kompetensi mahasiswa sebagai prioritas utama dalam pelaksanaan perkuliahan semester ganjil 2026/2027. Pergeseran orientasi ini menempatkan keberhasilan pembelajaran bukan semata pada terlaksananya perkuliahan, melainkan pada kemampuan mahasiswa menerapkan pengetahuan untuk menghasilkan karya dan menyelesaikan persoalan nyata.
Arah tersebut menjadi salah satu fokus dalam rapat dosen FIKOM UM sebagai bagian dari persiapan perkuliahan semester ganjil 2026/2027 yang dimulai pada Senin (7/9/2026).
Dekan FIKOM UM menegaskan bahwa evaluasi pembelajaran perlu melihat lebih jauh daripada sekadar memastikan seluruh perkuliahan berjalan sesuai jadwal.
“Evaluasi utama FIKOM bukan hanya apakah perkuliahan sudah berjalan, tetapi apakah perkuliahan tersebut sudah menghasilkan kompetensi mahasiswa sesuai target,” ujarnya.
Karena itu, FIKOM akan memperkuat keterhubungan antara Rencana Pembelajaran Semester (RPS), proses pembelajaran, asesmen, dan capaian mahasiswa. Setiap mata kuliah diharapkan memiliki alur yang jelas antara Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), materi, aktivitas pembelajaran, hingga metode asesmen.
Pendekatan tersebut diarahkan agar capaian pembelajaran tidak berhenti sebagai dokumen perencanaan, tetapi dapat terlihat melalui kemampuan yang ditunjukkan mahasiswa selama proses perkuliahan.
Perubahan teknologi, khususnya perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI), menjadi salah satu alasan FIKOM memperkuat pembelajaran yang lebih aktif dan aplikatif.
Menurut Dekan FIKOM UM, perubahan teknologi membuat pembelajaran tidak cukup hanya berorientasi pada penyampaian materi. Mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk menggunakan pengetahuan dan teknologi dalam menghadapi persoalan nyata.
Untuk itu, pembelajaran semester ini didorong semakin banyak menggunakan project, problem solving, studi kasus, dan praktik. Mahasiswa tidak hanya diminta memahami konsep, tetapi juga menghasilkan sesuatu yang dapat menunjukkan kompetensinya.
“Yang harus kita pastikan adalah mahasiswa memiliki kompetensi untuk menggunakan pengetahuan dan teknologi tersebut dalam menyelesaikan persoalan nyata,” jelasnya.
Pendekatan ini sekaligus memberi ruang bagi mahasiswa untuk membangun portofolio selama menempuh pendidikan. Karya, proyek, maupun solusi yang dihasilkan dari perkuliahan diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari penilaian akademik, tetapi juga dapat menunjukkan kemampuan mahasiswa ketika memasuki dunia kerja.
AI BUKAN PENGGANTI KEMAMPUAN BERPIKIR
Dalam penerapan AI, FIKOM UM tidak mengambil pendekatan dengan melarang mahasiswa menggunakan teknologi tersebut. Sebaliknya, mahasiswa diarahkan untuk mengenal, memahami, dan memanfaatkan AI secara produktif serta etis.
Namun, pemanfaatan teknologi tersebut tetap harus berjalan bersama kemampuan fundamental yang menjadi dasar kompetensi mahasiswa.
Critical thinking, kreativitas, analisis, problem solving, komunikasi, dan etika tetap menjadi kemampuan yang harus diperkuat.
“AI menjadi tool, bukan pengganti kemampuan berpikir mahasiswa,” tegasnya.
Dengan pendekatan tersebut, pemanfaatan AI dalam pembelajaran tidak diarahkan sekadar untuk mempercepat penyelesaian tugas. Mahasiswa justru dituntut memahami persoalan, menentukan pendekatan, mengolah informasi, mengevaluasi hasil, serta mempertanggungjawabkan karya yang dihasilkan.
Selain pembenahan proses pembelajaran di dalam kelas, FIKOM UM juga melihat pentingnya memperkuat keterhubungan pendidikan dengan kebutuhan industri.
Upaya tersebut dapat dilakukan melalui penggunaan studi kasus yang bersumber dari persoalan dunia kerja, pemanfaatan tools yang digunakan industri, keterlibatan praktisi sebagai narasumber, sertifikasi kompetensi, program magang, hingga pengembangan portofolio mahasiswa.
Dengan demikian, kompetensi yang dibangun melalui perkuliahan tidak berdiri sendiri, tetapi memiliki relevansi dengan perkembangan profesi dan kebutuhan dunia kerja.
“Ukuran keberhasilan kita semester ini bukan sekadar berapa banyak materi yang sudah disampaikan dosen, tetapi apa yang mampu dikerjakan mahasiswa setelah mengikuti pembelajaran dan seberapa relevan kemampuan tersebut dengan kebutuhan dunia kerja,” ujarnya.
Bagi FIKOM UM, perubahan orientasi pembelajaran tersebut menjadi prioritas karena perkembangan teknologi berlangsung lebih cepat daripada sebelumnya. Pendidikan, karena itu, perlu memastikan mahasiswa tidak hanya mengikuti perubahan, tetapi memiliki kemampuan untuk menggunakannya secara kritis dan produktif.
Dekan FIKOM UM berharap peningkatan kualitas pembelajaran pada semester ganjil 2026/2027 dapat terlihat secara nyata dibandingkan semester sebelumnya. Perubahan tersebut tidak hanya diukur melalui nilai, tetapi juga melalui kemampuan, karya, kreativitas, problem solving, dan kesiapan mahasiswa menghadapi dunia industri.
“Kalau semester sebelumnya kita sudah berusaha memastikan proses pembelajaran berjalan, maka semester ini saya ingin kita memastikan outcome-nya semakin terlihat dan terukur,” katanya.
Ia menekankan bahwa setiap mata kuliah perlu memberikan kontribusi yang jelas terhadap peningkatan kompetensi mahasiswa. Dengan begitu, proses pembelajaran memiliki hubungan yang dapat ditelusuri mulai dari target kompetensi, aktivitas belajar, asesmen, hingga hasil yang diperoleh mahasiswa.
“Jangan hanya memastikan mahasiswa belajar, tetapi pastikan mereka benar-benar menjadi lebih kompeten setelah belajar,” pungkasnya. (UM/mra/ms)
Editor : Ismet Rifani