KKN PLP FKIP Unmul Kenalkan Permainan Tradisional Bakiak, Latih Motorik dan Kerja Sama Anak

Akbar Sopianto • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 19:33 WIB
KENALKAN: Farah Nazwa Pragista (almameter kuning) foto bersama usai mengenalkan permainan tradisional bakiak di TK Islam Terpadu Insan Cita Madani.
KENALKAN: Farah Nazwa Pragista (almameter kuning) foto bersama usai mengenalkan permainan tradisional bakiak di TK Islam Terpadu Insan Cita Madani.

KALTIMPOST.ID, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mulawarman (Unmul) menggelar program berdampak melalui KKN Pengenalan Lingkungan Persekolahan (PLP) di TK Islam Terpadu Insan Cita Madani, Perumahan Puspita, Kelurahan Bengkuring, Kamis (10/9).

Kegiatan tersebut mengangkat tema pengenalan permainan tradisional bakia sebagai media pembelajaran yang bertujuan mengembangkan kemampuan motorik kasar anak sekaligus menanamkan nilai kerja sama, komunikasi, keseimbangan, hingga kemampuan bersosialisasi sejak usia dini.

Penanggung Jawab KKN PLP FKIP Unmul, Farah Nazhwa Pragista, mengatakan permainan bakiak dipilih karena sederhana, menyenangkan, dan mampu melatih anak untuk bekerja sama dalam kelompok.

“Tujuan utama kegiatan ini adalah mengembangkan kemampuan motorik kasar anak sekaligus melatih kerja sama. Selain itu juga melatih keseimbangan, koordinasi gerak, dan kemampuan bersosialisasi,” ujarnya.

Menurut Farah, permainan dilakukan dengan membagi anak ke dalam kelompok yang masing-masing berisi tiga orang.

Setiap kelompok berdiri di atas sepasang bakiak dan berjalan menuju garis akhir sambil mengikuti aba-aba agar langkah tetap seimbang.

“Kebetulan kami hanya menyediakan tiga pasang bakia, jadi anak-anak bermain secara bergantian. Mereka harus saling berkomunikasi supaya langkahnya kompak dan tidak terjatuh,” jelasnya.

Para murid jatuh bangun menjajal permaninan bakiak.
Para murid jatuh bangun menjajal permaninan bakiak.

Ia berharap pengalaman tersebut tidak hanya menjadi aktivitas bermain semata, tetapi juga menjadi upaya melestarikan permainan tradisional yang mulai ditinggalkan.

“Harapannya anak memperoleh pengalaman bermain yang menyenangkan. Permainan tradisional juga penting dikenalkan sejak dini sebagai bagian dari pelestarian budaya sekaligus alternatif kegiatan di luar rumah, jadi anak tidak hanya bermain HP,” katanya.

Baca Juga: Sudaryono Dicap Nirempati, Unggah Video Lucu MBG di Kala Kasus Keracunan Marak

Kepala TK Islam Terpadu Insan Cita Madani, Dian Anggraini, S.Pd., menyambut baik kolaborasi yang telah terjalin bersama Unmul. 

Menurutnya, kehadiran mahasiswa PLP sangat membantu guru, khususnya saat masa penerimaan peserta didik baru ketika anak-anak masih dalam tahap beradaptasi dengan lingkungan sekolah.

“Kami merasa terbantu karena kapasitas guru kami belum banyak. Dengan hadirnya mahasiswa, pekerjaan guru menjadi lebih ringan sekaligus mereka juga belajar menghadapi kondisi nyata di sekolah,” tuturnya.

Dian menilai pengalaman langsung di lapangan jauh lebih penting dibandingkan hanya mempelajari teori di bangku kuliah.

Sebab, menjadi guru PAUD tidak hanya mengajar, tetapi juga mengelola kelas, administrasi, hingga berkomunikasi dengan orang tua murid.

“Karakter anak dimulai sejak usia dini. Mereka harus belajar mengelola kelas, mengelola anak, administrasi, sampai mengelola komunikasi dengan orang tua. Kalau jiwanya memang di dunia PAUD, insyaallah mereka akan menjadi guru yang hebat,” ujarnya.

Ia juga berharap ke depan pelaksanaan PLP dapat dilakukan dalam waktu yang lebih panjang agar mahasiswa memperoleh pengalaman yang lebih utuh, terutama saat melakukan observasi terhadap anak berkebutuhan khusus.

“Kalau hanya satu atau dua jam menurut saya kurang efektif. Mengamati perkembangan anak, apalagi anak istimewa, tidak bisa langsung disimpulkan dalam waktu singkat. Perlu satu atau dua hari bahkan lebih supaya benar-benar memahami kondisi anak,” katanya.

Saat ini, TK Islam Terpadu Insan Cita Madani memiliki 63 peserta didik dan dalam tiga tahun terakhir jumlah siswa terus mengalami peningkatan. 

Sementara itu, Guru TK Islam Terpadu Insan Cita Madani, Devi Lisayani, S.Pd., mengatakan kerja sama dengan Unmul telah berjalan selama kurang lebih tiga tahun dan memberikan manfaat bagi sekolah maupun mahasiswa.

Menurutnya, mahasiswa hadir bukan untuk langsung mengajar, melainkan belajar memahami dunia pendidikan anak usia dini secara nyata.

“Saya selalu sampaikan kepada mereka, datang ke sini bukan untuk mengajar, tetapi untuk belajar. Teori sudah didapat di kampus, sekarang waktunya praktik. Praktik jauh lebih sulit daripada teori,” ucapnya.

Setiap pekan, Devi juga melakukan evaluasi terhadap mahasiswa untuk mengetahui kendala yang mereka hadapi selama mendampingi anak-anak di sekolah.

Ia turut menekankan pentingnya kedisiplinan, terutama mengurangi penggunaan telepon genggam saat berada di kelas.

“Kalau sudah masuk kelas, HP ditaruh. Yang kita hadapi anak-anak. Mereka butuh perhatian penuh karena sekali saja kita lengah, bisa saja langsung terjadi hal yang tidak diinginkan. Pembelajaran mereka justru ada di dalam kelas itu sendiri,” tegasnya.

Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari orang tua murid. Salah satunya Ida Susanti, orang tua siswi kelas B1, yang menilai kehadiran mahasiswa Unmul memberikan dampak positif bagi lingkungan sekolah.

“Sangat bermanfaat dan sangat membantu sekali untuk lingkungan sekolah,” katanya.

Ia juga mengapresiasi tema permainan tradisional bakiak yang dinilai mampu mengenalkan kembali permainan warisan budaya kepada anak-anak yang kini lebih akrab dengan gawai.

“Permainan ini sangat bagus dan menarik. Zaman sekarang anak-anak sudah jarang mengenalnya. Dulu waktu saya kecil masih sempat memainkan, sekarang hampir tidak ada lagi. Semoga bisa dijadikan agenda rutin supaya generasi penerus tetap mengenal permainan tradisional,” ujarnya.

Ida berharap mahasiswa FKIP Unmul terus menghadirkan program-program yang memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dunia pendidikan anak usia dini.

“Teruslah berkarya demi kebaikan diri sendiri, masyarakat, dan negara. Apapun kegiatan yang membawa dampak positif bagi anak-anak, kami sebagai wali murid tentu akan mendukung,” pungkasnya.

Sebagai informasi, adapun program KKN PLP ini diinisiasi oleh sejumlah mahasiswa di antaranya Hanum Chailan Salsabila, Muthiatul Aulia Hidayah dan Dila Ramayani.

Editor : Hernawati
bakiak permainan tradisional bakiak UNMUL FKIP Unmul